Membuka Tirai Kebenaran

Makna Filosofi Jawa Bagi Peradaban Manusia

2 min read

Lintasindonews.com- Opini – Lemah manah atau merendahkan hati bukan berarti tak punya nyali atau takut sejenis phobimania, apa – apa serba takut. Hingga hanya berujung kegagalan, takut salah, takut kalah atau takut gagal hanya sebuah sugesti yang tak berarti. Kenapa tidak yakin jika aku pasti bisa, aku pasti berhasil sebuah sugesti yang sangat berarti. Namun bukan berarti menggampangkan segala suasana, ah itu gampang, itu kecil aku bisa kok, yang berujung kesombongan. Namun di sini yang di maksud aku pasti bisa yang di sertai usaha dan do’a, inilah makna sebuah filosofi jawa seperti pohon padi semakin berisi semakin menunduk.

Padi bila dalam bahasa jawa pari adalah panuntun roso hati ( tuntunan berdasarkan hati ) akan mewarnai kehidupan jawa kuno, seperti sebuah penempatan keris kenapa posisi di taruh belakang ?? Dimana bila kita bersikap harus rendah hati namun tetap memiliki rasa waspada yang tinggi, hingga senjata keris cukup di taruh belakang, dengan arti tidak sombong meski punya kelebihan dalam hidupnya, entah itu jabatan, kekayaan ataupun ketampanan.

Itulah gaya Pria jawa kuno, bila bertutur sapa halus dan merdu, hingga banyak sejarah pria jawa jadi dambaan wanita di seluruh dunia. Bagaimana dengan pria jaman now ?? Para generasi Z atau biasa di sapa para milleania, masihkah menjadi dambaan para wanita ?? Jawabnya adalah generasi sekarang sudah meninggalkan peradaban jawa kuno. Bila bertutur sapa sudah jauh berbeda, banyaknya bahasa prokem daerah hingga nasional sudah tidak membuat pria jawa se seksi pria pada masa itu.

Pola hidup dan gaya hidup sudah pengaruhi peradaban, jawabannya ada dalam diri kita masing – masing sebagai orang jawa, yang telah banyak memiliki warisan leluhur, budaya, estetika dan hubungan vertikal serta horisontal yang telah berbeda. Yang membuat sedikit demi sedikit tergerus hingga lupa dengan sikap njawani. Bukankah ini sebua krisis?? Krisis revolusi mental dan krisis konotatif, seharusnya kita mampu dan bisa mengamputasi dan memarjinalkan hal – hal yang buruk terhadap budaya kita. Semoga dengan ulasan redaksi ini bisa bermanfaat untuk kita semua.

 

Salam redaksi

Rian Hepi

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social