Membuka Tirai Kebenaran

Negeri MERDEKA Yang Tidak MERDEKA

3 min read

Lintasindonews.com , OPINI – Sudah saatnya Jelang hari Kemerdekaan 17 Agustus di sibukkan banyak kegiatan, dari tingkat RT hingga tingkat Nasional pasti merayakan. Hari yang selalu kita tunggu, pahami bahkan yakini, di satu tahun tertentu di tanggal itu, kita–sebagai sebuah bangsa–telah meraih kemerdekaan yang asasi. Kemerdekaan untuk menentukan nasib kita sendiri. Kemerdekaan untuk berdaulat dan menjadi (jati) diri kita sendiri. Namun, benarkah itu? Benarkah kita sudah mengalami dan menjalani kemerdekaan itu sesuai dengan yang kita bayangkan, pahami, dan yakini?

Mungkin kita selalu bertanya apakah kita sudah menjalani kemerdekaan sesuai cita – cita bangsa ? Banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Kita pun mafhum, dalam hidup global seperti sekarang ini, ternyata semua jawaban itu benar. Hanya dengan satu alasan, apa yang membuat jawaban benarku tidak lebih benar daripada kebenaranmu? Maka semua pun benar karena kebenaran bukan lagi satu pohon atau tiang yang kuat dan kukuh melawan waktu, pilahan demografis, atau geografis.

Untuk itu kita wajib miliki rasa syukur dan terimakasih pada temuan-temuan baru kehidupan modern, seperti kebebasan individu (untuk berpendapat, berkarya, berkumpul, dll), HAM, demokrasi, hingga laizzez faire yang menjadi fondasi kita bernafkah untuk melanggengkan hidup. Kebenaran pun, atas nama itu semua, menjadi bersifat preferensial, sesuai dengan kepentingan, latar belakang, dan tujuan seseorang. Personal.

Hingga situasi yang kemudian ideologis itu kita nikmati dan jalankan sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pun ketika modernitas memproduksi karya budayanya yang paling hebat (terima kasih berkali-kali) yakni teknologi, baik komputasi, informasi, maupun komunikasi. Dalam dunia virtual yang diciptakannya, kita menikmati kemerdekaan yang sebenar-benarnya, lebih dari kemerdekaan mana pun yang diraih bangsa apa pun sejak awal abad 20.

Semua kita dapatkan kemerdekaan (yang dipelintir jadi kebebasan), hampir tanpa batasan negara, kebangsaan, adat, budaya, bahkan perangkat-perangkat keras dan lunak dunia modern seperti sistem politik, hukum atau ekonomi, yang dengan mudahnya diterabas, ditipu, atau dimanipulasi para manusia merdeka ini. Media sosial yang bukan hanya memeluk, melainkan juga menelan (terutama generasi muda) kita, adalah ruang entah-berentah di mana kita merdeka–maksud saya bebas–bahkan untuk tidak merdeka.

Apa sebabnya hingga seperti itu ? Sabarkan hati dan tenangkan pikiran dulu, terutama untuk mencermati waktu sekitar 70-100 tahun lalu sejarah bangsa kita. Apa sebenarnya yang memberi dorongan paling bertenaga sehingga dua proklamator dan ratusan pemuka negeri mendeklarasikan kebebasan kita sebagai bangsa? Karena penjajahan atau kolonialisme? Tentu saja karena tertindasnya sebagian rakyat kita? Pasti. Karena dirampasnya kekayaan natural dan kultural kita oleh kekuatan kolonial? Kita semua setuju. Karena kita direpresi sehingga tidak bisa menentukan nasib sendiri? Setuju! Dan…apalagi?

Alasan – alasan itu cukup untuk membuat sebuah bangsa, di Indonesia, Vietnam, hingga kaum Niger di AS untuk berontak demi kemerdekaan dirinya. Namun mari kita lihat, diri kita saja, dalam kehidupan mutakhir sekarang ini. Dalam alam merdeka bahkan hidup global yang mencapai kemerdekaan…ehm…kebebasan di tingkat puncaknya? Apakah sesungguhnya kita sudah merdeka dari 4-5 poin yang tersebut, sebagai alasan utama para founding fathers-mothers berjuang? Jujurlah. Apakah kolonialisme, hingga di bentuk terberatnya imperialisme, sudah tidak kita alami lagi saat ini?

Kenapa rakyat kecil, baik yang disebut grass roots atau kaum adat, yang ditindas aparatus negara (yang justru mereka ongkosi hidupnya) tidak terjadi lagi? Apakah pengisapan kekayaan natural dan kultural tidak terjadi lebih dahsyat hingga ia meninggalkan luka, bukan di hati kita, melainkan juga jantung bumi dengan kerusakan tak teperbaiki dan ancaman bencana yang permanen? Apakah sungguh kita semua, Anda, dapat menentukan sendiri, diri atau siapa Anda, dan apa yang harus Anda perbuat untuk masa depan atau sekadar survive? Demikian ulasan dari saya semoga bisa bermanfaat. Selamat HUT RI ke 73 semoga negeri ini bisa merdeka sesungguhnya, bukan merdeka yang kamuflase. Amin

Penulis : Rian Hepi

Pegiat Medsos

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social