Membuka Tirai Kebenaran

Pemilu Kita Bukan Ajang Pencarian Bakat

2 min read
Wachid Pratomo, MP.d
Dosen Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa Yogyakarta.

Banyak teman dunia maya dari lintas negara akhir-akhir ini menghubungi dan menanyakan sedang musim apa di Indonesia? Bingung baru mau menjawab, sebuah screenshot terkirim, lucu namun menggugah adrenalin keIndonesiaan.

OPINI, Bagaimana tidak, foto yang terkirim adalah sebuah pohon dengan macam tempelan baliho terpampang baik Calon Legislator maupun Calon Presiden. Sebuah kalimat menyertai screenshot tersebut “Indonesia subur ya, sampai pohon saja berbuah gambar?”, dalam bahasa meledeknya sedang musim kampanye sampai niat sekali memajang foto menjadi penunggu pohon.

Ilustrasi

Kiriman dari rekan tersebut menjadi pemicu saya untuk menelisik seberapa jauh proses pemilu di Indonesia hingga detik ini.  Merujuk beberapa teori dari buku, mencermati data dari media sosial serta elektronik. Mengkaji perjalanan pemilu selama beberapa dekade terakhir di Indonesia didapat sebuah gambaran bahwa pemilu Indonesia masih mencari pemenang dengan suara terbanyak bukan sebagai ajang pesta demokrasi memilih pemimpin amanah.

Kemudian terbayang dalam pikiran saya sebuah ajang pencarian bakat bertajuk “ Bintang Pantura”, “X Factor”, “D’Academy” maupun “Indonesian Idol”. Kesemuanya sama mencari pemenang dengan suara terbanyak lewat “vote” sosial media dalam bahasa masyarakat awam adalah mencari suara terbanyak untuk menjadi pemenang.
Mari kita cermati antara pemilu dengan ajang pencarian bakat yang booming belakangan ini di Indonesia. Meskipun keduanya berbeda genre bidang permasalahan yang dibahas namun hasil akhir hampir sama yang di inginkan.

Pemilu dimulai dengan kampanye visi misi kandidat, pencitraan diberbagai tempat agar mendapat simpati masyarakat. Lalu mendekati hari pemungutan semakin gencar, jika ada pelanggaran ada Bawaslu sebagai jurinya. Namun semua itu tetap endingnya adalah suara yang paling banyak yang akan menang tidak melihat apa visi dan misi, latar belakang seperti apa asal suara terbanyak dia pemenangnya.

Ajang pencarian bakat tidak beda jauh, seleksi awal kemudian menjadi calon bintang dipanggung diberikan komentar juri namun tetap yang menang adalah suara terbanyak “vote” nya walaupun saat di seleksi juri memberikan komentar miring dan pedas sekalipun asal hasil vote terbanyak dia pemenangnya. Maka saya ungkapkan diatas tadi keduanya hampir sama hasil akhirnya dalam penentuan pemenang.

Padahal pemilu bukan kegiatan main-main yang bisa dianggap remeh, pemilu sebagai sarana menyeleksi calon pemimpin yang akan membawa aspirasi dari masyarakat. Tidak elok rasanya jika cara memilihnya sama seperti memilih calon bintang dunia hiburan. Frans Magnis Suseno pernah berkata “ Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”. Saya kurang tahu apakah hal tersebut bentuk pesimistis karena sulitnya mendapatkan yang terbaik dengan sistem pemilu sekarang atau hanya sebuah cara agar angka golput menurun.

Entah mana yang benar seyogyanya kita bisa lebih cermat dalam menentukan pemimpin, karena pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban baik dunia maupun akhirat serta pemimpinlah salah satu faktor yang akan membawa kemajuan suatu daerah.

Bukan mencari pemenang dengan suara terbanyak ataupun mencari yang terbaik namun paling tidak mendapatkan sebuah pemimpin amanah dengan cara yang fathonah. Karena Pemilu kita bukan ajang pencarian bakat penghasil slogan ” Masuk Pak Eko” lebih dari itu pemilu kita tetap bermartabat dengan semboyan “ LUBER JURDIL”. (**)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social