Membuka Tirai Kebenaran

Polemik Puisi Neno Warisman, Ini Kata Mahfud MD

8 min read
09022019danil-mahfud-hadiri-diskusi-saresehan-kebangsaan-3.jpg
Refrensi pihak ketiga

LintasIndoNews.com – Mahfud MD Buka-bukaan soal Puisi Neno Warisman, Komentar Inul Daratista hingga Nikita Mirzani.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD buka suara terkait doa Neno Warisman, Minggu (24/2/2019).  

Melalui akun pribadinya, @mohmahfudmd, guru besar Fakultas Hukum UII ini berkomentar soal doa Neno Warisman setelah ada netter yang bertanya. 

“Slmt petang proof. Prof sy mu nanya ttg puisi ato do.a neno warisma apakah itu di bolehkn dlm agama prof. Mksh prooof smoga sehat selalu,” tanya seorang netter.

Mahfud MD lalu menjawab, Tuhan bisa mendengar doa apa saja, tetapi manusia bisa menilai motif doa dari lahiriyahnya.

Mahfud MD pun turut mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang bermakna, “Kita menilai berdasar apa yang tampak, Allah menghakimi yang sejatinya.”

Sehingga, kita tidak bisa melarang siapa pun mau berdoa seperti apa.

“Tuhan bs mendengar doa apa sj.

Tapi manusia bs menilai motif doa dari lingkungan lahiriyahnya.

“Nahnu nahkumu bil dzawahir, wallaah yahkumu bil bawathin”.

Kita boleh menyikapi scr lahir, tapi Allah yg menentukan maqbul atau tidaknya.

Kita tak bs melarang orng mau berdoa apa pun,” demikian pernyataan dari Mahfud MD.

Komentar Mahfud MD ini pun menuai tanggapan beragam dari netter.

Satu di antaranya yang tidak setuju dengan pendapat pria asal Sampang, Madura tersebut.

Meski ada yang tidak setuju, Mahfud MD menganggap hal tersebut bukanlah masalah.

Tanggapan Jusuf Kalla: Itu Kampanye Keliru

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla menyebut puisi yang dilantangkan Neno Warisman dalam acara Munajat 212 adalah bentuk kampanye yang keliru.

Hal itu disampaikan Jusuf Kalla setelah menghadiri acara Forum Silaturahmi Gawagis Nusantara di Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu (23/2/2019).

Pada awak media, Jusuf Kalla mengatakan, lebih baik menggunakan metode kampanye yang benar, terlebih puisi Neno Warisman berisi cukup keras dan menyinggung masalah agama.

“Saya rasa keliru. Ya namanya kampanye, tapi kampanye yang keliru,” kata Jusuf Kalla.

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menganggap puisi yang dibacakan Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Neno Warisman, saat Munajat 212 di Monas bentuk ancaman kepada Tuhan.

“Saya pikir tidak benarlah berdoa mengancam Tuhan,” ujar Luhut Binsar Pandjaitan dikutip TribunJakarta.com dari Tribunnews.

Puisi yang dibacakan Neno Wariswan pada Kamis (21/2/2019) silam itu memang menyedot perhatian banyak orang.

Termasuk dari kalangan selebritis tanah air.

Pendangdut Inul Daratista dan pembawa acara Nikita Mirzani bahkan sampai ikut berkomentar.

Komentar Inul Daratista dan Nikita Mirzani sontak menjadi perbincangan netizen.

Pantauan TribunJakarta.com komentar itu disampaikan Inul Daratista dan Nikita Mirzani saat membaca sebuah berita di media sosial Instagram.Inul Daratista tampak kaget dan heran saat membaca berita soal puisi Neno Warisman itu.

“Astagfirullah!!,” tulis Inul Daratista dikutip TribunJakarta.com, pada Minggu (24/2/2019).

Inul Daratista lantas menyebut Neno Warisman adalah seseorang yang aneh.

“Aneh wong iki rek,” tulis Inul Daratista.

Komentar Inul Daratista (Instagram Negara Pancasila)

Komentar Inul Daratista itu rupanya disukai lebih dari 600 pengguna Instagram.

Tak hanya itu, ratusan netizen juga tampak sependapat dengan komentar Inul Daratista soal Neno Warisman.

Senada dengan Inul Daratista, komentar Nikita Mirzani juga menjadi sorotan.

Nikita Mirzani menyebut puisi Neno Warisman itu adalah hal yang gila.

“Sinting,” tulis Nikita Mirzani.

Komentar Nikita Mirzani (Instagram Negara Pancasila)

Kritik hingga Sindiran Buntut Puisi Emosional yang Dibacakan Neno Warisman 

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Neno Warisman turut hadir ke lokasi Malam Munajat 212 di Silang Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019) malam.

Datang sekira pukul 20.34 WIB, Neno Warisman mengaku kedatangannya kali ini mengemban sebuah tugas untuk membacakan puisi munajat, mewakili keinginan-keinginan yang ia bilang baik.

“Tugas saya hanya membaca puisi munajat jadi mewakili sebuah keinginan yang baik,” kata Neno Warisman di lokasi, Kamis (21/2/2019).

Meski begitu, Neno belum mau membocorkan apa isi puisi yang akan dibacakan di atas panggung nanti.

“Nanti, baiknya didengerin,” imbuhnya.

Lebih jauh, Neno Warisman juga sedikit berkomentar soal pelaksanaan acara ini.

Kata Neno, kegiatan munajat kali ini tidak berbeda dengan kegiatan pada umumnya.

Yakni berdoa sepenuh hati, mengharapkan keridaan dan bantuan dari Sang Pencipta.

“Munajat seperti biasa adalah kebiasaan yang baik. Kita mencari hari-hari yang baik, menjelang suatu niat,” katanya.

PUISI MUNAJAT 212

Allahu Akbar

Puisi munajat kuhantarkan padamu

Wahai berjuta-juta hati yang ada di sini

Engkau semua bersaudara dan kita bersaudara

Tersambung, terekat, tergabung bagai kalung lentera di semesta

Sorot-sorot mata kalian bersinar, wahai saudara

Mencabik-cabik keraguan

Meluluhlantakkan kesombongan

Karena mata-mata kalian nan jernih

Mengabarkan pesan kemenangan yang dirindukan

Insyaallah, pasti datang

Allahu Akbar

Kemenangan kalbu yang bersih

Kemenangan akal sehat yang jernih

Kemenangan gerakan-gerakan yang berkiprah tanpa pamrih

Dari dada ini telah bulat tekad baja

Kita adalah penolong-penolong agama Allah

Jangan halangi

Jangan sanggah

Jangan politisasi

Sebab ini adalah hati nurani

Dari mulut-mulut kita telah terlantun salawat, zikir, dan doa bergulir

Mengalir searah putaran bintang-bintang bertriliun banyaknya

Tersatukan dalam munajat 212

Miliaran matahari itu saudaraku

Merekatkan diri menjadi gumpalan kabut cahaya raksasa di semesta

Bukti kebesaran Allah Azza Wa Jalla

Begitulah kita saudaraku

Harusnya kita saling merekat

Wahai para pejuang fisabilillah di dalamnya

Ayo munajat

Ayo rekatkan umat

Jadikan barisanmu kuat dan saling rekat

Rekatkan Indonesiamu

Rekatkan jiwa-jiwamu

Rekatkan langkah dan tindakanmu

Ya Allah

Berjuta tangan para pejuang agamamu ini

Mengepalkan tinju mereka

Berseru-seru mereka

Menderu-deru mereka

Di setiap jengkal udara

Hingga terlahir takbir kemenangan

Kemenangan di ujung lelah

Menggema takbir bersahut-sahutan

Berjuta sajadah akan kita hamparkan sebentar lagi, kawan

Berjuta kepala menangis bersujud bersyukur

Basah air mata dalam bahagia

Kemenangan sebentar lagi tiba

Allahumma inni a’uzubika min jahdil bala’i wa darkisy syaqa’i wa su’il qada’i wa syamatatil a’da’i

Jauhkan kami dari bala musibah yang tak dapat kami atasi

Lindungkan kami dari kegembiraan orang-orang yang membenci kami

Rekatkan jiwa-jiwa patriot kami dalam keikhlasan

Di nadi-nadi kami

Di jantung-jantung kami

Di pundak-pundak kami

Di jari-jari kami

Yang telah memilih untuk hanya selalu berdua

Kita dan Allah Azza Wa Jalla

Selalu berdua

Kita dan Rasulullah kekasih semesta

Selalu berdua

Kita dan saudara mukmin saling menjaga

Selalu berdua

Kita dan pemimpin yang membela hak-hak umat seutuhnya

Duhai Allah Rabb

Jangan kau jadikan hati kami bagai si penakut pengecut

Sebab kami terlahir di tanah para pahlawan pemberani

Yang rela mengorbankan jiwa raga harta dan segalanya

Jangan jadikan hati kami lalai dan gentar

Karena kami lahir dan besar dibimbing para ulama kami yang sabar

Menetap jantung-jantung kami untuk menjadi pendekar

Yang berani berpihak pada yang benar

Duhai Allah

Jangan kau jadikan hati kami dari tertutup

Dari cahaya terang kebenaran yang menyala di malam-malam munajat

Saat Engkau turun ke jagat dunia

Telah Engkau bersaksikan

Kami tegak berdiri, ya Allah

Kami meminta menangis hingga basah sekujur diri kepada-Mu

Seluruh harapan kami dambakan

Akan Kau tolong atau Engkau binasakan

Akan Kau menangkan atau Engkau lantakkan

Itu hak-Mu

Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka

Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami

Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami khawatir ya Allah

Kami khawatir ya Allah

Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Ya Allah

Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin

Oleh pemimpin terbaik

Dengan pasukan terbaik

Untuk negeri adil dan makmur terbaik

Takdirkanlah bagi kami

Generasi yang dapat kami andalkan

Untuk mengejar nubuwwah kedua

Wujud dan nyata

Dan lahirnya sejuta Al Fatih di Bumi Indonesia

Allah Rabb

Puisi munajat ini kubaca bersama saudara-saudaraku

Mujahid mujahidah yang datang berbondong-bondong dari segala arah

Maka inilah puisi munajat

Mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu

Bersimpuh di pelataran keprihatinan

Atas ketidakadilan

Atas kesewenang-wenangan

Atas kebohongan demi kebohongan

Atas ketakutan dan ancaman yang ditebar-tebarkan

Atas kepongahan dalam kezaliman yang dipamer-pamerkan

Dalam pertunjukan kekuasaan

Yang mengkerdilkan Tuhan

Yang menantang kuasa Tuhan

Yang tidak percaya bahwa Tuhan pembalas sempurna

Ya Rabb

Engkaulah yang memiliki kekuasaan mutlak di seluruh jagat ini

Allah

Ini puisi munajat

Yang mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu

Turunkanlah malaikat berbaris-baris

Burung-burung Ababil

Dan semut-semut pemadam api Ibrahim

Munajat penuh harap

Kau turunkan pertolongan yang dijanjikan

Bagi yang terdera

Bagi pemimpin yang terfitnah

Bagi ulama yang dipenjara

Bagi pejuang yang terus dihadang-hadang

Bagi pembela keadilan yang digelandang ke bilik-bilik pesakitan

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad

Wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad

Wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin

Wa akhrijna min baynihim saalimin

Wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in

Untuk hari depan yang lebih baik

Untuk kepemimpinan yang berpihak pada rakyat

Bersama-Mu, bersama rasul-Mu

Dalam ketinggian titah-Mu, kami bermunajat

Keluarkan kami dari gelap

Keluarkan kami dari gelap

Keluarkan kami dari gelap

Amin Allahumma Amin ya rabbal alamin

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengomentari puisi yang dibacakan Neno Warisman di acara Munajat 212.

Hal tersebut disampaikan Fahri Hamzah pada akun Twitter pribadinya @Fahrihamzah pada Jumat (22/2/19).

Dalam cuitan tersebut, Fahri menilai bahwa puisi dan harapan peserta acara Malam Munajat 212 mengetuk pintu langit.

“Bener2 mengetuk pintu langit,” tulisnya.

 Surga tidak gratis

Tim KH Ma’ruf Amin, Habib Sholeh Al Muhdar menanggapi puisi Neno Warisman di Aksi Munajat 212 yang isinya dianggap ‘mengancam’ Tuhan.

Menurut dia, surga itu tidak gratis. Surga tak bisa didapatkan dengan menangis di hadapan manusia.

“Surga tidak gratis. Jadi jangan menangis di hadapan manusia, tapi hatinya dengki, hasut. Semua manusia itu (berdoa) dari hati,” kata Habib Sholeh menjawab wartawan di sela Safari Kebangsaan VIII, di Bandung, Sabtu (23/2/2019).

Habib Sholeh meminta agar jangan munafik dan seolah-olah Neno cs lebih Islami dan lebih mulia di hadapan Allah SWT dibanding manusia lainnya.

“Jadi surga tidak gratis. Surga kita dengan kelakuan kita, amal kita, bukan karena munajat-munajat di Monas itu bisa masuk surga. Walaupun tiap hari munajat di Monas belum tentu masuk surga,” kata Habib Sholeh.

Neno Warisman disebut terjebak fanatisme politik

Sekjen PKB, Abdul Kadir Karding (Tribunnews.com/ Vincentius Jyestha)Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Abdul Kadir Karding, menilai apa yang diucapkan Neno Warismandalam acara Munajat 212 di Monas pada Kamis (21/2/2019) malam tidak pantas disebut sebagai doa.

Melainkan cuma orasi politik yang bersifat pragmatis berkedok agama.

“Pilihan diksi dalam ucapannya tampak sekali dibuat untuk menggiring opini publik. Seolah-olah hanya merekalah kelompok yang menyembah Allah. Sedangkan kelompok lain yang berseberangan bukan penyembah Allah. Pertanyaan saya dari mana Neno bisa mengambil kesimpulan itu? Apa ukurannya sampai ia bs mengatakan jika pihaknya kalah maka tak akan ada lagi yang meyembah Allah?” kata Karding.

Menurutnya, Neno adalah contoh paling gamblang bagaimana agama dijadikan kedok untuk tujuan politik.

Karding mengatakan, Neno  menafikan kenyataan bahwa Pak Jokowi-Maruf didukung oleh begitu banyak kiai, santri pondok pesantren, umat Islam yang juga menjalankan shalat, zakat, haji, dan berbagai kelompok lintas agama.

“Apa Neno merasa cuma dia dan kelompoknya yang menjalankan ibadah?” katanya.

“Saya mengerti seorang umat beragama tidak bisa melepaskan ketentuan yang telah diatur Tuhan dalam menjalankan aktivitasnya, termasuk saat berpolitik. Tapi menjadikan nama Tuhan untuk tujuan politik seraya menggiring opini seolah lawan politiknya tidak menyembah Tuhan jelas merupakan hal mengggelikan. Apa Neno mengira bahwa surga dan Tuhan hanya untuk kelompok mereka?” katanya.

Lebih lanjut Karding menambahkan, kalau ada yang menganggap Neno terlalu fanatik agama menurutnya, hal itu keliru.

“Karena orang  yang fanatik agama berarti ia mengerti betul tentang nilai-nilai esensial yang diajarkan agama, seperti menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan sesama manusia. Bukan mengklaim seolah kelompoknya yang paling benar dan yang lain salah,” katanya.

“Bagi saya Neno sedang terjerat dalam fanatisme politik. Ucapannya bukan saja mendiskreditkan kelompok yang berlainan politik dengannya tapi bahkan juga berani mendikte dan mengancam Tuhan,” tambahnya.

Sumber: Tribunnews.com/TribunJakarta

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.