Membuka Tirai Kebenaran

Haruskah Sertifikasi di Berhentikan?

6 min read
Ilustrasi

Penulis: Pemerhati Pendidikan Dadung Koswara, M.Pd

Opini — Banyak hal yang kurang positif dengan adanya kebijakan sertifikasi.Sertifikasi nampaknya seperti setengah hati, tidak tepat waktu bahkan tidak tepat jumlah. Sertifikasi indah kedengarannya tapi ngejelimet prosesnya.

Sertifikasi telah melahirkan suuzdhon kolektif. Suudzhon kolektif dari masyarakat kepada kompetensi guru, dari guru kepada layanan dinas pendidikan, kepada pemerintah daerah, kepada mendikbud dan kepada presiden. Dan yang paling menerima suuzdhon peringkat tertinggi adalah kepala dinas dan kepala daerah.

Bahkan bukankah mendiknas mengancam akan melakukan jalur hukum pada kepala daerah? Kok jadi tegang sesama birokrat?
Kasihan kepala daerah dan kadisdik, mengurus hajat orang banyak sangatlah menguras mental. Ini sebuah iklim yang kurang baik dan akan berjalan sustainable bila sertifikasi tidak segera dihapus. Suuzdhon akan selalu ada menjelang pencairan. Sebuah iklim mental kolektif yang suuzdhon terlahir karena program sertifikasi dari pemerintah.

Era sertifikasi benar-benar hebat. Bahkan konon katanya para ustazdpun akan disertifikasi tambah rumit kelihatannya negeri kita ini. Proses keluarnya sertifikasi ibarat ibu yang melahirkan susah keluarnya atau gak keluar-keluar walaupun sudah tarik nafas dalam-dalam. Bukaan satu, bukaan dua, lambat sekali.Sekali lagi kasihan para petugas di dinas pendidikan setiap periode harus bekerja ekstra dan tidak ada anggaran lemburnya. Kasihan kadisdik dan kepala daerah harus menerima beban mental atas tuduhan lambatnya sertifikasi.

Secara internal di komunitas guru dengan hadirnya sertifikasi menjadi riweuh (baca ; sibuk).Bagi yang pensiun pas lahirnya sertifikasi sungguh menyedihkan, tak sempat mencicipi sertifikasi. Bagi yang sudah puluhan tahun mengabdi sertifikasi menjadi manis-manis pahit. Harus ikut tes kompetensi, harus kuliah S-1 dan berbagai persyaratan yang membuat pusing. Pas lulus langsung pensiun.

Lahirnya kesibukan baru mengurus administrasi para guru yang melibatkan tata usaha sekolah, pengawas, petugas dinas pendidikan setiap pencairan sertifikasi serasa kurang efektif. Proses portofolio, UKG, PLPG dan PPG menjadi bagian dari sistem untuk mendapatkan sertifikasi. Bahkan para guru yang melaksanakan ibadah haji dihantam ketentuan harus mengembalikan uang sertifikasi atau dipotong selama satu kali gaji. Ibadah saja kena potongan, ini sangat menarik.

Lebih unik lagi banyak guru yang “meminta-minta” jam pelajaran pada sekolah lain demi pemenuhan kewajiban 24 jam. Tidak sampai disana ada beberapa guru honorer yang terdesak jam mengaja rnya oleh guru PNS karena kepentingan sertifikasi. Sertifikasi manis kedengarannya tetapi banyak hal yang masih perlu dibenahi didalamnya.
Sertifikasi guru juga mengundang ijonisasi.

Mengijonkan rekening sertifikasi. Ini sesuatu yang manusiawi tetapi kurang baik. Karena sertifikasi tidak diterima tiap bulan sementara kebutuhan muncul tiap hari, maka “dana talangan” dalam bentuk ijonisasi hadir dalam kehidupan sebagian para guru. Lambatnya sertifikasi cair secara tidak langsung membuka lowongan pekerjaan bagi para ijoner.Ini sebuah kondisi tidak baik.

Sertifikasi telah menjadi problematika. Sebaiknya sertifikasi segera dicabut dan sebelum dicabut pemerintah segera menaikan gaji pokok guru minimal 3 kali lipat. Dan, jangan lupa gaji guru honorer harus di atas UMR imbas dari dihapusnya sertifikasi.Kembali pada gaji pokok bisa diterima tiap bulan dan tidak membuat ribet administrasinya.Pemerintah jangan ragu menaikan gaji pokok para guru. Hanya di Indonesia gaji guru begitu kecil. Hanya di Indonesia guru kurang dimulyakan terlihat dari kikirnya pemerintah.

Bila gaji guru dinaikan 3 kali lipat tetap saja sebenarnya masih terkecil dibawah negara-negara lain. Gaji 3 kali lipat bisa dianggap membebani APBN. Namun bila berpikir jauh ini adalah solusi mahal menyelamatkan bangsa. Mahal dalam hitungan negara yang kikir tentunya.Bila gaji guru sangat tinggi maka akan banyak hal positif yang dampaknya jangka panjang. Bila kita (para guru) mau membandingkan dengan gaji guru di negara lain, sebut saja Malayasia memang jauh. Sejauh ketidak mampuan Indonesia mengejar kemajuan mereka.

Imbas gaji guru yang baik bukan pada kesejahteraan dan martabat guru hari ini, melainkan masa depan pendidikan Indonesia. Hanya di Indonesia bila siswanya ditanya pasti tidak berminat menjadi guru. Beda dengan di Finlandia. Jurusan keguruan menjadi favorit dan dituju oleh para calon mahasiswa unggulan, setelah jurusan kedokteran dan hukum.Di Indonesia jurusan keguruan dipandang sebelah mata. Karena masa depan guru (gaji guru) tidak menjanjikan.
Jadi bila gaji guru minimal Rp. 9 juta tanpa sertifikasi (hapus segera sertifikasi) maka ini sudah lumayan. Bayangkan hanya 90 lembar uang ratusan ribu. Bila seorang guru yang bekerja seorang diri dengan ongkos transfortasi harian, makan harian saat kerja, kebutuhan pengembangan diri (kuliah lagi), membiayai anak kuliah di beberapa perguruan tinggi,harus membeli rumah, harus membeli kendaraan, harus ada jaminan asuransi, menikahkan anak dll. Maka gaji 90 lembar uang ratusan ribu tidaklah besar.

Kita lihat di beberapa negara lain gaji guru mencapai puluhan juta rupiah. Di
Singapura Gaji guru Rp. 512 juta per tahun. Amerika Serikat (AS) Rp. 503 juta per tahun. Korea Selatan senilai Rp. 491 juta per tahun. Jepang Rp. 489 juta per tahun. Jerman Rp. 471 juta per tahun. Swiss Rp. 438 juta per tahun. Belanda Rp. 415 juta per tahun. Inggris Rp. 372 juta. Israel Rp. 362 juta per tahun. Spanyol Rp. 329 juta. Prancis Rp. 322 juta per tahun. (okezone.com). Indonesia tidak melintasi angka 70 juta per tahun.

Dari data di atas ternyata negara-negara kolonialis (Belanda, Inggris, Spanyol, Prancis, Jepang) lebih menghargai guru dibanding pemerintah Indonesia. Maka sebaiknya segera cabut kebijakan sertifikasi dan segera naikan gaji pokok guru minimal 3 kali lipat. Inipun masih rendah dibanding negara yang paling dibenci dalam kitab suci Al Quran (Yahudi). Bangsa Yahudi yang dianggap “pendosa” ternyata sangat baik dalam memperlakukan guru. Pantaslah Yahudi mampu menguasai dunia karena menghargai guru-gurunya.

Pantaslah Jepang maju karena menghargai guru-gurunya. Pantaslah Indonesia mundur karena gaji bagi guru diombang-ambing dalam “politik sertifikasi”. Maka segera cabut sertifikasi dan segera normalkan gaji pokok guru.

Siapakah sebenarnya yang merendahkan derajat guru dengan birokrasi sertifikasi? Guru hari ini yang dianggap kurang profesional dengan nilai UKG yang kecil disebabkan oleh masa lalu dari pemerintah yang tidak menghargai guru. Karena yang menjadi guru pada hari ini adalah kebanyakan lebih orang-orang ikhlas dengan gaji kecil dan kelas intelaktual menengah kebawah.

Bila ingin negeri ini maju, cabut sertifikasi ganti segera dengan kenaikan gaji guru yang layak yang dapat diterima setiap bulan tanpa birokrasi sertifikasi.Gaji guru yang baik,layak dan wajar seperti negara-negara lain akan mengundang/menstimulus generasi muda cerdas untuk maju menjadi guru dan menjadi guru yang maju. Bila generasi muda cerdas pada hari ini tertarik menjadi guru karena gaji guru tinggi, maka 20 tahun kedepan Indonesia akan menjadi negara yang sejajar dengan negara-negara lainnya.

Kasihan guru-guru Indonesia dengan gaji hanya Rp. 5 jutaan Ia harus hidup bersama keluarganya ditengah membumbungnya harga dan fasilitas hidup.Padahal gaji 5 juta itu sama dengan pensiunan anggota DPR seumur hidup dibayar oleh pemerintah, walau hanya mengabdi dua periode misalnya.Bayangkan bisa terjadi guru yang mengabdi 40 tahun pensiun hanya dapat Rp. 2 jutaan.

Hanya di negeri ini guru harus ngantri seperti “pasukan BLT” mengurus sertifikasi. Kelihatannya seperti pelayanan namun orang sinis akan mengatakan ini adalah sebuah penghinaan pada profesi.Untuk mendapatkan 2/3 juta perbulan mesti ngantri berjam-jam. Bukankah Akil Mochtar sambil karaokean Ia masih sempat menyembunyikan uang milyaran di ruang karaoke rumah dinasnya. Sementara Hadi Purnomo ratusan milyar, Joko Susilo, Anas Urbaningrum, Anggelina Sondakh, Andi Malarangeng, Rudi Rubiandini dan puluhan kepala daerah masuk penjara karena korupsi.

Kondisi ini sangat menohok bathin para guru. Akan kemana negeri ini dengan “memurahkan” dan meremehkan profesi guru. Padahal politisi sekalipun sangat tahu investasi terbaik sebuah bangsa ada dalam dimensi pendidikan.Investasi dalam bentuk gaji guru yang tinggi adalah media “menjerat” calon mahasiswa unggulan.Guru-guru yang dianggap kurang kompeten pada masa kini (periode gaji kecil) suatu saat akan habis diganti dengan guru-guru yang mumpuni.

Mungkinkah negeri kita, bangsa kita yang mayoritas muslim menghujat Israel dengan menunjuk-nunjuk kejelekannya habis-habisan, padahal empat jari menunjuk bangsa kita sendiri? Israel lebih “islami” dalammemperlakukan guru. Jangan berharap sebuah bangsa akan maju bila generasi muda cerdasnya tidak mau menjadi guru karena gaji guru sangat kecil.
Falsafah modern profesional dan proporsional hendaknya harus mulai dibangun dengan menghargai profesi guru bukan dengan sertifikasi melainkan dengan gaji pokok yang layak. Cabut segera sertifikasi dan ganti dengan gaji pokok yang layak. Untuk guru-guru honorer berikan gaji di atas UMR, sebagai pengganti sertifikasi.(*)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.