Membuka Tirai Kebenaran

Pedagang Malam Pasar Gemolong Ricuh, Pintu Selatan di Gembok Pedagang Geruduk Kediaman Lurah Pasar

3 min read

SRAGEN, Setelah berjalan empat malam di buka dan tutupmya pintu utama bagian selatan dan timur Pasar Gemolong, kini kemarahan para pedagang tidak bisa dibendung lagi. Kamis (9/4/2020) Pukul 02.00 WIB.

Pasalnya, lurah Pasar Gemolong Harjono membuat kebijakan pedagang di luar Pasar di relokasi ke utara Pasar induk Gemolong. Tepatnya utara terminal angkot, dengan harapan Pasar bisa menjadi tertib.

Saat di konfirmasi Wagiyo Pedagang malam hari di pasar induk yang menempati lokasi di dalam, merasa rugi dan di diskriminatif oleh pengelola pasar Gemolong. Dia katakan kebijakan lurah pasar tidak tepat dan sangat salah.

“Saya tertib administrasi, membeli tempat hak pakai, membayar ijin tahunan, bulanan dan restribusi harian, jika tidak jualan satu hari kita tetap membayar, ” ungkap dia.

Masih kata Wagiyo, dia tidak menpermasalahkan pedagang di relokasi di sebelah utara, namun dia berharap pintu di buka seperti biasanya.

“Saya bersama pedagang malam yang lain ingin pintu di buka seperti biasanya, bukan malah di gembok dengan mementingkan pedagang yang sebelah utara, ” Ketusnya

Sentara Andi yang biasa di sapa Mas Yanto, pedagang kelapa yang biasa jualan pada malam hari senada dengan Wagiyo. Dia merasa kecewa dengan kebijakan lurah pasar yang notabene sangat merugikan pedagang.

“Semua orang jika tempat mata pencariannya di usik sudah pasti akan marah, hal inilah yang menjadi polemik antara para pedagang dan pengelolaan pasar, ” Katanya.

Lebih lanjut, Dia katakan pedagang utama menjadi kesulitan dalam mencari nafkah. Padahal pedagang malam di pasar induk tertib administrasi, baik ijin tahunan maupun retribusi.

Saat audensi di dampingi anggota polsek, di kediaman lurah pasar harjono

“Kebijakan ini sangat tidak tepat sasaran, berharap pedagang di luar juga laku, namun merugikan pedagang di pasar induk, ” tukas pria yang sudah berdagang selama 12 tahun ini.

Yanto juga bercerita awal mula berdirinya pasar malam, yakni ide dari ayahnya (almarhum). Kala itu sangat ayah mendegar keluh kesah security yang gajinya kecil.

“Akhirnya setelah berdiri pedagang malam di pasar induk, para pedagang bisa memberi tambahan gaji security, walaupun dulu saat babat alas juga sepi, namun berkat kesabaran para pedagang malam bisa menjadi ramai, “terang Yanto.

Selain itu, kata Yanto banyak pembeli yang merasa kecewa harus wira-wiri dari pasar utara ke pasar induk, menurutnya banyak keluhan dari para pembeli.

“Mereka hanya bertahan 3 malam saja, baik pembeli maupun pedagang, untuk belanja di pasar utara karena jam 3 pagi sudah sepi, “tukasnya lagi.

Ketika anggota SPTI mendatangi kediaman lurah pasar Gemolong harjono dari arah pasar kebarat 200 meter, yang dikawal anggota Polsek Gemolong terjadi audensi yang agak memanas.

Saat bernegosiasi Marwoto menanyakan kebijakan lurah pasar dan dasar hukum yang di pakai, dalam membuka dan menutup pintu selatan dan timur.

Dalam tanggapannya, Harjono memberi penjelasan jika itu perintah atasan, yakni terkait tentang keamanan di pasar induk. Menurut dia semua pasar juga melakukan yang serupa.

“Semua sudah di rembuk bersama paguyuban dan dari pihak polsek juga mengetahui, ” Ujar Harjono.

Namun ketika Marwoto menanyakan kebijakan atas perintah atasan, apakah di sertai dengan surat perintah, Harjono memapaparkan jika semua perintah itu tidak harus melalui surat, dia jelaskan bisa melalui lisan ataupun chat WathsApp.

Akhirnya negosiasi berlangsung alot dan deadlock, di karenakan para pedagang yang sedang emosi menggeruduk kediaman lurah pasar harjono, dari pihak polsek sendiri memberi arahan agar segera di akhiri negosiasi.

Saat itu para pedagang yang datang meminta ijin untuk membuka pintu pasar bagian selatan, harjono tidak melarang dan juga tidak mengiyakan. Dia hanya diam, yang akhirnya pedagang membubarkan diri untuk pergi berdagang lagi.

Benar saja ketika tim media ini mendatangi pintu selatan pasar induk sudah terbuka, kata salah satu pedagang di buka secara paksa beramai-ramai. (Tim AWPI)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.