Membuka Tirai Kebenaran

Komoditas Era Distruptif Generasi Milenial

2 min read

Sugeng Rianto

Penulis aktif di AWPI (Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia)

OPINI

Bagaimana Sulitnya mencari kerja di jaman sekarang, membuat pikiran terkuras harus berbuat apa. Beda Zaman beda cara, caranya cari alternatif lain. Yakin dengan jalur membangun bisnis. Silahkan tapi jangan setengah -tengah.

Namun ujung-ujungnya tidak selalu berujung manis, jatuh bangun akan di lalui, sehingga butuh motivator yang ulung seperti tayangan di stasiun TV atau seminar langsung.

Hal inilah yang harus disadari, terombang-ambingnya sebuah kenyataan bisa merubah segalanya menjadi cepat bak meteor yang melesat ke langit tujuh, atau istilahnya (Sudden Shift) yang lebih familiar di sebut Era Distruptif.

Era Distruptif sendiri bisa kita baca di beberapa ulasan buku Prof. Rhehald Kasali “Selfie Distruption” Yang banyak mengulas tentang Era Distruptif, yang kini banyak nangkring di beberapa media massa.

Hasil analisis Prof. Renaldi Kasali ini, terinspirasi dari Clayton M. Christensen seorang Profesor di Harvard Business School, oleh Prof. Rehald Kasali mencoba untuk membedahnya dan mengkaji teori ini menjadi mudah dan bisa di pahami.

Dalam kajiannya Prof Rhenald Kasali Distruptif bukan soal IT dan Teknologi saja, namun mengarah ke segala aspek ekonomi, budaya dan industri tentang ideologinya. Contohnya di Era Distruptif di bidang bisnis, dengan berkolaborasi cara lama jika kondisi ini bisa berimbas kepunahan.

Hanya Generasi Milenial yang memiliki ketajaman untuk melihat dan mendengar saja, yang mampu menjadikan ladang usaha menjadi komoditas utama, mengalirnya penghasilan tergantung sang pelaku.

Dengan hadirnya dunia maya yang di kelola oleh beberapa aplikasi menjadi ruang bisnis, seperti halnya transportasi jasa hingga kuliner. Bisa di pesan kapan saja dan dimana saja yang siap antar. Hingga masyarakat bisa di manjakan oleh dunia yang bak selebar daun kelor ini, inilah milenial yang kini harus berperang melawan sistim persaingan yang kaya akan inovatif. Itulah Era Distruptif mengubah cara hidup zaman kini.

Bagaimanapun juga generasi milenial harus dan mau memanfaatkan aplikasi bisnis online, misalnya, membuat kue atau semacam kuliner ringan lainya. Hingga pernah kita melihat seorang mahasiswi hanya bermodal kecil membuat kue yang ia pasarkan melalui aplikasi, bermodal paket internet ia tawarkan dengan jangkauan sekitar saja kue-kue itu ludes dan mengalirlah uang itu.

Halo…. Para Generasi Milenial jangan diam saja, ayo bangun dari tidur kalian. Jangan hanya mimpi bekerja enak jadi pegawai saja, yang sebenarnya tidak sebebas seperti yang kalian suka. Ingin weekend kapanpun selalu ada waktu, jika bisa memanfaatkan kreatifitas kalian.

Jika tidak segera beranjak dari rasa malasmu, kalian akan terdiam dan menyaksikan yang lain sukses dan bahagia, jangan menjadi generasi milenial yang berpola lama. Kalian lambat laun akan punah, Hingga tertinggal jauh di telan zaman.

Ingin di posisi mana? Bertahan pola lama dan punah atau berjuang dengan inovasi baru? Silahkan pilih!! (***)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.