Membuka Tirai Kebenaran

Ruang Kelas SMAN 1 Wuryantoro Terbakar, Diduga Konsleting Listrik

2 min read

Atap ruang kelas yang diduga sumber api

LINTASINDONEWS.com, WONOGIRI — Sejumlah ruang kelas di SMA Negeri 1 Wuryantoro, Wonogiri terbakar, Selasa (21/7) pagi. Diduga, pemicu kebakaran adalah konsleting listrik. Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

“Jam 08.00 WIB, saya mendapat laporan. Langsung kita kerahkan petugas untuk meluncur ke sana,” ungkap Kepala Satpol PP Wonogiri, Waluyo.

Menurut dia, informasi kebakaran tersebut disampaikan salah satu guru di SMAN 1 Wuryantoro. Pihaknya kemudian menerjunkan dua unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi. Enam personel pemadam kebakaran dikerahkan.

Diduga, api berasal dari atap salah satu ruang kelas di SMA tersebut. Api diduga kuat berasal dari konsleting listrik.

Sepertinya konsleting listrik di plafon. Kalau kebakaran terjadi di dapur ada kemungkinan berasal dari api di kompor. Tapi kebakaran di sana, di atap,” kata Waluyo.

Tak berselang lama, guru dan karyawan SMAN 1 Wuryantoro langsung mengetahui adanya kepulan asap di atap ruang kelas tersebut. Mereka pun berusaha memadamkan api sehingga api bisa dikendalikan dan tidak menghanguskan properti lain.

“Untungnya api tidak langsung membesar, sebab di sana sudah ada Apar (alat pemadam kebakaran), jadi apinya masih bisa dikendalikan,” jelasnya.

Dia menilai, kesiapsiagaan guru dan karyawan SMAN 1 Wuryantoro sangat baik. Selain itu, peralatan pemadam kebakaran juga siap digunakan.

“Ketika petugas kami sampai di lokasi kejadian, tinggal melakukan pendinginan. Sebab masih ada asap yang mengepul meskipun sudah terkendali,” tambahnya.

Terpisah, Kepala SMAN 1 Wuryantoro Susilo Joko menduga kebakaran terjadi akibat konsleting listrik.

Dia mengatakan, atap ruangan yang terbakar adalah ruang kelas 12. Selain itu lokasi kebakaran dekat dengan masjid sekolah.

“Sudah dihandle dari PLN juga, tadi juga langsung dicek. Ketika kebakaran diketahui, kawan-kawan langsung menangani dengan Apar yang ada. Pemadam kebakaran juga dihubungi tadi,” paparnya.

Beruntung guru dan karyawan dalam kondisi siaga. Air dari kran yang ada di sekitar masjid untuk keperluan wudhu kita gunakan untuk membantu pemadaman selain dengan empat apar.

“Kalau untuk kerugian sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta,” ujarnya.

Sumber: timlo.net
Editor: Seno

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.