Membuka Tirai Kebenaran

Filosofi Tembang Lir-ilir

2 min read

JAWA TENGAH – Tembang Jawa berjudul Lir-ilir tentunya sudah tak asing di telinga. Apalagi setelah MH Ainun Najib alias Cak Nun dengan Kyai Kanjeng-nya mengubah aransemen tembang khas Jawa tersebut kedalam perpaduan musik yang lebih modern.

dilansir dari KrJogja.com kala itu (20/12/2017). Lagu Lir-ilir pada zaman Kerajaan Islam masih berkuasa di tanah Jawa sangat populer dinyanyikan sebagai tembang dolanan dikalangan anak-anak dan masyarakat kala itu. Tak jarang tembang ini juga dijadikan lantunan seorang ibu yang tengah ‘meninabobokan’ bayinya agar lekas pulas tertidur.

Tembang ini diciptakan oleh Raden Said atau Sunan Kalijaga sebagain bagian dari media dakwahnya. Meski berbahasa Jawa namun tembang Lir-ilir menyimpan peranan penting dalam penyebaran Islam di tanah air. Tembang ini sarat akan makna dan filosofi bagi kehidupan masyarakat untuk menuju kepada-Nya.

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar
Bocah angon, bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako surak iyo

Terjemahan Bahasa Indonesia

Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjatuntuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya

Filosofi Tembang Lir-ilir

Sebagai umat Islam bangun dan sadarlah. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas. Diri yang dalam ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya dalam jalan yang benar. Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing dimana buahnya memiliki gerigi lima buah yang digambarkan lima Rukun Islam. Meskipun licin dan susah namun umat Islam harus tetap memanjatnya untuk menjalankan Rukun Islam.

Pakaian yang terkoyak dilambangkan bahwa umat harus selalu memperbaiki imannya agar kelak siap ketika dipanggil menghadap kehadirat-Nya. Hal terasebut harus dilakukan ketika kita masih sehat yang dilambangkan dengan terangnya bulan dan masih mempunyai banyak waktu luang.

Editor: Seno

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.