Sel. Okt 15th, 2019

Membuka Tirai Kebenaran

Jabatan Kades Bak Judi Dalam Politik

3 min read

 

Oleh: Rian Hepi Pegiat Media Sosial

OPINI, Siapapun pasti tahu dalam pilkades tak lepas dari materi, politik tanpa logistik bagaikan pungguk merindukan bulan. Tak mungkin dan sangat jauh diawang – awang, meskipun di dengung -dengungkan No Money Politik di salahsatu kabupaten Jawa tengah.

Tapi Kenyataannya menelan pil pahit bagi yang tidak memiliki logistik. Iebih dalam lagi di hinggapi para pembotoh dari luaran demi mengais rejeki haram. Lengkap sudah bagaikan jatuh ketimpa tangga.

Politik intimidasi hingga kebobrokan moral, uanglah yang berkuasa. Sungguh perang uang sangat terang benderang, saling berebut suara untuk raih simpatik besar nilainya uang. Siapa yang salah? Pemilih atau yang di pilih? Masing-masing punya jawaban.

Politik tertua di Indonesia adalah Pilkades, sebelum ada Pilpres dan Pileg telah mengakar cukup lama bahkan sebelum era penjajahan. Namun tahukah ? Anda, bahwa pemilihan kepala desa pada jaman dahulu tidak seperti sekarang ini.

Lintas Baca: 

Dwiyono Cakades Terpilih Desa Karangasem Tanon, Di Calonkan Masyarakat Menuju Perubahan

Sukamto Cakades Terpilih Desa Kaloran Gemolong, Siap Bawa Amanah Untuk Desa Tercinta.

Gunarno, ST Cakades Terpilih Desa Mojopuro, Jiwanya Terpanggil Untuk Mbangun Deso

Melenggang ke 2 Periode, Iwan CaKades Terpilih Desa Jono: Saya Siap Melanjutkan Pembangunan

 

Model pemilihan kepala desa yang paling sederhana pada jaman penjajahan Belanda adalah dengan cara pilihan terbuka. Masing-masing pemilih dan pendukung calon kepala desa membuat barisan adu panjang ditanah lapangan, makin panjang barisannya makin menang.

Sehingga akan terliat pendukung inti, yang pada saat ini dikenal dengan tim sukses masing-masing kandidat kepala desa. Calon kepala desa terpilih adalah yang barisan pemilih/pendukungnya paling panjang.

Model pemilihan seperti ini sangat rawan sekali adanya konflik horisontal secara terbuka antara pendukung calon yang satu dengan calon lainnya. Tapi dimaklumi, ini adalah bagian dari taktik Belanda dan juga penguasaan teknologi yang belum ada (minim).

Dalam perkembangan selanjutnya untuk mencegah adanya konflik terbuka antar pendukung maka model pemilihan kepala desa dilaksanakan dengan pemilihan langsung secara tertutup.

Hingga lahirlah politik Demokrasi seperti Pilpres, dan Pileg, tak ada lagi simbol tenanam petani desa seperti ketela, singkong dan padi hingga jagung. Namun cukup dengan simbol filosofi angka dan slogan nama maupun visi dan misi yang ingin di sampaikan.

Kader atau dalam bahasa Jawa adalah gapit sangat menetukan pula, di samping calon yang di usung nantinya. Hingga nafsu untuk bertahta di jabatan paling bergengsi tingkat desa ini, memicu untuk perang sosial yang bersumbu pendek ini. Bagai bola api yang bertensi panas dan liar, siap menggelinding ke setiap penjuru, menang taktik dan cara hingga segala cara dihalalkan, uang ratusan juta hingga milyaran rupiah di pertaruhkan demi kemenangan, mengadu nasib seperti arena judi yang di pelopori oleh para kadernya.

Ada pula sisi baiknya, yang memiliki logistik lebih besar pun belum tentu meraih kememngan, wajar jika mayoritas bagi yang menang ataupun yang kalah menumpuk hutang dan menjual harta, demi adu gengsi dan harga diri yang ingin di jaga.

Sungguh teramat mahal dan tak masuk akal, tak sebanding dengan gaji yang akan di terimanya nanti, atau para calon berpikir pengelolaan uang yang begitu besar bisa untuk di salahgunakan menutupi hutang logistik? Semua tergantung para calon yang terpilih nanti. Jujur dan tidak masyarakatlah yang sangat dominan menentukan pemimpinnya.

Apalagi Calon Kades yang hanya memikirkan pengelolaan Dana Desa yang begitu besar, jangan sampai hanya tergiur oleh uang untuk hal-hal pribadi. Masyarakat setempatlah yang akan memilih calon terbaik mereka, terbaik dari segi materi atau visi misinya? Merekalah yang menentukan. Mental korup atau pengabdian? Silahkan di pilih.

Share this:

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.

Copyright © LintasIndoNews.com | by Media Group AWPI.