Membuka Tirai Kebenaran

Saatnya Idealisme Jurnalis Tertantang

2 min read

LINTASINDONEWS, OPINI – Setiap 9 Februari kita selalu peringati Hari Pers Nasional, dimana peran serta pers yang telah tertuang dalam Undang – undang Pers No.40 Tahun 1999, sebagai fingsi kontrol yang memiliki kebebasan namun bertanggung jawab.

Bagaimana jika kita selaku insan Pers di tanya tentang idealisme ??. Apa itu idealisme wartawan?? Jawaban gampangnya ialah seorang wartawan yang dalam menjalankan profesinya selalu dituntut bersikap netral, jujur, berimbang dan bertanggung jawab.

Menyangkut soal tanggung jawab wartawan, Theodore Peterson dalam buku Four Theory of The Press menyebutkan bahwa pers dalam negara demokrasi memiliki kewajiban dan tanggung jawab kepada masyarakat, ketika menjalankan fungsi-fungsinya.

teori ini mempertegas ungkapkan bahwa wartawan sebagai salah satu unsur terpenting pers, dituntut untuk bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, terutama ketika membuat berita dan menyiarkannya kepada publik.

Contoh salah satu subjek penting dalam dunia pers, wartawan mempunyai dua fungsi yaitu pertama sebagai seorang profesional. Dalam fungsi ini, seorang wartawan berkewajiban menyampaikan berita kepada publik agar masyarakat well inform.

Dunia Pers identik dengan media massa (surat kabar, majalah, televisi dan radio) serta media online (website). Wartawan zaman now, dinilai sebagai profesi atau pekerjaan yang banyak menghasilkan uang, kenal dan akrab dengan sejumlah selebritis, atlet, pejabat dan pengusaha.

Kemudian bagaimana menerima tantangan memegang idealisme? Atau mungkin saja, jabatan dan harta benda yang mereka miliki merupakan hasil dari ‘penjualan’ idealismenya. Itu semua hanya mereka yang tahu.

Berprofesi sebagai wartawan di era milenal, sangat sulit untuk tidak bersentuhan dengan uang dan harta benda. Antara kepentingan profesi dan kebutuhan hidup, tanpa disadari sering bercampur jadi satu.

Sebagian besar masyarakat menganggap, profesi wartawan sebagai salah satu jalan pintas untuk cepat menjadi kaya raya. Namun, itu semua tergantung dari niat orangnya. Ada sejumlah wartawan yang menjual idealismenya kepada kelompok kapitalis dengan tujuan untuk mendapatkan sejumlah uang dan harta benda. Kalau ini terjadi, maka dalam menjalankan profesinya, seorang wartawan akan didikte kaum kapitalis.

Namun, ada juga wartawan yang masih mempertahankan idealisme. Kebutuhan hidup mereka tetap terpenuhi, walaupun terkadang terpaksa harus ngutang sana-sini untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya, demi bertahan hidup hingga masa depan keluarga menjadi tidak terang, bahkan ada yang terang – terangan jika ingin kaya jangan jadi wartawan idealis.

Ada sebuah kenikmatan bathin yang tidak ternilai harganya, ketika seorang wartawan mempertahankan idealismenya yaitu mereka bisa bebas menulis atau meliput apa saja tanpa ‘dicekoki’ oleh kepentingan apa pun.

Wartawan idealis akan terus berkarya jurnalistik dengan tetap menjaga etika dan bertanggung jawab secara moral, agama serta sosial. Mereka juga akan selalu berhati-hati ketika mengungkapkan data dan fakta berita, agar kebersihan hati dan pikiran masyarakat tetap terjaga. Semoga saja idealisme pers masih ada. Itulah ulasan dari kami, yang kami olah dari berbagai sumber.

Semoga bermanfaat dan selamat berkarya, informasi kita di tunggu masyarakat.

Salam Redaksi

Penulis : Rian

Editor. :   Rian

Inspirasi berbagai sumber

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.