Membuka Tirai Kebenaran

Desa Ujung Tombak Negara

3 min read
Sugeng Rianto
Pegiat Media Sosial

OPINI, Gegap gempita setelah munculnya UU Desa No 6 Tahun 2014 lalu, pembangunan desa (perdesaan) selalu menjadi isu penting di Indonesia sejak dulu kala, apalagi saat kampanye. Kenapa bisa begitu? Garis besarnya Desa adalah cikal bakal sebuah peradaban manusia, yang menjadi sebuah perkumpulan manusia semakin lama semakin membesar, hingga lahirlah sebuah kerajaan dan abad sekarang menjadi Negara, meskipun bentuk Pemerintahan Kerajaan tetap saja Orang menyebutnya Negara.

Dua hal ini menjadi isu pokoknya yakni, pertama sebagian besar penduduk Indonesia berdiam diri di wilayah desa, meskipun proporsinya dari tahun ke tahun semakin merosot. Saat ini diperkirakan 60% penduduk masih tinggal di desa. Kedua kesejahteraan penduduk di desa jauh tertinggal dibandingkan penduduk kota.

Sebagian besar penduduk desa bekerja di sektor pertanian atau sektor informal dengan pendapatan yang rendah. Saat ini sekitar 63% dari total penduduk miskin berdiam diri di desa. Tentu ada alasan lain di luar itu, misalnya sebagian besar sumber daya ekonomi yang ada di desa. Namun, kedua argumen di atas merupakan poin utama tentang pentingnya pembangunan perdesaan, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

Itulah garis besar yang harus kita akui? Jika Desa menjadi ujung tombak, manfaat hidup di desa memang lebih menonjol dari sisi kesehatan, sedangkan kalau daerah perkotaan lebih menjanjikan untuk ditinggali dan di tempati bagi pebisnis. Namun apakah hidup di desa itu tidak ada manfaatnya untuk kehidupan di bidang ekonomi?  Ads manfaatnya sebab masih banyak hal positif yang bisa anda dapatkan apabila anda hidup di daerah pedesaan.

Salah satu problem bangsa dewasa ini adalah disparitas pembangunan di daerah pedesaan dan perkotaan. Implikasinya cukup serius, karena ikut menghadirkan berbagai persoalan sosial baru, dengan adanya urbanisasi atau perpindahan masyarakat desa ke wilayah perkotaan yang lebih menjanjikan secara ekonomi

Inilah hal yang sangat mendasar dan masuk akal, karena masyarakat berusaha mencari tempat/daerah yang relatif lebih potensial baik secara kesempatan maupun ekonomis. Di lain sisi kondisi perekonomian desa makin rapuh karena semakin berkurangnya tenaga kerja yang memilih pindah ke perkotaan dibandingkan yang bertahan pada keadaan pertanian tradisional yang kurang menghasilkan dan memberikan pendapatan secara cepat dan langsung (quick yielding).

Ketidakseimbangan antara pembangunan di kota dan di desa juga berakibat buruk secara sosial dan ekonomi terhadap kehidupan di kedua wilayah masyarakat tersebut. Karena kota akan mengalami kepadatan penduduk yang semakin tinggi disebabkan terbukanya kesempatan kerja di berbagai bidang. Sebaliknya, kondisi di desa makin sepi ditinggalkan warganya, tersisa penduduk yang hanya bertumpu pada sektor pertanian, dikelola dengan sistem tradisional serta bergantung pada musim dan kondisi lahan.

Situasi ini yang menyebabkan masyarakat mengalami, tak beda jauh sebagian besar masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini memang sulit untuk dielakkan karena percepatan mekanisme ekonomis di kota jelas akan mengalahkan petumbuhan ekonomi di pedesaan.

Dalam banyak kasus, kota kerap memiliki visi modern dan dinamis, sedangkan desa karakternya lamban dan tradisional. Menyikapi kondisi ini sudah saatnya pemerintah melakukan upaya-upaya terhadap kebijakannya dalam membangun masyarakat desa, apalagi di era otonomi daerah. Pemerintah perlu juga menelaah strategi dalam menciptakan keserasian pembangunan antara desa dan kota sebagai konsekuensi dari pelaksanaan otonomi di tingkat kabupaten

Pengembangan wilayah pedesaan sangat penting, karena struktur ekonomi pedesaan berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan struktur perkotaan. Sehingga bagaimana menumbuhkan dan mengembangkan pembangunan di pedesaan sekaligus upaya-upaya apa yang harus dilakukan untuk mencapai keserasian/kesamaan dengan wilayah kota adalah pekerjaan rumah yang perlu segera dijawab.

Ini penting agar realitas pembangunan wilayah pedesaan dan perkotaan yang tidak seimbang sebagaimana selama ini terjadi dan menimbulkan kesenjangan sosial dan ekonomi dalam kehidupan. Di mana desa yang lebih berkesan sebagai kelompok masyarakat yang hidup secara tradisional, mempunyai banyak ketertinggalan dibanding dengan dengan kota, bisa diperkecil disparitasnya.(**)

Inspirasi berbagai sumber

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.