Membuka Tirai Kebenaran

Pergantian Tahun Menuju 2019 (Refleksi dan Resolusi untuk Bangsa)

5 min read
Ilustrasi

OPINI

Sebentar lagi, kita akan meninggalkan 2018 dan memasuki tahun baru 2019. Sebagai makhluk spiritual, manusia bukan hanya menjalani dan membaca fakta kehidupan, tapi juga memaknainya. Untuk peristiwa yang sama, setiap orang bisa memaknainya dengan cara berbeda. Sebab, sikap dan aksi kita dipengaruhi oleh makna yang kita pilih terhadap fakta. Wadah berisi air setengah adalah fakta. Tetapi kita bisa memaknainya sebagai setengah kosong atau setengah isi, lengkap dengan konsekuensi mental yang menyertainya. Kuntum bunga yang mekar dan daun yang berguguran di halaman adalah sebuah fakta.

Sama hanya dengan pergantian tahun dari 31 Desember 2018 menjadi 1 Januari 2019. Sebagian orang memaknainya dengan penuh makna, sebagian lagi memaknainya hanya sekadar angka yang berubah. Namun demikian, pergantian tahun, pergantian bulan, dan pergantian hari adalah sunnatullah. Satu nilai penting di dalamnya adalah tentang konsep pergantian antarwaktu. Tidak kurang Allah mengabadikan pentingnya memaknai hal tersebut melalui representasi surat Al-Asr. Sunnatullah ini juga diabadikan dengan firman-Nya, “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’d: 2).

Berdasarkan ayat tersebut, kita dapat merefleksikan kembali bahwa banyak kisah yang telah mengisi lembaran hidup dengan berbagai kesan yang pada pengujung tahunnya ditutup kembali dan kemudian dibuka lagi, sehingga semua hal yang telah terlewati disebut dengan sejarah perjalanan hidup. Jika ditinjau dari perspektif Islam, sejarah adalah pelajaran.

Islam bukanlah sebuah agama yang semata-mata mengajarkan bahwa sejarah hanya untuk dikenang dan dipelajari, tapi pada level yang lebih tinggi, sejarah adalah suatu dokumen kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan selama perjalanan hidup di dunia. Bukan hanya itu saja, dalam deretan panjang sejarah anak manusia, kebangkitan manusia disebabkan mereka yang banyak belajar dari sejarah masa lalu.

Makna resolusi

Pentingnya memaknai sejarah dan hal-hal yang telah berlalu, maka munculah kata yang sering kita dengar setiap menjelang akhir tahun yaitu resolusi. Kata resolusi ini sendiri ternyata telah digunakan sejak zaman Babilonia kuno sekitar 4.000 tahun silam. Tradisi kota tua di antara sungai Tigris dan Eufrat, Irak, dikenal sebagai bangsa pertama yang merayakan tahun baru. Saat itu jatuh pada pertengahan Maret, bukan 1 Januari.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), re-so-lu-si adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Jika kita kembali pada arti tersebut, resolusi adalah hasil rapat yang biasanya berisi tuntutan. Misalnya, ketika sekelompok orang akan melakukan aksi, terlebih dulu mereka merapatkan solusi dan tuntutan apa yang akan mereka tuntut.

Hasil dari rapat tersebut disebut resolusi. Namun kata resolusi tersebut sekarang telah mengalami perluasan makna. Makna dari resolusi bisa berarti harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang, kelompok maupun bangsa dan negara yang maknanya diadaptasikan dalam ungakapan tahun baru, karena dalam menentukan harapan (resolusi) seseorang juga menentukan rapat dalam hatinya tentang apa saja yang mau diraih di tahun baru.

Pada masa kini, saat digunakan dalam konteks diri pribadi, kata resolusi merujuk pada ketetapan diri untuk berubah. Perubahan itu bisa dalam hal apa saja. Dalam hal hubungan cinta, karier, atau dalam kesehatan. Jika merujuk resolusi untuk konteks lebih besar yaitu pada tatanan kenegaraan, tentulah kita mengharapkan anak bangsa memiliki resolusi secara kolektif, sehingga 2019 menjadi momentum perubahan besar-besaran.

Bangsa ini harus mampu belajar dari sejarah. Bahkan jika kita kembali ke masa lalu, dapat kita bayangkan selama bertahun-tahun Indonesia ditindas oleh Negara lain dan akhirnya bisa bangkit dan membentuk sebuah Negara kesatuan yang kokoh. Sayangnya, kemerdekaan yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt belumlah kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan pembangunan dari berbagai aspek.

pemerintah-kota-sabang-mengeluarkan-seruan-bersama-terkait-malam-tahun-baru.jpg
Pemerintah Kota Sabang mengeluarkan Seruan bersama terkait malam tahun baru – For Serambinews.com

Dalam konteks sebuah Negara, 73 tahun tentulah merupakan usia yang sudah sangat dewasa bahkan 27 tahun mendatang negara ini akan memasuki usia yang ke-100. Itu artinya selama satu abad lamanya Indonesia merdeka, apa saja yang sudah dicapai? Lalu jika menoleh dengan apa yang dicapai oleh Negara lain seperti Korea Selatan misalnya, mereka memperoleh kemerdekaan dua hari lebih cepat, yaitu 15 Agustus 1945. Padahal sama-sama berangkat dari Negara miskin, akan tetapi saat ini Korea Selatan justru 10 tahun lebih maju bahkan lebih dibandingkan dengan Negara kita.

Meski kini kita telah terbebas dari penjajahan fisik, tapi nyatanya belum bebas dari ketimpangan, kemiskinan dan keterbelakangan. Selama tujuh rezim kepemimpinan, Negara ini berjuang tidak hanya untuk mengupayakan kemerdekaan tapi juga membuktikannya dengan kemajuan, mulai dari reformasi hingga revolusi mental. Namun apakah itu semua benar-benar telah terwujud atau justru semakin mundur dari yang seharusnya sebagai Negara yang kaya akan keanekaragaman budayanya dan santun dalam etika masyarakatnya?

Pesta demokrasi

Tahun 2019, bangsa ini akan merayakan pesta demokrasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres). Menjelang Pilpres 2019, suhu politik semakin memanas seiring dengan maraknya informasi yang beredar tentang dua pasangan capres dan cawapres. Ekspresi masyarakat menjelang 2019 semakin berlebihan, di mana pemicunya adalah kemudahan berkomunikasi melalui media sosial. Sayangnya, hal ini tidak diikuti oleh perkembangan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk bertindak lebih bijaksana, sehingga yang terjadi adalah saling menghina, menghasut, dan menyebar kebencian.

Hal tersebut didukung oleh separuh lebih dari total penduduk Indonesia menggantungkan komunikasinya kepada internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam hasil survei penetrasi dan prilaku pengguna internet 2017 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang. Sementara 129,2 juta orang di antaranya pengguna aktif media sosial (medsos).

Jika berkaca pada jumlah sebesar itu, maka wajar mesos mejadi tempat meledaknya arus informasi yang tak ayal bisa mengundang perdebatan antarpengguna, baik dalam skala kecil maupun besar. Selama ini, konten yang disebarkan melalui medsos kebanyakan juga tidak membicarakan tentang substansi persoalan bangsa. Namun lebih kepada persoalan kecil yang malah bisa berujung pada perpecahan masyarakat. Betapa hati tercabik manakala menyaksikan umat yang begitu mudah saling menghina.

Jika diperhatikan, satu penghinaan di medsos adalah seseorang yang tidak suka pada satu orang, lalu menyebarluaskan, kemudian diikuti oleh orang banyak sehingga terjadiah penghinaan di mana-mana. Jika kita membenci seseorang atau kelompok tertentu, seharusnya cukuplah sekadar saja dengan konsekuensi tidak lagi mempercayakan orang tersebut sebagai pemimpin, bukan lantas mengolok-olok apalagi menghina baik fisik dan nonfisik yang bukan merupakan identitas kita sebagai anak bangsa yang beradab.

Pada akhirnya, tahun yang berganti, mari kita bersama-sama ber-muhasabah (introspeksi), melakukan evaluasi dan merumuskan kembali target dalam kehidupan. Melakukan perbaikan, kegiatan apa yang perlu kita pertahankan dan perlu ditingkatkan dalam menggapai cita-cita atau kesuksesan hidup. Kita bisa memanfaatkan momentum awal tahun untuk menentukan resolusi atau tujuan yang ingin dicapai pada 2019 nanti, baik secara individu maupun sebagai seorang warga negara yang baik.

Resolusi hendaknya tidak perlu terlalu banyak, sedikit saja yang penting terealisasi. Misalnya tahun ini kita tidak ingin lagi menyebarkan kebencian atau menghindari perdebatan tidak berguna, misalnya perdebatan di kolom komentar pada medsos yang bisa berubah dengan cepat menjadi pertengkaran, sehingga memutus ikatan sosial. Lebih lanjut, memeriksa setidaknya tiga kali informasi sebelum mengirim secara viral di medsos, karena berita palsu atau hoaks selalu berisi unsur-unsur emosional dan itu sebabnya bisa menyebar lebih cepat dari berita sungguhan.

Berita palsu sering membangkitkan emosi, sehingga mengundang perilaku impulsif. Apabila kita tidak punya kendali atas kehidupan orang lain, alangkah baiknya tidak merepotkan diri dengan apa yang harus dilakukan orang lain. Jika semua orang memiliki resolusi kolektif seperti ini tentulah dapat berdampak pada Bangsa. Semua itu bisa direncanakan dan ditekadkan dari sejak awal tahun. Semoga ridha dan berkah Allah Swt selalu menyertai kita semua!

Penulis oleh: Dr. Yusniar, S.E., M.M.

Sumber: Aceh.Tribunnews.com

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.