Membuka Tirai Kebenaran

Ekonomi Berkeadilan Jadi Alternatif Kuat Daya Saing Nasional

3 min read


Keadilan menjadi kunci dalam memperkuat daya saing ekonomi nasional. Oleh karena itu, harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam pembangunan industri. (Dok. KEIN)

Jakarta, CNN Indonesia — Persoalan cadangan devisa negara dan defisit neraca perdagangan harus tetap menjadi agenda utama pemerintah di masa mendatang. Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, maka peningkatan daya saing nasional, baik perdagangan maupun industri harus menjadi prioritas.

Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Soetrisno Bachir mengungkapkan, dengan meningkatnya daya saing nasional juga akan memperkuat daya tahan terhadap guncangan dari luar. Apalagi daya saing tersebut diarahkan untuk kemandirian ekonomi, berbasiskan ekonomi lokal, dan berorientasi lokal.

Baca Juga: Tingkatkan Ekonomi Warga, Desa Sono Miliki Konsep Bina UKM

“Kita akan kuat apabila mampu mengurangi ketergantungan dari negara lain dan mampu mendorong daya saing di pasar global,” ujar Soetrisno setelah acara Seminar dan Workshop Kemitraan Ekonomi Umat yang diselenggarakan PP Pemuda Muhammadiyah di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Jumat (26/7).

Harmonisasi kebijakan antara sektor perdagangan dan industri menjadi prasyarat penting dalam mendorong daya saing. Namun sayangnya, koordinasi dan harmonisasi tersebut belum terjadi secara optimal. “Masing-masing sektor masih jalan sendiri-sendiri, kurang terkoordinasi,” tambahnya.

Baca Juga: Bagi Remaja, 5 Cara Atur Keuangan Agar Tidak Kehabisan Uang

Pada awal Juli lalu, Presiden Joko Widodo sempat menyinggung tentang defisit neraca perdagangan senilai US$ 2,14 miliar periode Januari hingga Mei 2019. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Jokowi mengatakan, ekspor dari Januari hingga Mei 2019 year on year turun 8,6 persen. Sedangkan impor pada periode yang sama mencapai 9,2 persen. Ada defisit sekitar US$ 2,14 miliar.

Untuk mengatasi persoalan itu, Soetrisno mengatakan keadilan juga menjadi kata kunci dalam memperkuat daya saing ekonomi nasional. Oleh karena itu, kebijakan industrialisasi harus bersifat inklusif, melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam pembangunan industri.

“Industrialisasi jangan hanya dinikmati segelintir pelaku usaha dan meminggirkan peran sebagian besar anak bangsa. Dengan memasukkan nilai-nilai keadilan dalam kebijakan dan industri, maka daya saing nasional bisa diperkuat secara berkelanjutan serta menekan ketimpangan ekonomi.”

Soetrisno menuturkan, industrialisasi harus berupa penciptaan nilai tambah atas komoditas utama. Untuk memperkuat industri bisa dilakukan dengan 2 orientasi. Pertama, substitusi impor dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan dari negara lain. Kedua, industri harus diarahkan kepada orientasi ekspor sehingga industri bisa memberikan kontribusi positif pada neraca perdagangan.

Baca Juga: Jokowi Ngaku Sudah Baca Survei, Dua Putranya Masuk Bursa Pemilihan Walikota Solo 2020

“Menguatkan rantai nilai, substitusi hulu-hilir yang masih bergantung impor harus menjadi fokus kebijakan dalam industri nasional. Oleh karena itu diperlukan harmonisasi yang kuat dan terukur antara kebijakan perdagangan dan industri. Di aspek ini, harmonisasi kebijakan harus diperkuat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Indonesia menempati urutan 32 dari 63 negara dalam IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2019 dengan skor 73,59. Peringkat ini meningkat tajam dari posisi 42 pada 2018. IMD WCY telah melakukan penilaian daya saing global sejak 1989 dan menjadi rujukan peringkat daya saing global.

Sebanyak 63 negara dievaluasi peringkat daya saingnya berdasarkan overall ranking dari empat faktor daya saing (competitive factors), yaitu kinerja ekonomi (economic performance), efisiensi pemerintahan (government efficiency), efisiensi bisnis (business efficiency), dan infrastruktur (infrastructure).

Baca Juga: Hiruk Pikuk Jelang Pilkada Solo, BRM Kusuma Putra,SH,MH : Rakyat Terpasung Tidak Bisa Pilih Calonnya Sendiri

Sumber: CNN Indonesia

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.