Membuka Tirai Kebenaran

Portal, Maling dan Corona

2 min read

Oleh
Wachid Pratomo
Pemerhati Lingkungan sosial

OPINI, Di beberapa sudut daerah yang terkatagori zona merah covid-19 bahkan merambah ke desa-desa akhir-akhir ini banyak terjadi perubahan, yaitu pemasangan portal di gerbang-gerbang desa.

Bahkan portal-portal itu dibangun juga di jalan-jalan yang menghubungkan banyak desa, ada buka tutup ada yang 24 jam tanpa dibuka. Di dekat portal dibangun tenda darurat, dengan penjagaan secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Para penjaga, di beberapa titik malah tidak melakukan physical distancing dan bergerombol. Mereka melakukan pendataan. Tamu dilarang masuk. Para penjual sayuran dan makanan tidak boleh masuk. Ojek juga dilarang. Bila hendak berhubungan dengan pihak luar, harus dilakukan di luar portal, di luar jam malam.

Pencegahan perluasan gerak langkah covid-19, terkadang sudah tidak masuk akal. seruan stay at home, social distancing dan physical distancing, telah diterjemahkan dengan pelarangan-pelarangan yang semakin hari semakin pula tidak masuk akal.

Di beberapa titik, di gerbang desa dipasang ruang penyemprotan disinfektan. Siapapun yang masuk, harus melewati sesi penyemprotan tipis-tipis yang terkadang ada beberapa orang yang alergi jika kulit terkena langsung disinfektan.

Saya meraba ada kekeliruan memahami covid-19 sudah merebak ke seluruh kelas sosial. Dimulai dari kebijakan pemerintah yang terlihat setengah hati dari larangan mudik, pulang kampung diterapkan disaat pandemi sudah melebar sehingga kurang efektif karena sudah banyak yang curi start untuk pulang diawal wabah.

Rakyat yang merasa terancam membuat inovasi. Memasang portal. Melarang aktivitas dengan pembatasan yang luar biasa ektrim. Namun sayangnya masyarakat kita melupakan satu hal, disaat semua orang luar dilarang masuk tapi apakah ada kepastian jika orang yang ada didalam portal pasti terlindungi. Ingat mereka juga masih banyak bekerja dan terkadang banyak yang tanpa pengaman minimal masker.

Portal bagus sebenarnya dapat mengurangi pergerakan maling yang akhir-akhir ini mulai meresahkan juga disamping covid-19, namun tujuan utama portal adalah mengurangi interaksi orang luar yang akhirnya dapat menekan laju covid-19 yang sudah sangat dahsyat disekitar kita.

Saya masih ingat bagaimana cara negara maju menekan covid-19, bukan dengan portal namun membangun kemandirian dan pemahaman tentang kebersihan serta protokol kesehatan untuk menjaga diri yang tentu berimbas pada orang lain.

Kita perlu menyadarkan diri bahwa cara efektif utama agar wabah ini cepat berlalu bukan hanya portal namun kesadaran akan menjaga diri dengan masker, rajin cuci tangan dan mengurangi kontak dengan banyak orang.

Semua itu akan sangat membantu , sedang portal, ronda malam terkadang kurang efektif karena ronda akan membuat kita terjaga sampai pagi yang tentu mengurangi daya tahan tubuh dan rentan covid-19 ditambah ronda malam dilakukan serempak tanpa menjaga jarak.

Pandangan saya alangkah eloknya jika portal tetap dipasang tidak 24 jam namun sesuai kondisi agar semuanya berjalan normal, ronda malam tidak melibatkan semua warga secara bersamaan namun digilir, menambah kesadaran pribadi jika keluar rumah memakai masker serta mematuhi protokol kesehatan, dan segera mandi atau cuci tangan serta mencuci baju jika dari bepergian serta yang lebih penting perkuat iman dan imun kita disaat bulan puasa ini.

Semoga Tuhan segera mengangkat covid-19 ini serta melindungi kita semua khususnya bangsa Indonesia dan umumnya warga dunia. aamiin

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social