Membuka Tirai Kebenaran

Kampung Korban Longsor Yang Di Tinggal Pergi Seluruh Penduduk, Ini Kisah Penghuni Terakhir Dusun Mati

3 min read

Kisah Penghuni Terakhir Dusun Mati, Kampung yang Ditinggal Seluruh Penduduknya karena Longsor

Kisah Penghuni Terakhir Dusun Mati, Kampung yang Ditinggal Seluruh Penduduknya karena Longsor
Tribun Jateng/ Khoirul MuzakkiJalan setapak menuju rumah Kahad terpotong sungai hingga membuat rumah itu terisolasi, di lereng gunung Mandala, Desa Majatengah Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. 

LintasIndoNews.com, Banjarnegara — Siapa mau tinggal menyendiri di kebun atau hutan yang jauh dari pemukiman.

Membayangkan saja sudah tak mengenakkan.

Ruang sosialisasi yang jadi kebutuhan dasar makhluk sosial pun tak ada. Hanya sunyi yang selalu menyapa.

Belum lagi, gangguan satwa liar yang setiap waktu bisa mengancam.

Tetapi siapa sangka, ada saja warga yang lebih memilih tinggal terasing dari pemukiman.

Di lereng gunung Mandala, Desa Majatengah Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sebuah rumah kayu berdiri di tengah hutan atau perkebunan warga.

Di sana, Kahad dan tiga anggota keluarganya bertinggal.

Dari sisi mana pun, rumah itu langsung berhadapan dengan pepohonan dan kebun yang rimbun tanaman salak.

Sepi tentu. Keluarga itu tak punya tetangga yang bisa diajak bercengkerama.

Terlebih saat malam. Hening kian mencekam.

Jika pun ada kebisingan, itulah nyanyian Tonggeret. 

Tonggeret adalah serangga kecil penghunipohon.

Atau jangkrik yang mengerik di balik tanah.

Riak air di hulu sungai Kacangan sedikit memecah lengang.

Pun tak ada jalur akses menuju rumah itu, kecuali jalan setapak yang terpotong sungai Kacangan.

Medan itu pun sulit dijangkau kendaraan.

Dalam kondisi demikian, Kahad dan keluarganya nyatanya nyaman tinggal bertahun-tahun.

Kahad mulanya tak sendiri. Puluhan tahun lalu, sebelum tahun 1996, ia ditemani sekitar 40 an keluarga yang mendiami tempat sama. Tersebutlah Dusun Kalitengah yang kini tinggal cerita. Di situ, lahir tatanan masyarakat normalnya dusun di tempat lain.

Tetapi, takdir tak bisa direka. Riwayat dusun itu harus berakhir karena bencana. Longsor hebat melanda. Rumah-rumah penduduk terancam, termasuk keselamatan jiwa penghuninya.

Singkat cerita, warga harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Untung mereka masih ada pilihan untuk melanjutkan hidup di tempat lain.

Sebelum bencana lebih besar datang, warga memutuskan hengkang. Sejak saat itu, dusun Kalitengah, resmi ditinggalkan penduduknya. Mereka menciptakan lingkungan baru di dusun baru, dengan lembaran hidup yang baru.

“Terjadi longsor tahun 1996, lalu warga dusun itu dipindah semua,”kata Sarno, Kepala Desa Majatengah Kecamatan Banjarmangu

Tetapi tidak dengan Kahad. Ia memutuskan tetap bertahan di dusun yang menyimpan banyak cerita tentang hidupnya. Ancaman longsor yang bisa menghancurkan tempat tinggalnya sewaktu-waktu, tak meruntuhkan pendiriannya.

Berbagai saran agar dia pindah tak mempan. Entah, alasan apa yang membuat Kahad memutuskan bertahan di tanah terancam.

Padahal keputusannya membawa banyak konsekuensi. Ia dan keluarganya harus rela tinggal sendiri. Jaringan listrik susah. Lingkungannya sudah benar-benar berubah, semenjak penduduknya berpindah. Nyatanya, keluarga satu-satunya itu tetap betah.

“Karena di sana kan masih ada kerbaunya, kambingnya,”katanya.

Bertahun-tahun kemudian tak ada bencana besar. Tetapi bukan berarti keluarga itu terbebas dari ancaman. Longsor masih terus mengintai.

Terutama saat musim penghujan, tanah kembali merayap.

Lahan sekitar rumah sudah banyak yang lenyap. Ribuan tanaman salak hancur karena longsor.

Yang paling mengerikan, sempat muncul kobaran api dari lubang retakan, sekitar 20 meter di bawah rumah Kahad, Desember 2018 lalu. Tetapi fenomena alam itu pun belum membuat pendiriannya berubah.

Warga melintasi jalan setapak bawah rumah Kahad yang terancam di Banjarnegara. Jalan setapak menuju rumah satu-satunya di dusun itu sempat retak dan menyemburkan kobaran api diduga dari gas alam, beberapa waktu lalu.
Warga melintasi jalan setapak bawah rumah Kahad yang terancam di Banjarnegara. Jalan setapak menuju rumah satu-satunya di dusun itu sempat retak dan menyemburkan kobaran api diduga dari gas alam, beberapa waktu lalu. (Tribun Jateng/Khoirul Muzakki)

Ia masih bertahan meski marabahaya mengintai. Sementara pergerakan tanah semakin meluas. Ancaman itu semakin ganas. Lahan terdampak terus bertambah.

Rumah itu sudah mendesak direlokasi. Tetapi siapa yang mampu membujuk penghuninya. Suatu hari, sejumlah petinggi kecamatan, mulai Camat, Kapolsek, hingga Danramil sampai harus turun tangan.

Melalui pendekatan yang halus, penghuniterakhir dusun itu akhirnya luluh.

“Pas longsor, kami, Camat, Kapolsek, Danramil ke sana semua. Disarankan harus pindah tempat, akhirnya mau,” katanya.

Kahad dan keluarganya akhirnya bersedia direlokasi dan meninggalkan tempat tinggalnya. Petugas dan relawan akhirnya membongkar rumah kayunya.

Rumah terakhir di dusun itu dipindah ke lahan yang lebih aman. Keluarga itu akhirnya menempati rumah di lahan baru dekat balai desa.

Setelah bertahan lama, penghuni terakhir dusun itu ikut hengkang. Rumah terakhir telah diangkat dari tanah yang terus mengancam.

Kini, dusun itu benar-benar mati ditinggalkan seluruh penghuninya. Tak ada lagi kehidupan yang menyertai.

Kahad akhirnya mengalah, atau memang pendiriannya kalah. Ia yang tak pernah mengawali, harus menutup riwayat dusunnya lebih cepat, dari yang mungkin ia bayangkan. 

sumber: Tribun Jateng/Khoirul Muzakki

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.