Membuka Tirai Kebenaran

PB. IDI Outbreak Pneumonia Virus Wuhan: Masyarakat Jangan Panik

3 min read

LINTASINDONEWS.com, KESEHATAN – Siaran Pers yang di terima di meja redaksi Media lintasindonews.com tertanggal (24/1/2020) yang di tanda tangani Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB. IDI) Dr. Daeng M Faqih. SH.MH. menyebutkan Pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru.

Pneumonia dapat menyerang siapa aja, seperti anak-anak, remaja, dewasa muda dan lanjut usia, namun lebih banyak pada balita dan lanjut usia. Angka kejadian pneumonia lebih sering terjadi di negara berkembang.

Pneumonia dibagi menjadi tiga yaitu community acquired pneumonia (CAP) atau pneumonia komunitas, hospital acquired pneumonia (HAP) dan

Ventilator associated pneumonia (VAP), dibedakan berdasarkan darimana sumber infeksi dari pneumonia. Pneumonia yang sering terjadi dan dapat bersifat serius bahkan kematian yaitu pneumonia komunitas.

Saat ini sedang terjadi kasus-kasus pneumonia berat yang bermula dari adanya laporan 27 kasus di kota Wuhan, Tiongkok. Penyebabnya adalah coronavirus jenis baru yang dikenal sebagai Novel Coronavirus (2019-nCOV). Kasus-kasus ini kemudian meningkat cepat. Hingga tanggal 23 Januari 2020 dilaporkan telah mencapai 830 lebih kasus diseluruh dunia dan 25 orang meninggal dunia.

Selain di Wuhan, beberapa Negara melaporkan kasus-kasus suspek serupa dengan di Wuhan yaitu di Thailand, HongKong, Macau, Jepang, Vietnam, Singapura, Korea Selatan dan USA.
Namun, WHO belum merekomendasikan secara spesifik untuk traveler atau restriksi perdagangan dengan Tiongkok. Saat ini WHO masih terus melakukan pengamatan.

Gejala yang muncul pada pneumonia ini mirip &rgan geumonia paia umumnya, diantaranya demam, lemas, batuk kering dan sesak atau kesulitan bernapas.
Perlu diwaspadai pada orang dengan usia lanjut dan balita.

Pada orang dengan lanjut usia atau memiliki penyakit penyerta lain, memiliki risiko lebih tinggi untuk memperberat kondisi.

Masa inkubasi pada penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun rata-rata gejala timbul setelan 2-14 narc Met0de transmjsj Delum diKetanul dengan pasti pula. Awalnya virus ini diduga bersumber dari hewan. Namun ternyata telah ditemukan penularan dari manusia ke manusia.

Terkait pencegahan, belum ada vaksin untuk mencegah kasus ini karena pneumonia pada kasus outbreak saat ini disebabkan oleh coronavirus jenis baru.

Menyikapi hal ini, PB.IDI menghimbau agar :
1. Masyarakat jangan panik.
2. Masyarakat tetap waspada terutama bila mengalami gejala demam, batuk disertai kesulitan bernafas, segera mencari pertolongan ke RS/fasilitas kesehatan terdekat
3. Melakukan dan meningkatkan gaya hidup sehat, yakni •
a. Menjaga kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata; serta setelah memegang instalasi publik. Caranya dengan mencuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air mengalir setidaknya selama 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan sanitizer alkohol 70-80%.
b. Hindari mengusap mata, hidung dan mulut sebelum mencuci tangan.
c. Menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk.
d. Gunakan masker dan segera berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan ketika meiliki gejala saluran napas.
e. Istirahat bila sedang sakit
f. Menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi buah dan sayur minimal 3 kali perhari dan makan makanan bergizi.
4. Saran-saran lain
a. Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit infeksi saluran napas.
b. Sering mencuci tangan, khususnya setelah kontak dengan pasien dan lingkungannya.
c. Hindari menyentuh hewan atau unggas atau hewan liar (wild animals).
d. Patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan.
e. Jika merasa kesehatan tidak nyaman ketika di daerah outbreak terutama demam atau batuk, gunakan masker dan cari layanan kesehatan.
f. Setelah kembali dari daerah outbreak, konsultasi ke dokter jika terdapat gejala demam atau gejala lain dan beritahu dokter riwayat perjalanan serta gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit.

Saat di konfirmasi dr. Krisna Yarsa Putra Sp. B menyatakan tentang orang yang memiliki gejala tersebut, harus di karantina agar tidak menular kepada orang lain.

“Antisipasi cuma bisa dengan pengawasan ketat arus keluar masuk warga antar wilayah. Yang terindikasi terpaksa diisolasi. Belum ada obat yg benar2 efektif untuk virus ini, ” begitu kata Krisna. (Tim)

 

Editor: Rian Hepi

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.