Membuka Tirai Kebenaran

Merasa Dicemarkan Nama Baiknya, Kades Cepoko Akan Laporkan Warganya ke Polisi

3 min read

SRAGEN, Tak terima lantaran dibawa-bawa dalam pembebasan tanah, yang akan di dirikan pabrik dan diunggah di media sosial,

Ngadiman Kades Cepoko Kecamatan Sumberlawang Kabupaten Sragen, merasa di rugikan dan siap melaporkan warganya.

Warga yang berinisial SW ini, menandatangani di surat kuasa yang di berikan ke kuasa hukumnya, dengan mewakili beberapa warga yang merasa keberatan jika sawahnya di Desa Cepoko di jual untuk pabrik.

Unggahan soal demo yang dimaksud dilakukan oleh warga dengan orasi intimidasi, dan di lanjutkan dengan mengandeng kuasa hukum.

Dalam surat kuasa hukumnya, menyebutkan dugaan perbuatan melawan hukum/pemaksaan kehendak/ intimidasi yang di lakukan Kepala Desa Cepoko mekakukan intimidasi dan angota-anggotanya tentang penjualan tanah milik pribadi.

Dengan tertanggal 18 maret 2020, pemberi kuasa SW dan dikuasakan kepada Eko Prihyono, SH, MH, keduanya memberi tanda tangan dengan materai Rp. 6000 rupiah.

Saat di konfirmasi Ngadiman menyampaikan, tidak seharusnya seperti itu dan dia merasa tidak melakukan intimidasi. Dia katakan justru pada pertemuan bersama yang mempunyai sawah, nantinya akan berdampak positif.

“Saya sangat menyayangkan sikap SW selaku pemberi kuasa tersebut, padahal dia itu tokoh masyarakat. Dan selama dia jadi ketua RT belum pernah datang di kantor desa untuk koordinasi, seharusnya jika keberatan untuk dijual tabayun dulu, berembuk dengan pihak desa, bukan malah bersikap seperti itu, “katanya. Senin (6/4/2020)

Lebih lanjut, Ngadiman menilai dengan di dirikannya pabrik, desa cepoko adalah desa yang banyak memiliki warga kategori masyarakat kurang mampu, untuk itu dia berharap wilayah kecamatan sumberlawang khususnya desa cepoko bisa menjadi barometer perekonomian di sragen barat.

“Saya tidak ada niat menyengsarakan rakyat, justru sebaliknya ingin mensejahterakan masyakarat sekitar. Nanti terbuka lapangan kerja sekitar 300 ribu tenaga kerja “tegasnya.

Masih apa kata Ngadiman, Warga yang siap menjual lahannya ada sekitar 300an orang. Jika di lihat luasnya ada yang cuma 450 meter, 900 meter, dan yang paling luas 4500 meter persegi.

“Saya sampaikan ini ke warga tidak ada tendensi apa-apa, baik unsur politik maupun unsur kepentingan pribadi. Apalagi unsur keuntungan dari penjualan tanah, “ketusnya.

Dia juga menambahkan, semua masyarakat sekitar bisa mengambil kesempatan job usaha, bagi yang ingin mengambil jasa catering, jasa armada membutuhkan kisaran 200 bus.

“Nanti karang taruna desa cepoko juga di libatkan untuk mendapatkan kegiatan dan pemasukan, “terang Ngadiman.

Ditempat terpisah, salah satu warga berinisial SS desa jati yang rela tanah sawahnya di jual, senada dengan apa yang di ungkapkan Kades, dia berharap jika terealisasi pabrik berdiri bisa berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

“Dulu ada kesepakatan antara warga dan pihak investor untuk dijual, namun akhir-akhir ini ada beberapa warga yang tidak rela tanahnya di beli pihak investor, bahkan ada yang membawa kuasa hukum untuk mensomasi Kepala Desa, ini saya juga punya copyan surat kuasa hukum atas nama SW, “tukasnya sambil menunjukkan copyan surat kuasa. Senin (6/4/2020)

Sementara SW saat di konfirmasi melalui telepon genggamnya mengatakan, semua sudah di serahkan kepada kuasa hukumnya. Dia katakan semua sesuai prosedur hukum, yakni kuasa hukum yang akan menindak lanjuti, ungkapnya. Senin (6/4/2020)

Dalam hal ini jika benar dugaan SW melakukan pelanggaran dan terbukti, dengan sengaja menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan pencemaran nama baik seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE akan dijerat dengan Pasal 45 Ayat (1) UU ITE, sanksi pidana penjara maksimum 6 tahun dan/atau denda maksimum 1 milyar rupiah. (Tim AWPI)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.