Membuka Tirai Kebenaran

Meski di Larang, SMPN 1 Kebakramat Karanganyar di Duga Nekad Lakukan Pungli

2 min read
Tampak depan wajah SMPN 1 Karanganyar

LintasIndoNews.com | Karanganyar — Seperti yang telah diatur dalam berbagai aturan yang tertuang, baik itu dari Peraturan Pemerintah(PP), Permendikbud, Perbub, dan lain sebagainya, yang semuanya telah jelas mengatur tentang sekolah gratis atau sekolah bebas dari segala bentuk pungutan apapun.

Tujuan dan arahnya agar tidak membebani masyarakat, dan menguntungkan kelompok tertentu, namun tetap saja ada sekolah yang masih nekad dan berani melakukan pungutan, seperti yang diduga dilakukan di SMPN1 Kebakramat Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

menurut para siswanya, pihaknya disuruh membeli buku Akasia untuk latihan soal -soal UN seharga Rp 120 ribu (4 buku), bayar album kenangan seharga Rp 120 ribu bayar perpisahan Rp 50 ribu hal ini berlaku khusus kelas 9 untuk buku portofolio seharga Rp 55 ribu untuk semua kelas.

Brbagai pungutan ini bagi orang tua yang tidak mampu pasti merasa terbebani, kenapa pungutan masih saja ada ditengah gembar gembornya sekolah gratis? apalagi sekolah Di kabupaten Karanganyar, dibawah kepemimpinan Bupati Yuliatmono yang telah mencanangkan sekolah gratis, dengan memberikan bantuan lewat BOSDAnya sebagai pendamping Dana BOS.

Yakni Bupati melarang sekolah memungut kepada siswanya dalam bentuk apapun, semestinya jika masih saja ada sekolah yang nekad melakukan pungutan harus mendapatkan sanksi yang tegas, bila perlu diambil langkah hukum dengan menggunakan Undang Undang Tipikor dengan pasal pungutan liar adalah korupsi, agar menimbulkan efek jera bagi pelakunya.

Sementara saat di sampaikan media ini kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Kebakramat Udi Sadono melalui pesan singkat Whats Appnya (WA), dia memberi balasan tidak ada pungutan dari sekolah.

Untuk buku kenang- kenangan dan perpisahan, semuanya ide dari siswa sendiri dan dikelola siswa sendiri, Sekolah tidak mengadakan kegiatan itu. Untuk buku portofolio koperasi sekolah hanya menyediakan buku tersebut untuk membantu kebutuhan siswa dalam mengerjakan tugas.

Lanjut dia, demikian juga untuk buku akasia, koperasi sekolah hanya menyediakan buku tersebut untuk latihan soal – soal UN, baik buku akasia maupun portofolio, tidak ada paksaan, bagi siswa untuk membeli.

Menurut Udi Sadono, siswa yang merasa membutuhkan dilayani oleh koperasi dan yang tidak membutuhkan tidak ada keharusan untuk membeli, jelas dia. (Seno)

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.