Gerakan Olahraga Sepatu Roda Masih Terbelenggu Oleh Polisi Tidur, Benarkah

Dalam peradapan lingkungan sosial, kita dituntut untuk saling beradaptasi dengan lingkungan sosial, alhasil ada suatu masalah terpendam yang selama ini belum terurai. Apakah sepakbola harus dilapangan, voli ball, bulutangkis, pingpong, fitnes, senam, tinju dll. Lalu bagaimana dengan sepatu roda, apakah harus ditempat khusus (lapangan) sepertinya tidak selalu.

Olahraga sepatu roda sebenarnya sangat dicintai oleh anak anak kita, namun selama ini ada masalah yang menyelinap dan tak pernah terkuak. Sepatu roda dimata anak anak kita terkesan keren, indah, dan familier. Banyak orangtua yang senang, tertarik untuk olahraga yang satu ini. Namun ketika hasrat itu muncul, sang anak siap, ada dana untuk beli sepatu roda, tetapi setelah dipertimbangkan secara matang ternyata ada kendala yang harus dihadapi yakni polisi tidur yang sengaja dibuat oleh warga kampung sebagai rambu rambu lalulintas yang sengaja dibuat agar siapapun yang lewat di jalan kampung/desa itu berhati hati, dengan tujuan agar sipengendara motor dan mobil mau mengurangi kecepatanya, demi keselamatan bersama. Itu tidak salah, dan ada pisitifnya.

Namun jika ditinjau dari sudut pandang keindahan dan faktor keselamatan tidaklah selalu benar. Harusnya tidak harus pasang portal atau polisi tidur, cukup dengan sosialisasi dan tanda tanda atau rambu rambu lalulintas, misalnya tulisan Hati Hati Banyak Anak, Jaga Keselamatan, Keluarga Dirumah Menunggu Anda, Sopan Dijalan Wujud Dari Iman dll.

Uraian yang lain, banyak ibu ibu naik motor, habis belanja, minyak goreng, beras, tepung, esteh, gorengan dll ketika melewati polisi tidur, barang barang belanjaan ibu tadi jatuh, karena terhentak saat melewati polisi tidur tersebut. Masih banyak dampak negatif lain, mobil berbody ban pendek, knalpotnya lepas atau penyok gara gara polisi tidur. Lalu anak anak kita yang tadinya sudah beli sepatu roda, dan gara gara ada polisi tidur akhirnya niatnya untuk olahraga bersepatu roda, diurungkan, alasanya takut terjatuh, luka, dan sakit.

Jalan kampung dibangun, diaspal halus, setelah itu dikasih polisi tidur dengan alasan memberi peringatan kepada segelintir orang pengendara motor agar tidak ngebut. Itu baik baik saja, tetapi apakah harus dengan cara yang demikian? Jawabnya tidak, sebab kita sudah memasuki era digital, harusnya penerapan rambu rambu lalulintas menggunakan cara modern, sosialisasikan via HP Sosmed atau group group yang anda miliki. Kenapa kita tidak meniru negara lain, atau minimal provinsi Bali, Singapura, Jepang, Australia dll. Mari kita berbudaya santun, tanpa harus diacungi tongkat atau polisi tidur. Semoga hal ini bisa kita sikapi secara arif, bijaksana dan berbudaya sebagaimana layaknya orang timur. (Panut)

Editor: Seno

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.