Membuka Tirai Kebenaran

Menangkal Cyberbullying dengan Ajaran Ki Hajar Dewantara

4 min read

Oleh

Astuti Wijayanti, Laily Rochmawati Listiyani, Flora Grace Putrianti
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

 

OPINI, Era milenial 4.0 membawa perubahan besar di segala bidang kehidupan. Berdasar survei yang dilakukan We Are Social di Januari 2020 diketahui bahwa terdapat 160 juta pengguna sosial media; 175,4 juta pengguna internet; 338,2 juta pengguna terkoneksi dengan ponsel dari 272,1 juta total populasi di Indonesia.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa setiap individu sangat familiar dengan akses internet dan penggunaan gawai di kesehariannya, sehingga memiliki peluang sebagai pelaku dan bahkan menjadi korban kejahatan cyber terutama cyberbullying.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dalam kurun waktu sembilan tahun, dari 2011 sampai 2019, telah terjadi bullying baik di dunia pendidikan maupun sosial media dengan angka mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat (https://www.kpai.go.id).

Cyberbullying merupakan salah satu bentuk perundungan menggunakan teknologi digital. Remaja dengan rentang usia 12-20 tahun telah menggunakan gadget dan aktif dalam media sosial atau yang lebih dikenal dengan istilah medsos.

Rahayu (2012) menyatakan bahwa remaja yang mengalami cyberbullying yaitu sebanyak 28% dari 363 siswa. Sebagain besar pelaku cyberbullying adalah teman sekolah dan jenis kelamin laki-laki sebanyak 50%.

Sarana teknologi informasi yang banyak digunakan pada perilaku cyberbullying ini diantaranya menggunakan situs jejaring sosial (35%) dan pesan teks (SMS) (33%).

Meskipun demikian, kita tidak boleh pesimis dan antipati terhadap kehadiran teknologi tersebut, namun tetap optimis dan tetap berupaya untuk mengurangi kecemasan dari dampak yang akan ditimbulkan dari perkembangan teknologi terutama pengaruhnya terhadap perilaku anak-anak jaman now.

Pra remaja (usia 9-12 tahun) dan remaja (usia 12-16 tahun) mudah terpengaruh tekanan teman sebaya. Mereka sering kali mudah marah, mudah dirangsang, dan emosinya cenderung “meledak” karena kemampuan kontrol diri pada anak dan remaja belum optimal.

Pada tahap perkembangan inilah mereka membutuhkan pengakuan diri sehingga mereka menunjukkan eksistensi dirinya di medsos. Oleh karena itu untuk menangkal cyberbullying pada anak dan remaja, hendaknya orang tua, pendidik dan masyarakat bersinergi asah, asih, asuh sebagaimana ajaran yang dikenalkan oleh Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam pengajaran melalui tripusat pendidikan sehingga pendampingan perkembangan anak jaman now dapat lebih optimal.

Rahayu (2005) menjelaskan bahwa kegiatan pengasuhan orangtua tidak hanya cara orangtua memperlakukan anak, tetapi cara orangtua mendidik, membimbing dan melindungi anak dari kecil hingga dewasa sesuai dengan nilai, norma dan kebudayaan masyarakat. Keluarga merupakan tempat terbaik untuk mendidik individu menjadi pribadi yang utuh.

Orang tua dan pendidik dapat melindungi aktivitas anak dan remaja di dunia maya dari kejahatan cyber antara lain dengan cara:

1) membantu anak dalam memahami informasi yang pantas di-share dan informasi yang bersifat pribadi;

2) menyarankan untuk memikirkan lebih dahulu sebelum mem-posting;

3) mengatur privasi pada setelan akun media sosial;

4) mengunjungi dan mempelajari akun media sosial yang dimiliki oleh anak/siswa;

5) berbicara dengan anak dan menjalin kelekatan dengan memberi waktu rutin bicara berdua saja, berbicara dengan lembut dan berkualitas, memperbolehkan anak memiliki rahasia namun yang bukan menyangkut hidup mati atau masa depannya seperti konten pornografi dan intimidasi yang sifatnya berbahaya.

Jika khawatir anak terlibat dalam kegiatan media sosial yang beresiko, kita dapat menelusuri media sosial anak/siswa untuk melihat informasi yang mereka post-kan serta memantau aktivitas dan pergaulan mereka di dunia maya.

Anak dan remaja dapat diajak untuk berlatih Neng, Ning, Nung, Nang dalam mengendalikan emosi terhadap apa yang sedang mereka hadapi.

MENENG (Neng) dengan arti diam sejenak, tetap tenang, tidak panik dan tidak emosi dalam menghadapi masalah.

WENING (Ning) berarti mencari pikiran jernih dengan mengendapkan hati, sehingga mampu melihat sebab-musabab tersembunyi dari perkataan orang lain.

HANUNG (Nung) yang berarti kebesaran jiwa untuk menerima kritik dan saran dari pihak lain dan tidak berpandangan sempit sehingga melahirkan energi positif yang membuat seseorang bahagia dan mampu melakukan hal bermanfaat bagi orang lain.

MENANG (Nang) yang berarti kemenangan moral atau fisik setelah proses Neng, Ning dan Nung dengan tidak menyakiti pihak-pihak lain (kejati-dirian). Pada fase inilah jika terbentuk jiwa positif, maka mereka akan berpikir baik, berperilaku mulia dan berucap baik.

Untuk menumbuhkan sikap anti bullying maka diadakan pelatihan cyber bullying dan literasi digital melalui Ajaran Ki Hadjar Dewantara dari tanggal 6 sampai 8 Juli 2020 melalui daring digital. Karena bersifat digital maka pelatihan menggunakan media Zoom Meating dan Whatsaap group “ Omah Peduli Cyberbullying”.

Kegiatan ini bertujuan untuk menghadapi perubahan yang pasti terjadi, dengan begitu sebagai orang tua, pendidik dan masyarakat harus memiliki literasi digital dan pengetahuan tentang cyberbullying yang sering dihadapi anak dan siswa di dunia maya.

Selain itu, sebagai orang tua, pendidik dan masyarakat juga perlu berlatih Niteni, Nirokke, Nambahi dan Ngerti, Ngrasa, Nglakoni. Implementasinya misalnya pada Niteni yaitu dengan memperhatikan karakteristik anak, dan mempelajari dunia anak jaman now terutama pada teknologi yang digunakan.

Nirokke dengan menirukan, mencoba mengenali dan menggunakan teknologi yang ada terutama sosial media, kemudian Nambahi dengan memberikan arahan dan mengajarkan hikmah agar dapat bijak dalam berkomunikasi di medsos.

Selain itu dengan orang tua, pendidik dan masyarakat mengerti (Ngerti) tentang kebiasaan anak jaman now, karakteristiknya dan kejahatan cyber yang mengancam jiwa anak atau siswa kita, kita bisa merasakan (Ngrasa) sehingga dapat menempatkan diri dan bertindak secara baik dengan anak atau siswa kita, sehingga kita dapat melaksanakan (Nglakoni) dengan memberikan keteladanan yang baik, tidak ikut serta sebagai pembully anak atau siswa kita sendiri.

Melalui beberapa ajaran Ki Hajar Dewantara (KHD) inilah, kita bersama dapat berupaya memutus mata rantai kasus bullying melalui teknologi digital, membantu perkembangan anak dan siswa agar tumbuh menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan bermanfaat untuk sekitarnya sehingga dapat terhindar dari kejahatan Cyberbullying. (•••••)

Dok. Redaksi
SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.