Membuka Tirai Kebenaran

Antara Seni dan Kehidupan

4 min read

 

 

 

 

Lintasindonews.com, OPINI – Korelasi antara usia (daerah) dengan “kematangan” budaya-berbudaya yang dalam hal ini mengenai salah satu unsurnya, yaitu kesenian. Akan tetapi, fokus persoalan adalah bukan pada semata-mata pada hal ini. Ada persoalan yang lebih “nyangkut”, lebih kepada persoalan identitas budaya kedaerahan. Hal ini mungkin tidak hanya terjadi di kita tapi juga di daerah-daerah lain.

Namun stereotip yang beredar di masyarakat awam kita adalah bahwa kebudayaan itu ya kesenian saja atau sebaliknya. Selama kesenian itu adalah salah satu unsur kebudayaan, hal ini tidak terlalu salah. Menurut Koentjaraningrat (2003), 7 unsur kebudayaan adalah bahasa; sistem pengetahuan; organisasi sosial; sistem peralatan hidup dan teknologi; sistem mata pencaharian hidup; sistem religi; dan kesenian termasuk di dalamnya. Sedangkan kesenian itu biasanya menampilkan corak yang kontras dalam kebudayaan tertentu sehingga jelas bahwa kesenian itu bisa sangat “mewakili” dan menjadi identitas salah satu kebudayaan tertentu. Selain daripada itu, wujud kebudayaan yang terdiri nilai budaya; sistem budaya; sistem sosial; dan kebudayaan fisik (Koentjaraningrat, 2003), di mana kebudayaan fisik (benda hasil karya manusia) adalah hal yang paling menonjol karena sifatnya yang fisik dapat dilihat atau dinikmati.

Mengulas kembali ke topik awal, jelaslah bahwa kesenian itu penting bagi bangunan kebudayaan itu sendiri. Sedangkan, ada tidaknya suatu ikon jadi persoalan tertentu dalam konstelasi pembangunan (kebudayaan) suatu daerah karena hal ini terkait dengan image (citra) maupun identitas kewilayahan. Identitas merupakan hal penting karena menjadi nilai diferensiasi (pembeda) sebagaimana meningkatnya citra suatu daerah yang positif dari terbentuknya suatu karakter wilayah. Karakter yang menjadikannya ruh dalam pembangunan, baik daerah maupun manusianya.

Jika berbicara seni berarti persoalan kebudayaan. Maka, persoalannya bukan lagi ketiadaanya sebuah ikon seni. Melainkan ini boleh dikatakan hanya sebuah dampak dari kemelorotan terhadap upaya menjaga kokohnya salah satu pilar pembangunan. Ya, pembangunan ekonomi juga baiknya diimbangi dengan pembangunan kebudayaan secara meluas yang sampai pada ranah kesenian agar pembangunan itu tidak kehilangan ruhnya dan berdampak positif pada setiap lini kehidupan. Karena kesenian adalah milik rakyat di mana di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan yang dianut dan dibagikan secara kolektif komunal. Oleh karena itu, salah satunya dengan melalui kesenianlah suatu daerah bersama manusianya mampu menumbuhkan karakter terhadap pembangunan itu sendiri.

Untuk itu kita harus menciptakan dan mengelola iklim berkesenian yang positif. Hal ini juga mesti didukung sekuat tenaga oleh pemerintah dan pemimpinnya sebagai pemegang otorita wilayah yang bukan hanya melulu fokus pada pembangunan ekonomi. Pramoedya Ananta Toer dalam “Panggil Aku Kartini Saja” (2003 : 101) mengungkapkan :

“Kecintaan pada rakyat selamanya dibuktikan pula dari kecintaannya pada seninya. Aksioma ini berlaku sepanjang sejarah manusia. Pernyataan-pernyataan cinta rakyat tanpa bukti cintanya pada seninya tidak lain daripada hipokrisi yang kasar.”

Gamblang sudah apa yang di bicarakan topik ini, bahwa pemerintah dan pemimpinnya tidak dapat dilepaskan dari tanggungjawab terhadap persoalan-persoalan kesenian-kebudayaan.

Kemudian bagaimana persoalan lain yang muncul adalah ketika timbul pertanyaan ” Mana yang akan kita jadikan ikon?”. Ini bukan saja masalah menentukan yang mana yang akan kita jadikan ikon. Persoalan-persoalan yang bergulir lebih kepada persoalan di hulu daripada di hilir. Menentukan ikon akan lebih mudah jika ada sumberdayanya. Sumberdaya yang diunggulkan, populer, dan berkelanjutan. Di sisi lain juga ada masalah keterwakilan yang ditampilkan oleh ikon itu. Akan tetapi, itu hanyalah persoalan kesepakatan bersama.

Selanjutnya bisa di katakan menjadi persoalan-persoalan di hulu, adalah persoalan-persoalan semacam sistem budaya yang berlaku termasuk di dalamnya kesadaran dalam berkebudayaan, kebijakan sosial-ekonomi-politik, globalisasi dan lain sebagainya. Memang hal ini terlalu kompleks untuk dijabarkan secara detail. Kita ambil saja beberapa contoh mengenai persoalan-persoalan yang sedikit mendasar. Salah satunya adalah komersialisasi budaya yang ini menyangkut pola-pola tindakan dalam menyikapi cara berkesenian. Meskipun hal ini tak melulu negatif, akan tetapi para fundamentalis budaya menganggap inilah faktor penyebab hilangnya nilai dan popularitas dari kesenian, terutama seni pertunjukan tradisi. Pola yang di’main’kan adalah ketika seni itu hanya dipertontonkan ketika ada yang “nanggap” (memberi upah) lalu menjadi seperti komoditi dagang. Maka ketika popularitasnya menurun karena tidak ada yang “nanggap”, maka kesenian itu akan pudar tergantikan oleh kesenian-kesenian lain yang lebih populer. Kasarnya, kesenian ada karena uang dan hidup hanya untuk uang. Belum lagi mereka harus melawan kesenian-kesenian yang muncul di era post-modern dan kontemporer yang popularitasnya lebih menonjol. Ini hanyalah salah satu contoh, banyak lagi masalah-masalah kompleks dalam mempertahankan kesenian tradisi ini. Lalu kesenian-kesenian itu hilang tersisihkan zaman. Kalaupun ingin ditangisi, silahkan!

Endingnya kita menyadari akan kekurangan dalam kebudayaan dengan indikasi adanya kesulitan dalam memilih ikon kesenian itu tadi. Setelahnya, yang patut kita lakukan adalah negosiasi kebudayaan. Artinya, setiap unsur terlibat yang seharusnya memperbaiki, menyesuaikan dengan kondisi, situasi dan “tren” berkebudayaan yang sedang bergulir. Negosiasi kebudayaan, selain dalam pola berkesenian, juga berlaku bagi keseniannya itu sendiri. Mempertahankan seni tradisi juga kadang kala kita terjebak dalam romantisme yang absurd, sedangkan kebudayaan itu sendiri bersifat dinamis. Maka, jika sampai tak ada lagi seni tradisi yang bisa mewakili, mampukah kita sampai pada proses kebudayaan discovery dan invention, menemukan unsur kebudayaan baru, dalam hal ini kesenian yang kemudian akan diakui, diterima, diterapkan dan terbagikan nilai-nilainya secara kolektif? Coba lihat disekitar kita!

Topik ini dapat kita simpulkan pemilihan ikon ini hanya persoalan “keberanian” dalam memilih, tentunya dengan proses yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan kesepakatan kolektif. Tentunya, dengan terlebih dahulu menyiasati persoalan-persoalan lebih makro yang berada di hulu.

Harapan kami dengan ulasan ini, bisa jadi bahan renungan untuk kita bersama, bahwa seni tak lepas dari budaya serta kehidupan masyarakat luas, bahkan negara sebut saja Amerika seni bisa menjadi sumber devisa yang cukup besar.

Salam Redaksi

Penulis : Rian

Dari berbagai sumber

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.