Membuka Tirai Kebenaran

Ada Pancasila Dalam Budaya Kenduri Indonesia

3 min read
Wachid Pratomo, M.Pd
Dosen Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa Yogyakarta.

OPINI, Pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa, pribadi bangsaku…..Tentu kita masih ingat petikan lagu nasional tersebut. Ya….. Garuda Pancasila demikian Sudharnoto memberi judul lagu tersebut yang kemudian di dedikasikan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Akhir- akhir ini banyak gonjang ganjing yang melanda Indonesia, salah satunya tentang niat segelintir orang untuk mengubah dasar negara Pancasila menjadi dasar keagamaan. Dalam pemikiran beberapa orang Pancasila tidak relevan dengan agama serta local wisdom Indonesia saat ini sehingga harus di upgrade menjadi ideologi baru.

Padahal jika kita belajar dari lembaran sejarah Pancasila sudah selaras dengan nilai agama apapun serta budaya lokal manapun. Namun uniknya setelah 73 tahun kita sepakati baru diributkan karena keberadaannya yang menabrak sektor Agama dan Budaya Bangsa.

Pancasila dari segi Agama sudah banyak dikaji oleh Para Cendekiawan, yang menyimpulkan sila Pancasila merupakan implementasi dari ajaran Agama di Indonesia ini. Jadi apa yang diributkan sudah terjawab dan tidak berdasar bahwa Pancasila tidak seiring sejalan dengan ajaran agama. Perkembangan selanjutnya Pancasila dilihat dari segi kebudayaan lokal sangat selaras, Pancasila merupakan common denominator yaitu penyebut yang sama dalam segala perbedaan yang ada.

Artinya Pancasila menjadi penyatu perbedaan yang ada, dengan Pancasila maka perbedaan tersebut dapat disatukan dalam sebuah bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbicara Pancasila dengan local wisdom memang seperti mengurai benang kusut, ada saja yang pro dan kontra keberadaannya.

Namun mari kita analogikan Pancasila dan kebudayaan lokal agar mudah dipahami. Pancasila itu ibarat orang mengadakan acara “Tumpengan/Kenduri”, ya tumpengan/kenduri semua pasti pernah mengadakan acara tumpengan/kenduren. Tumpengan sejatinya pengimplementasian nilai Pancasila dari segi budaya.

Kita mulai dari sila pertama “ Ketuhanan Yang Maha Esa” , tumpeng berwujud kerucut semakin keatas semakin meruncing ujungnya melambangkan semua agama menuju pada satu Tuhan yang satu atau esa. Agama Islam mempunyai ‘Allah SWT’, agama Kristen dan Katholik memiliki ‘ Allah”. Hindu dengan “Sang Hyang Widhi”, sedangkan agama Budha menyembah “ Sidharta Gautama”. Agama Konghucu meyakini “Tian” sebagai Tuhannya. Sehingga konsep berTuhan tetap satu bagi semua agama yang ada.

Beranjak ke sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” , dalam konsep ini yang datang ke acara tumpengan adalah semuanya manusia yang beradab karena datang dengan sikap, busana serta perilaku yang menandakan seorang manusia beradab jasmani dan rohaninya demi memuliakan yang mengundang. Konsep sila ketiga ‘ Persatuan Indonesia” dapat dilihat dari tamu yang diundang, semua yang diundang dapat dipastikan memiliki hubungan baik satu dengan yang lain karena logikanya tidak mungkin datang jika bermusuhan satu dengan lainnya.

Sehingga sampai dikonsep sila ketiga ini terwujudlah persatuan indonesia karena adanya kerukunan antar warga masyarakatnya. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, konsep sila ini identik dengan demokrasi, pemimpin dan perwakilan.

Maka konsep yang didapat yaitu dalam acara tumpengan dapat dilihat hanya ada satu yang memimpin doa yaitu ketua kampung atau orang yang dituakan tidak mungkin semua memimpin doa, dari sini dapat dijelaskan konsep kerakyatan dan pemimpin dapat berjalan dengan baik. Sila terakhir yaitu kelima “ Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Kesejahteraan bagi semua warga negara begitu jika dijabarkan secara mudahnya.

Tumpengan tentu sudah merespon hal ini, dibuktikan bagi yang diundang atau yang datang pasti kenyang menyantap hidangan sedang bagi yang dirumah juga mendapat sejahtera. Bagaimana tidak sejahtera, jika pulang tentu masih dibawakan “berkat” atau buah tangan dari tuan rumah.

Dengan demikian yang datang kenyang menyantap makanan yang dirumah juga sejahtera menerima buah tangan.
Begitulah konsep penjabaran Pancasila menurut versi local wisdom yang ada dimasyarakat kita yaitu “Tumpengan/Kenduri”.

Semoga pandang tersebut dapat membuka pikiran kita ternyata tidak ada yang salah dengan Pancasila kita baik dari segi agama maupun kebudayaan lokal yang ada. Pancasila mengajarkan kita bertuhan, memanusiakan manusia, bersatu, mematuhi pemimpin agar kita dapat memperoleh “berkat” untuk dibawa pulang serta diceritakan anak cucu kita nanti. Berpancasila itu semudah melakukan tumpengan, lakukanlah agar mendapat “berkat” dikemudian hari.(**)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.