Membuka Tirai Kebenaran

Napak Tilas Dalam Rangka Peringatan Hari Jadi Kota Lasem

2 min read

LINTASINDONEWS.com, REMBANG – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Lasem, komunitas Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB) menggelar acara napak tilas kota Lasem melalui acara bertajuk penelusuran sejarah kerajaan Majapahit di Lasem, Kamis (18/6/2020).

Napak tilas dimulai dengan berziarah dan tawassul di pasujudan Sunan Bonang dan makam Putri Cempa, yang berada di perbukitan Desa Binangun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Melalui acara ini, masyarakat diajak untuk memahami sejarah Kota Lasem yang multikultural dan beragam.

Ketua Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB) Puji Darsono yang akrab dipanggil Ki Dalang Gondrong menjelaskan, bahwa acara napak tilas Kota Lasem diikuti budayawan, seniman dan tokoh masyarakat.

Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari kegiatan HUT Kota Lasem yang akan diperingati 21 Juni mendatang.

“Keberagaman dan toleransi merupakan kekayaan Kota Lasem yang perlu kita uri-uri, sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom),” ujarnya.

Nampak hadir di acara napak tilas kota Lasem, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto bersama isterinya Vivit Dinarini Atnasari. Orang nomor dua di Kabupaten Rembang itu berziarah atau tawassaul di Pasujudan Sunan Bonang dan makam Putri Cempa.

“Sejarah Kota Lasem tak bisa lepas dari kedua tokoh, yaitu Sunan Bonang dan Putri Cempa.

Alhamdulilah malam ini saget napak tilas sejarah sekaligus berziarah ke sini,” kata Bayu saat diwawancarai wartawan Lintasindonews.com tadi malam.

Menurut Bayu, toleransi di Kota Lasem terbangun sudah sejak lama. Masyarakat dari berbagai suku, agama ini hidup berdampingan dan saling menghormati, oleh karena itu, menurutnya, kehidupan toleransi di Lasem perlu dilestarikan.

“Toleransi di Lasem bukan hanya sekedar wacana. Jadi, ini perlu dilestarikan,” ungkapnya.

Usai berziarah, Wabup menyempatkan berdialog dan berdiskusi soal sejarah Kota Lasem bersama budayawan dan pelalu kesenian di Lasem.

Di kesempatan itu, Wabup juga menyerahkan tali asih berupa bantuan sembako ke sejumlah seniman setempat.

Perlu diketahui, sejarah Lasem sebenarnya sangat tua, jauh lebih tua dibandingkan ketika jung yang dinakhodai Bi Nang Un mendarat di Pantai Regol, Kadipaten Lasem, tahun 1413 M. Dalam Serat Badra Santi, yang ditulis Mpu Santi Badra tahun 1479 dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa oleh Kamzah R Panji, disebutkan bahwa pada tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi,

Lasem telah menjadi tanah perdikan Majapahit.
Waktu itu, Lasem dipimpin seorang perempuan bernama Dewi Indu, keponakan Raja Hayam Wuruk bergelar Bhre Lasem—dalam versi Kitab

Negarakertagama, Bhre Lasem waktu itu adalah seorang putri bernama Sri Rajasaduhitendudewi, adik perempuan Hayam Wuruk. Bhre merupakan gelar untuk penguasa daerah di bawah imperium Majapahit.

Masih menurut Badra Santi, Bi Nang Un adalah seorang Campa (daerah Indochina, sekitar Vietnam, Kamboja, Laos yang waktu itu menjadi bagian wilayah Kekaisaran Dinasti Ming). Istri nakhoda itu, Puteri Na Li Ni, dikisahkan yang selanjutnya membawa seni batik ke Lasem. ( TRIE )

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.