Sab. Des 14th, 2019

Membuka Tirai Kebenaran

Jumirin Kades Repaking, Semangat Juangnya Bagai Api  Yang Tak Pernah Padam

3 min read

Jumirin Kades Repaking

LINTASINDONEWS.com, BOYOLALI – Figurnya tak asing lagi bagi kalangan masyarakat di wilayah Boyolali Utara, tepatnya Kecamatan Wonosamodro, Pria ini memiliki dedikasi yang tinggi serta penuh talenta.

Adalah Jumirin Kades Repaking Kecamatan Wonosamodro Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, yang kini tengah bekerja keras untuk memajukan desanya. Sesuai apa yang telah dia torehkan kedalam visi dan misi ketika di calonkan masyarakat untuk menjadi Kades di Desa Repaking.

Saat bincang – bincang dengan tim media LINTASINDONEWS.com di ruang kerjanya, Jumirin bercerita panjang lebar tentang suka dan dukanya saat masih remaja hingga berkeluarga. Perjalanan hidupnya panjang dan berliku penuh kerikil tajam, dalam menyusuri hidupnya. semua ia jalani dengan tabah meski harus bersusah payah dan mandiri.

“Saya dalam menghadapi hidup di perantauan selalu sendiri tanpa ada teman, saudara maupun kerabat, jiwa saya terbentuk untuk mandiri, ” ungkapnya. Senin (26/11)

Lebih jauh, Jumirin hanya selalu mengingat apa yang menjadi filosofi hidup dari sang kakek, dahulu kakeknya adalah pejuang idealis sejati, marhaenisme ajaran Bung Karno selalu tertanam dalam jiwa sang kakek hingga Jumirinpun mengidolakannya.

Keras, tajam dan kritis ke segala arah demi tercapai cita – cita bangsa yang mulia, sudah mengakar dalam jiwa jumirin, mengalir dalam sel – sel darah dan merasuki ke setiap inchi tubuhnya. Saat ini hanya satu, desa repaking maju dan berkembang.

“Saya jika bekerja tidak akan setengah – setengah, namun saya akan All Out demi masyarakat desa repaking, ” jelas Kades yang bisa bergaul dengan berbagai kalangan ini.

Terbukti meski baru seumur jagung menjabat kades, prestasi sudah di torehkan yakni juara 1 Pentas Seni Rakyat tingkat Kabupaten tahun 2019, Jumirin sendiri yang menjadi sutradara, dengan tema sesuai budaya desa repaking tentang lingkungan hidup.

Kekurangan air karena hutan gundul dan dampaknya bisa erosi karena manusia tidak bertanggung jawab, Pentas ini ada peran sedih, Komedi dan serius. sebagai kritik sosial. waktu 30 menit tayang pentas, yang di laksanakan hari minggu 24/11/2019. Dewan juri dari Dosen Seni ISI Solo. Selain itu juara seni tradisional reog saat Agustusan, tingkat kecamatan tahun 2019.

“Seni itu butuh perjuangan dan pengorbanan, bukan hanya teori saja namun di buktikan, ” Kata Jumirin yang juga sering menjadi narasumber bidang seni di berbagai radio di Indonesia.

Ketika di minta tanggapan terkait pemekaran wilayah Wonosegoro menjadi dua bagian, yakni lahir kecamatan Wonosamodro, Jumirin menyatakan apresiasinya terhadap Pemerintah Daerah, dia berharap kecamatan yang baru ini bisa menambah kemajuan wilayah desa tertinggal.

“Kami sangat mengapresiasi sekali, desa yang ada di kecamatan Wonosamodro akan menjadi desa yang berkembang dan maju di segala bidang, dan kami mengucapkan banyak terimakasih untuk pemerintah daerah yakni di kecamatan kami yang baru telah mendapat bantuan 9 sumur dalam, ” jelasnya.

Lebih jauh Jumirin juga menilai bantuan sumur ini akan sangat membantu sekali dalam kebutuhan air, khususnya air minum, menurut dia saat kemarau panjang menjadi masalah yang rumit bagi masyarakat.

“Kami ingin desa kami tidak lagi kekurangan air, dan kedepan visi dan misi saya bisa terwujud, ” ungkapnya.

Perlu di ketahui pemekaran wilayah di boyolali miputi di Kecamatan Ampel menjadi Kecamatan Ampel dan Kecamatan Gladagsari, Musuk dipecah menjadi Kecamatan Musuk dan Kecamatan Tamansari, sedangkan Kecamatan Wonosegoro dipecah menjadi Kecamatan Wonosegoro dan Kecamatan Wonosamodro. (rian)

Share this:

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.

Copyright © LintasIndoNews.com | by Media Group AWPI.