Membuka Tirai Kebenaran

Reinternalisasi Pancasila

2 min read


Oleh Wachid Pratomo
Pengajar,UST YK

OPINI

Pembicaraan mengenai apakah Pancasila relevan atau absah sebagai dasar negara, sudah lama kita tinggalkan karena Pancasila adalah kita. “Zaman untuk memperdebatkan maksud dan isi Pantjasila telah lama liwat dan lampau. [Prof. Mr. Muhammad Yamin, Tinjauan Pantjasila Terhadap Revolusi Fungsional, Seminar Pantjasila ke 1 s/d 20 Pebruari 1959 di Yogyakarta]. Pembicaraan tentang Pancasila sejatinya mengenai bagaimana mereinternalisasi dan mengaktualisasian Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila bukan agama.

Tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah bagian dari ajaran agama. Menjadi pancasilais semakin mendekatkan seseorang menjadi agamis. Menjadi agamis mendekatkan seseorang menjadi pancasilais.

Pelaksanaan reinternalisasi pancasila melalui berbagi tahap dan cara seperti memunculkan ketulusan bagi segenap rakyat untuk aktualisasi pancasila dalam kehidupan sehari – hari, menguatkan nasionalisme, menegakkan kemerdekaan/kemandirian sebagai bangsa, menguatkan Indonesia Identity kecintaan kepada bangsa sendiri dan meminimalisir sikap imperority. Reinternalisasi sila pancasila dapat dilakukan dengan memaknai sila itu sendiri, Sila pertama misalnya dengan adanya konsep Ketuhanan melahirkan tekad untuk menjadi yang terbaik dan sebagai wakil Tuhan menebarkan kebaikan bagi semua.(Rahmatan Lil ‘alamin).

Sila kedua dengan Kesadaran akan keberadaan manusia lain di sekitarnya, sehingga dia bersifat toleran dan menghargai orang lain. Aplikasi sila ketiga melahirkan pemikiran Kebhinnekaan adalah takdir Tuhan.

Meski Ia dapat melakukan uniformitas makhluk-Nya dari segi agama, budaya, dan ras. Namun kenyataannya manusia berada dalam kenyataan kebhinnekaan. Oleh karenanya sebagai bagian dari ketaatan pada Tuhan maka manusia harus mencari titik temu (ketunggalikaan) dalam kebhinnekaan mereka.

Sila ke empat pengejawantahannya melalui Hikmah didaratkan dalam musyawarah, menggali kehendak bersama, yang diaktualisasikan dengan menyadari kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga tercipta shering (al-nashihah) diantara rakyat Indonesia.

Dengan demikian tidak ada pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya ‘secara ugal-ugalan’ dan tidak ada pula rakyat yang ‘bermental menerabas”. Sila kelima dengan konsep keadilan bersifat universal karena keadilan adalah sifat Tuhan yang ditransfer kepada manusia sebagai wakil (khalifah)-Nya.

Keadilan pula yang menjamin seorang pemimpin menyadari bahwa ‘hutangnya’ kepada rakyat adalah mewujudkan kesejahteraan, bukan saja kesejahteraan materi tetapi juga mental dan spiritual. Sebagai penutupnya Pancasila adalah falsafah, bersifat ruhaniah, dan menyangkut substansi paling sentral dalam diri manusia Indonesia.

Maka untuk mendaratkannya dalam kehidupan rakyat Indonesia haruslah dimulai dengan reinternalisasinya sebagai konsep kedirian bangsa Indonesia untuk kemudian menjadi model kehidupan setiap warga negara. ✌

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.