Membuka Tirai Kebenaran

Menelusuri Kesakralan Makam Eyang Singomodo

5 min read
Lokasi Makam Eyang Singomodo

LintasIndoNews.com | Sragen — Kalau sebuah nama desa terbagi menjadi dua bagian dengan pembatas wilayah sebuah jalan pemisah itu wajar. Namun lain halnya dengan Dukuh Modo Wetan dan Dukuh Modo Kulon, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Sragen, Jawa Tengah. Selasa (21/5).

Para perangkat desa kandangsapi saat berpose beesama

Sepintas kedua dukuh tersebut memiliki kesamaan nama, namun tetap beda. Di Dukuh Modo Wetan jika ada orang punya hajat bebas menggelar keramaian, misalnya seni tayuban, wayang kulit, campursari bahkan dangdut. Sedangkan warga Dukuh Modo Kulon pantang menggelar keramaian. Sehingga situasi yang terjadi di Dukuh Modo Kulon kesehariannya begitu tentram dan sepi, kendati di sana saat itu sedang ada warga tetangga yang menggelar hajatan. Kondisi ini sangat kontra.

Sang Juru Kunci KRT Slamet Singo HN

Padahal batas pemisah kedua dukuh hanya ditandai dengan sebuah jalan menuju makam Singo Modo. Sedangkan makam Singo Modo itu sendiri berada di lokasi paling ujung sebelah timur dari kota Kabupaten Sragen yang jaraknya sekitar 45 kilo meter, sekaligus merupakan perbatasan antara Jawa Tengah – Jawa Timur.Itulah sisi kesakralan dari Legenda Makam Eyang Singomodo , Riwayat tokoh yang saat ini makamnya berada di dukuh Modo tepatnya di Pungkruk Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar.

Pengunjung dan Tim. Redaksi

Saat bincang – bincang dengan Kepala Desa Kandangsapi Pandu, di kantor Desa bersama salah satu perangkat desa yang bernama Komar, Pandu mengungkapkan Makam Eyang Singomodo kini sudah di benahi secara fisik, dengan harapan Makam Eyang Singomodo bisa menjadi wisata religi. Yang bisa menyedot perhatian umum, sehingga masyarakat Jawa tetap bisa melestarikan budaya dan sejarah orang-orang pendahulu kita.

“Makam ini dulu sebelum saya menjabat sudah di rehab oleh kakak perempuan saya, kemudian setelah saya menjabat mendapat perhatian dari Bupati Yuni dengan bantuan Rp. 100 juta, yang kini sudah di bangun hingga bisa untuk berwisata religi dengan nyaman dan tenang, ” Ungkap Pandu.

Benar saja, ketika Media ini ingin melihat dan bertandang ke Makam tersebut, diantar Sang Kades dan Perangkat hingga ke lokasi. Saat menapaki jalan menuju lokasi Makam, melewati jalan berbentuk tangga sebanyak 94 anak tangga, Lokasi Makam Eyang Singomodo berada di puncak berbukit, sedang di bagian bawah banyak Makam penduduk.

Tampak suasana nyaman, adem dan penuh aura kebaikan, Penulis bertemu dengan salah satu pengunjung yang kala itu sedang bermalam, sebut saja Muh.Fain Pria berusia kisaran 40 Tahun warga Desa Banyurip Kecamatan Jenar ini, ketika di tanya dia memang rajin mengunjungi Makam ini untuk bertafakur, mengheningkan cipta mendekat kepada yang Maha Kuasa.

“Saya merasa sangat senang dan suka sekali melakukan ziarah ini mas, bisa, menambah keimanan saya jika kita berdo’a dan memohon kepada Alloh SWT bisa terkabulkan, ” Jelas dia.

Sementara dalam penjelasan Komar apa yang dia ungkapkan diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Tidak aneh jika akhirnya muncul beberapa versi yang berbeda, juga pergeseran dari fakta menjadi legenda.

“Ada yang menyebut beliau Eyang Singomodo adalah pejuang sebelum Pangeran Diponegoro, namun ada versi lain yang saya tidak bisa jelaskan. Untuk lebih detailnya silahkan bertemu Juru Kunci mas, ” Himbaunya.

Akhirnya Penulis pun diantar dan bertemu dengan KRT. Slamet Singo HN (65) yang akan mendekati masa pensiun dari jabatan PTD Desa Kandangsapi, dalam penuturan juru kunci makam ini yang juga merupakan salah satu keturunan pengikut Eyang Singomodo, sejarah bermula dari terjadinya kekacauan di sebuah kerajaan. Tidak diketahui nama kerajaan tersebut, hanya diyakini Eyang Singomodo adalah tokoh yang memiliki kekerabatan dengan Pangeran Diponegoro.

Dalam kekacauan tersebut beberapa prajurit (5 orang) dari pihak yang terdesak mengevakuasi salah seorang tokoh penting kerajaan dengan menyusuri Bengawan Solo menggunakan gethek bamboo. Tokoh tersebut diduga adalah seorang guru/suhu dari para Prajurit kerajaan. Nama sebenarnya dari tokoh tersebut Syech Muhammad Nasyir.

Untuk menyamarkan identitas aslinya, beliau berganti nama menjadi Singomodo. Sedang tentang kelima prajurit pendhereknya, melalui laku spiritual, Slamet meyakini mendapat penjelasan bahwa mereka bernama Sholahudin, Raden Mustofa, Rizal, Munir dan Sholeh. Salah satu prajurit tersebut, yakni Raden Mustofa, dia juga merupakan trah dari kerajaan tersebut.

Dalam pelariannya, Eyang Singomodo memerintahkan kepada kelima prajuritnya untuk tidak melabuhkan perahu, dan menyerahkan kepada Tuhan dimana perahu akan terdampar. Konon tiba-tiba ada angina besar yang membuat perahu beserta keenam penumpangnya terlempar.

Konon tiba-tiba ada angin besar yang membuat perahu besar keenam penumpangnya terlempar ke daratan yang sekarang dikenal dengan nama Dukuh Pungkruk. Di situ pulalah Eyang Singomodo menetapkan sebagai tempat menyingkir yang aman. Mereka mendirikan gubuk beratap ialalang, dan mulai membuka hutan untuk dijadikan pemukiman, hingga akhirnya para prajurit tersebut menikah dengan penduduk di sekitar situ dan beranak pinak.

Sementara mengenai Eyang Singomodo, tidak jelas apakah beranak istri atau tidak., Yang jelas dalam pelariannya ia tidak didampingi orang lain kecuali lima prajurit yang mengevakuasinya. Di kompleks pemakamannya saat ini hanya ditemukan 6 kuburan yakni kuburan Eyang Singomodo dan keima prajuritnya. Diyakini Eyag Singomodo tidak menikah sampai akhir hayatnya.

Perkampungan yang dirintis Eyang Singomodo akhirnya berkembang menjadi desa yang ramai pada jamannya. Dia kemudian mendirikan sebuah Masjiddan semacam pondok pesantren. Murid Eyang Singomodo banyak, kurang lebih sekitar 100 orang, dan akhirnya menyebar ke berbagai daerah untuk melakukan siar islam. Konon tidak hanya bangsa manusia yang berguru padanya tetapi ada juga bangsa jin.

” Beliau menerimanya sebagai murid dan diberi tempat tetapi untuk makan harus cari sendiri. Masyarakat sekitar menghubung-hubungkan banyaknya tempat wingit atau angker sekitar pemakaman yang ada sekarang sebagai tempat tinggal murid dari bangsa jin. Tempat-tempat tersebut hingga kini dibiarkan saja dan tidak ada yang berani untuk mengolahnya, “jelas Slamet.

Karena perkembangan perkampungan itu pila, Eyang Singomodo menetapkan luas kepemilikan tanahnya dengan cara melemparkan batas kepemilikan tanah bagi kelima prajuritnya. Penduduk lain dan juga dirinya sendiri. Bagi dirinya, Eyang Singomodo menetapkan luas kepemilikan tanahnya dengan cara melemparkan sebuah batu. Batu itu kemudian dicari dengan berjalan kearah melingkar(temu gelang) menggunakan tongkat yang diseret, bekas seretan tongkat itulah batas kepemilikan tanah Eyang Singomodo.

Hingga kini batas itu masih ada, berupa pematang dan beberapa diantaranya ditumbuhi tanaman perdu. Selain menetapkan wilayah, kepada kelima prajuritnya beliau berwasiat, siapa diantara kelima prajuritnya yang memiliki anak sulung laki-laki, maka mereka dan keturunannya yang kelak wajib menjaga makamnya sementara prajurit yang beranak sulung perempuan, wajib merawat penganggon yang diartikan sebagai segala kelengkapan pakaian, atribut dan pusaka.

Dari kelimanya, tiga diantaranya beranak sulung laki-laki dan dua lainnya beranak sulung perempuan. Slamet, juru kunci yang sekarang ini adalah juga merupakan keturunan dari salah satu prajurit yang beranak sulung laki-laki tersebut.

Eyang Singomodo adalah seorang yang bijak dan berilmu tinggi (sakti). Salah satu legenda tentang kesaktiannya adalah beliau bisa menghilang ketika jaman penjajahan Belanda.

“Ketika beliau dan muridnya dicari atau diburu oleh orang Belanda, hanya dengan bersembunyi dibalik sapu lidi murid-muridnya tidak tampak oleh orang-orang Belanda, ” Pungkas Slamet mengakhiri perbincangan. (Tim 02)

Inspirasi berbagai sumber

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.