Membuka Tirai Kebenaran

Bahan Bangunan Paving Blok Dari Plastik, Lihat Hasilnya Bikin Takjub

2 min read
Hendro Wibowo memegang paving blok berbahan baku sampah plastik non ekonomis, Minggu (31/3/209).

LintasIndoNews.com | Kreatif – Sampah plastikkini menjadi momok menakutkan bagi lingkungan. Sampah ini kerap berserakan lantaran penangan yang kurang tepat. Indonesia bahkan didapuk sebagai negara nomor dua penyumbang sampah plastik di lautan.

Namun, lain di tangan Hendro Wibowo, warga Perumnas Blok L, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang. Ia mengubah sampah plastik nonekonomis, menjadi paving blok yang tak hanya sebagai hasil inovasi, melainkan juga benilai ekonomis.

“Bahan bakunya menggunakan limbah atau sampah plastik nonekonomis, yang dicampur dengan limbah sterefoam dan pasir,” kata Hendro ditemui di Saung KSM, Minggu (31/3/2019).

Selain dari sisi ekonomis, inovasi ini juga menjadi cara jitu “menyingkirkan” sampah plastik yang sukar diatasi.

Hendro sendiri sudah bergelut dengan sampah sejak 2010 lalu. Ia melihat selama ini penanganan sampah baru sebatas artifisial. Artinya, penanganannya baru sebatas pengorganisasian masyarakat.

Meski demikian, Hendro menyebut pengorganisasian masyarakat untuk penanganan sampah bagus untuk program jangka pendek. Hanya saja, penyelesaian tersebut baru bisa mengangani sekian persen dari total sampah yang dihasilkan.

Pembuatan paving blok dari sampah plastik, kata Hendro, sudah mulai menggaung sejak 2008. Namun ia melihal hal itu sebagai potensi yang bisa dikembangkan.

“Contoh misalnya ini, ada lubang biopori. Ini untuk resapan air,” katanya.

Proses pembuatan

Langkah pertama pembuatan paving blok ini ialah mencacah sampah plastik nonekonomis dan sterefoam. Satu buah paving blok membutuhkan lima sampai tujuh kilogram sampah plastik

Setelah alat pelebur dipanaskan, kemudian keduanya dilebur dan dicampur dengan pasir dengan komposisi 30:20:60 pada suhu 100 hingga 150 derajat celsius, selama 30-45 menit.

Pasir berfungsi sebagai pemberat, agar saat terendam air tidak mengambang. Setelah melebur kemudian dimasukan ke dalam cetakan.

Hendro menyebut ia terus menyempurnakan alat proses, dan teknologi pembuatan. Sebab, saat ini masih terdapat masalah pada aspek pembakaran, sebab masih menghasilkan asap yang cukup banyak.

Ke depan ia akan berusaha menyempurnakan teknologi melalui inovasi pembuatan paving blok tersebut, misalnya dengan proses mekanik.

“Kita sekarang mencoba bagaimana kemudian kita bisa buat menjadi mekanik,” katanya.

Paving blok dari plastik dinilai lebih kuat dan lentur sesuai dengan massa jenis plastik. Produk ini dinilai lebih awat dari paving blok biasa lantaran tidak terkikis air. Daya tekan ditaksir bisa mencapai 20 hingga 30 ton.

“Kemarin (sampel) diambil Pupuk Kujang, mereka mau bantu untuk tes daya tekan,” katanya.

Harapan

Hendro berharap paving blok ini bisa diproduksi massal, khususnya di Karawang. Sebab, dengan sentuhan teknologi tepat guna, paving ini bakal menurunkan beban pemakaian plastik.

Apalagi, menurutnya, persoalan sampah plastik tidak cukup hanya dengan pemberdayaan masyarakat.

“Sampah harus ada intervensi teknologi untuk dia bisa dihabiskan,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, paving ini cukup menjanjikan. Satu paving blok bisa dijual dengan harga Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per blok.

Apalagi jika diproduksi secara masal, ini bisa mengkaryakan masyarakat dan mengangkat perekonomiannya.

Sumber: kompas.com

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.