Membuka Tirai Kebenaran

Begini Reaksi Rocky Gerung, Diserang Denny JA dan Rizal Mallarangeng

4 min read
pengamat-politik-rocky-gerung-diserang.jpg
Pengamat Politik, Rocky Gerung penuhi panggilan kepolisian terkait kasus dugaan penodaan agama di Ditkrimsus Polda Metro, Jakarta Selatan, Jumat (1/2/2019). Rocky Gerung dimintai keterangan terkait pernyataannya yang menyebutkan “Kitab Suci Adalah Fiksi” pada acara Indonesia Lawyer Club April 2018 lalu. – Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha

Diserang Denny JA dan Rizal Mallarangeng, Begini Reaksi Rocky Gerung

LintasIndoNews.com, Jakarta – Konsultan politik Denny JA dan pakar politik Rizal Mallarangeng secara bersamaan menyerang dan menyudutkan pengamat politik Rocky Gerung.

“Di tangan Rocky Gerung, ujar Denny JA, akal sehat sudah dimiskinkan, bahkan disalahgunakan untuk mengkritik Jokowi saja, tidak untuk Prabowo juga,” ujar pendiri LSI ini.

Menurut doktor ilmu politik lulusan Ohio State University AS itu, Rocky Gerung sudah menyalahgunakan akal sehat untuk tiga hal.

Pertama, Rocky sudah memiskinkan atau menyempitkan pengertian akal sehat. Selama sejarah akademik, akal sehat digunakan untuk mengkritik apa saja, dan siapa saja, di ruang publik. Bahkan juga akal sehat bisa digunakan untuk ruang pribadi.

Di luar yang menjadi presiden, tokoh oposisi, pengusaha besar, akademisi, bahkan media, sama sahnya dikritik dengan akal sehat. Mengapa di musim pilpres, akal sehat oleh Rocky tidak digunakan untuk juga mengkritik Prabowo yang juga pasti ada kesalahan.

Kedua, menurut Denny, katakanlah jika Rocky Gerung konsisten hanya ingin mengkritik yang berkuasa. Tapi siapakah yang berkuasa dalam pemerintahan demokratis? Dalam sistem Trias Politica yang berkuasa tak hanya eksekutif (Presiden) tapi juga legislatif (DPR, Partai). Karena Prabowo ketum partai besar, Prabowo juga penguasa.

Menyatakan Prabowo belum berkuasa sama dengan menihilkan kekuasaan legislatif yang besar dan sah, termasuk partai politik di dalamnya.

Ketiga, apa faedahnya menunda kritik akal sehat kepada capres, menunggu sampai ia terpilih menjadi presiden dulu. Kebijakan publik itu sebuah proses. Program, janji dan pernyataan capres, jika memang ada kesalahan, justru perlu dikritik sedini mungkin. Dengan demikian kesempatan draft kebijakan publik itu untuk menyempurnakan diri semakin terbuka dan panjang.

Denny JA menyatakan tak keberatan jika Rocky Gerung sebenarnya menjadi tim sukses tak resmi Prabowo. Namun ujar Denny, pretensi akademis dan penyalah gunaan terminologi akal sehat itu layak juga dikritik.

Sementara itu dalam sebuah tulisannya, Rizal Mallarangeng membongkar karakter asli pengamat politik Rocky Gerung di balik sikapnya terus mengkritik kebijakan Presiden Jokowi.

Dalam tulisannya itu, Rizal Mallarangeng menilai Rocky Gerung condong ke calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ketimbang calon presiden nomor urut 1 Jokowi-Maruf Amin.

Seperti diberitakan tulisan Koordinator Nasional Relawan Golkar Jokowi (Gojo) Rizal Mallarangeng di Qureta.com sehari lalu yang berjudul “Rocky Gerung, Kembang, dan Bowoisme” mendapat komentar luas di medsos.

Rizal mengatakan tulisannya itu merupakan kritik untuk Rocky Gerung, sahabatnya yang juga akademisi dan selama ini dikenal dengan jargon “akal sehat”.

“Saya bersahabat dengan Rocky sejak tahun 1980-an. Kami adalah aktivis mahasiswa di puncak otoritarianisme Orba. Kenapa saya kritik dia dengan tulisan? Untuk mengingatkan dia.

Dan juga, kaum intelektual tidak dinilai dari omongannya tapi dari tulisannya. Kalau perdebatan secara tertulis, pendapat jadi lebih sistematis dan mendalam,” kata Rizal kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Dalam tulisannya, Rizal menilai Rocky Gerung tidak berimbang dalam menyajikan fakta-fakta tentang capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

“Ada keberpihakan, Rocky condong ke Prabowo dan berbagai uraiannya sudah menjadi semacam mono-kritik terhadap Jokowi,” kata Rizal.

Sejatinya, akademisi yang menjadikan akal sehat sebagai konsep perjuangan, harus menimbang fakta dan argumen, serta mengarahkan ‘pedangnya’ kepada semua pihak di ruang publik tanpa terkecuali.

“Penguasa bisa benar bisa salah, demikian pula kaum oposisi,” ujarnya.

Masih dalam kritiknya, menurut Rizal, Rocky seharusnya tidak membedakan Prabowo dan Jokowi, atau berlindung di balik argumen bahwa seorang akademisi harus selalu mengkritik kekuasaan.

“Dia memiliki bakat yang baik sebagai seorang pengkritik di luar sistem.

Terus terang, agar berimbang dan tidak melulu mengulas soal Jokowi, saya sangat ingin mendengar bagaimana Rocky menjelaskan atau mengkritik apa yang ingin saya sebut sebagai Bowoisme,” katanya.

“Bowoisme adalah cara berpikir Prabowo dalam melihat situasi Indonesia. Paham ini sudah usang, sudah menjadi hantu masa lalu, yang kini terus dihidupkan oleh Prabowo,” kata Rizal.

“Bagaimana Rocky, dengan akal sehat, menimbang Bowoisme seperti itu? Kalau setia pada prinsipnya sendiri, seharusnya dia melihat kekeliruan yang begitu nyata dari ide usang seperti itu,” kata Rizal.

Seperti diketahui, tulisan Rizal Mallarangeng yang berisi kritik kepada Rocky Gerung menjadi viral di media sosial.

Belum sampai 24 jam, artikel itu dilihat lebih 60 ribu viewers dan lebih 15 ribu share.

“Dengan jadi viral berarti demokrasi berjalan dengan baik, lebih berisi, tidak melulu masalah remeh temeh,” kata Rizal.

Lalu apa tanggapan Rocky atas kritikan 2 orang tersebut?

Rocky rupanya tidak membalas kritik yang memojokkannya itu dengan tulisan panjang.

Rocky justru hanya membagikan sebuah tulisan yang mementahkan kritikan tersebut.

Tulisan yang dibagikan Rocky di akun twitternya adalah ulasan  Jurnalis Senior Ramadhani Aksyah.

Tulisan Ramadhani Aksyah berjudul: Mendengar Denny dan Rizal, Mengerti Rocky Gerung.

“Seharusnya?”, hanya itu yang ditulis Rocky saat membagikan tulisan itu.

Dalam ulasannya Ramadhani Aksyah membedah ketiga tokoh tersebut, baik Rizal, denny maupun Rocky.

Di mata Ramadhani Aksyah, Rocky adalah sosok yang ideologis dari zaman mahasiswa hingga saat ini.

Salah satunya tampak dari penampilan Rocky yang sederhana disebutnya tidak pernah berubah.

Hal itu kata Ramadhani berbeda dengan Rizal maupun Denny JA yang kini bergelimang dengan uang.

“Wajar mereka bersikap seperti itu. Sekarang Rizal adalah Ketua DPD I Partai Golkar Jakarta yang jelas-jelas mendukung Jokowi. Sedangkan Denny JA bersikap sangat Jokowers dengan sejumlah meme dan tulisannya. Apakah dia dan LSI-nya mendapat order dari Jokowi? Saya tidak tahu. Tetapi, hampir tidak terlihat Denny memberikan kritik kepada Jokowi. Apakah orang tidak menilai Denny JA sama saja dengan Rocky tetapi dengan objek yang berbeda?,” tulis Ramadhani Aksyah dalam ulasannya di republika.co.id Minggu (17/2/2019).

Sumber: Tribun

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.