Sel. Des 10th, 2019

Membuka Tirai Kebenaran

Kuliner Rakyat: Asal Mula Gerobak HIK dan Angkringan Beserta Filosofi Masyarakat Jawa

2 min read

Gambar Angkringan referensi pihak ketiga

SERBA-SERBI, Mengingat dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Magelang, Klaten, Solo, Purworejo dan Semarang, kini angkringan sudah menginvasi daerah-daerah lain. Salah satu ikon Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memang selalu diburu di daerah manapun. Gak hanya di daerah-daerah sekitar Yogyakarta, namun sekarang angkringan sudah ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Hal ini menjadi bukti eksistensi angkringan memang sudah tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Kedai makanan khas Jawa Tengah ini memang disajikan di atas gerobak. Menu-menu yang disajikan juga bisa disajikan sederhana. Nasi yang dibungkus kertas nasi atau daun pisang disajikan bersama berbagai macam sate seperti sate usus ayam, sate telur puyuh, sate ati ampela dan berbagai minuman.

Namun demikian, belum banyak orang yang mengetahui tentang sejarah angkringan tersebut. Ternyata angkringan memiliki makna filosofis yang mendalam. Bukan hanya sebagai penawar lapar yang murah, tapi kandungan filosofi dari angkringan memang tidak biasa.

Angkringan Pikul

Dilansir dari beberapa sumber sejarah angkringan, kedai makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh seseorang yang bernama Mbah Pairo. Dia adalah orang asli Klaten yang kemudian merantau ke Yogyakarta. Sekiat rakhir 1950-an Mbah Pairo menjajakan jualannya dengan cara dipikul dan berkeliling kota Yogya. Mbah Pairo Biasanya mangkal di dekat Stasiun Tugu. Pada saat sedang berjalan, Mbah Pairo menarik perhatian konsumen dengan berteriak Ting … Ting … Hik. Karena teriakanlah mulanya, angkringan dikenal sebagai Hik yang merupakan singkatan dari kalimat Hidangan Istimewa.

Gerobak HIK

Semakin terkenalnya Mbah Pairo maka ia tidak lagi memikul dagangannya sambil berkeliling kota Yogya. Ia kemudian memilih mangkal dan menggunakan gerobak kaki lima yang dilengkapi dengan kursi panjang untuk para pembeli. Karena menggunakan kursi yang panjang tersebut, para pelanggannya suka menaikkan kursi itu. Karena kebiasaan menaikkan satu kaki inilah muncul istilah “angkringan” atau “nangkring” atau “metangkring”.

Makna Filosofi Bagi Masyarakat Jawa

Angkringan ternyata juga memiliki filosofi yang lebih utama bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap angkringan bukan hanya tempat mengisi perut dengan kisaran harga yang relatif murah. Angkringan dianggap sebagai tempat sosialisasi antar warga dan sebagai simbol egaliter antar manusia. Apalagi dengan harga makanan di tempat ini memang murah sehingga tempat ini menjadi fasilitas yang didukung masyarakat antar kelas sosial.

Menyatu Segala Lapisan

Dengan suasana yang menghadirkan kehangatan dan kesederhanaan di setiap kedai angkringan, menjadi sarana bagi masyarakat untuk membaur satu dengan yang lainnya. Tidak memandang seragam dan status sosial. Bebas membeli penjualnya ikut terhanyut dalam obrolan para pelanggannya. Hal yang seperti inilah yang menjadikan pelanggan setiap-kedai angkringan punya alasan kembali. Kembali pada kodrat manusia yang memiliki derajat yang sama.

Berbagai Sumber

Share this:

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.

Copyright © LintasIndoNews.com | by Media Group AWPI.