Membuka Tirai Kebenaran

Banjir Bandang Landa Konut, Koalisi Kapinta Sultra Sentil Dinas ESDM Dan Penambang Liar

2 min read
Asrul Rahmani Koordinator Kapinta Sultra

Lintasindonews.com | Konawe Utara — Bencana banjir yang menerjang puluhan rumah warga di Kabupaten Konawe Utara (Konut) di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), disinyalir akibat ulah para penambang nickel di beberapa titik lokasi wilayah Konut.

Koalisi Aktivis Pemerhati Lingkungan dan Pertambangan Sulawesi Tenggara (Kapitan Sultra) Asrul Rahmani, menilai seluruh kawasan hutan sudah kehilangan fungsi ekologis, sehingga musibah banjir yang terjadi didaerah Konawe Utara bukan merupakan karena faktor alam semata.

Tetapi menurut Asrul melainkan akibat campur tangan manusia, berupa pemberian izin-izin pertambangan yang tidak terkontrol, bahkan tidak melihat rujukan dari tata ruang wilayah Kabupaten Konawe Utara dan juga tata ruang Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Akibatnya, luapan sungai yang menenggelamkan sejumlah desa terletak di tiga kecamatan di Konut. Ini akibat dari tidak mampunya Sungai Lasolo dan sungai-sungai lainnya menampung debit air kiriman dari sejumlah anak sungai,” tutur Asrul Rahmani, Minggu (9/6/19) kepada LintasIndoNews.com.

Lanjut dia, aktivitas pengerusakan lingkungan, hutan dan tanah di daerah sekitar Izin Usaha Pertambangan (IUP), terbilang cukup parah. Karena tidak adanya ruang vegetasi tanpa adanya upaya reboisasi bekas lahan pertambangan terbuka, sehingga mengakibatkan hutan menjadi gundul dan lingkungan tercemar serta menyebabkan erosi.

” Seyogyanya perusahaan pertambangan melakukan penghijauan hutan dengan melaksanakan kegiatan reklamasi terhadap lahan bekas galian tambang. Sebab ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab bagi setiap pemilik IUP, ” Jelas Koordinator Kapitan Sultra ini.

Asrul pun menjelaskan, banjir yang melanda Kabupaten Konawe Utara merupakan potret carut-marutnya aktivitas pertambangan yang tidak terkontrol, dan tanpa memperhatikan analisis dampak lingkungan.

“Disinyalir banyak pemilik IUP, melakukan kegiatan pertambangan tidak sesuai regulasi yang telah ditetapkan pemerintah dan terkesan hanya mengedepankan keuntungan semata, tanpa melihat dampak yang ditinggalkan. Bahkan aktivitasnya tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan banyaknya Joint Operasional (JO) melalui kontraktor mining, yang tidak memperhatikan project area lahan yang akan dikelolah,” terang Asrul lagi.

Dampak inilah banjir bandang di Kabupaten Konawe Utara terbilang sangat parah, akibatnya, masyarakat Konut hanya menanggung dampak buruk yang ditimbulkan oleh pelaku tambang. Sementara pihak-pihak kaum kapitalis menghabiskan Sumber Daya Alam (SDA) Konawe Utara lalu meninggalkannya begitu saja.

Olehnya itu, Asrul menyampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Konawe Utara dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, untuk segera merevitalisasi hutan dan lingkungan yang rusak akibat pertambangan melalui pencairan Dana Jaminan Reklamasi (Jamrek).

” Dana Jamrek sudah tersedia dan tersimpan disalah satu Bank Daerah. Namun, mengapa pihak Pemerintah Provinsi dalam hal ini Dinas ESDM Sultra tidak segera merekomendasikan pencairan Dana Jaminan Reklamasi. Padahal Dana tersebut sudah jelas peruntukannya, kok masa dibiarkan mengendap begitu saja, ” Sentil Asrul.

Untuk itu, Pihak Lembaga Kapitan Sultra, menyampaikan duka yang mendalam kepada masyarakat konut yang terkena dampak banjir bandang. Dan berharap kepada pihak dermawan mau membantu saudara kita yang terkena musibah banjir. Itu hal utama yang bisa kita lakukan saat ini.

“Berharap mencarikan solusi agar meminimalisir terjadinya kebanjiran parah yang akan datang dengan mengembalikan fungsi hutan, lingkungan yang rusak dan tanah yang gundul sehingga tidak terjadi banjir Erosi di hari-hari berikutnya,” pungkas Asrul. (Edi)

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.