Membuka Tirai Kebenaran

Pondok Al-Frustasiyah, Tempat Belajar untuk Para Santri yang Frustasi

2 min read

REMBANG – Pondok pesantren pada umumnya menjadi tempat belajar bagi para santri. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, ada yang dari kalangan pejabat pemerintah, tokoh ulama, bahkan ada pula para santri nakal berlatar belakang kelam.

Di pondok pesantren pula, para santri dibimbing agar menjadi pribadi lebih baik dan memiliki ilmu agama. Masing-masing pondok pesantren, punya keunikannya sendiri-sendiri. Tak terkecuali bagi sebuah pondok pesantren yang berada di Dusun Caruban, Kecamatan Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang ini.

Di pondok pesantren itu, para santri yang menimba ilmu di sana, umumnya adalah mereka yang mengalami depresi, frustasi, atau orang-orang yang hampir putus asa dengan beban hidup. Pondok itu memiliki nama yang unik yaitu Pondok Bodo “Al-Frustasiyah”. Pondok ini memiliki sistem pembelajaran yang berbeda dari pondok pesantren kebanyakan. Berikut kisah selengkapnya:

 

Sejarah Pondok Al-Frustasiyah
Dilansir dari Alfrustasiyah.com, Pondok Bodo Al-Frustasiyah didirikan oleh KH. Hambali Abu Syuja’ Arruslani pada tahun 1973. Di kala mudanya, KH Hambali banyak mendapat tantangan hidup yang luar biasa, terutama dari mertuanya sendiri. Selain itu, dia juga dikenal sebagai ulama kontroversial di mana banyak kiai lain yang tak cocok dengan sepak terjangnya.

Kondisi itulah yang membuat kiai yang akrab disapa Mbah Hambali itu, meminta nasihat pada gurunya, Kyai Hamid Pasuruan. Dari gurunya itu, dia mendapat petunjuk untuk menetap di pesisir pantai utara dekat makam Nyai Ageng Maloka (kakak perempuan Sunan Bonang).

Di tempat itu, ia mendirikan sebuah pondok tempat belajar agama. Pada awalnya, Mbah Hambali tidak memberi nama pondok itu seperti pondok-pondok pada umumnya. Para santri di sana juga hanya menyebut pondok itu pondok’e Mbah Hambali.

Namun seiring waktu, ia kemudian memberi pondok itu dengan nama Hikmatus Syari’ah. Lalu, diubah dengan nama Hikmatus Sababain, dan namanya diubah lagi menjadi Al-Frustasi dan terakhir menjadi Al-Frustasiyah.
Sumber: merdeka.com
Editor: Seno

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.