Membuka Tirai Kebenaran

Sambut 1 Suro, Ratusan Warga Dan Siswa PSHT Gelar Doa Bersama dan Penyatuan Alam di Puncak Lawu

3 min read

Foto dari kiri Ustad Choirul RS, Putra Kang Mas Hadi, Kang Mas Hadi Laksono J, dan Tim Lintas Indo.

LintasIndoNews.com | Karanganyar,
Dalam rangka menyabut 1 Suro / 1441 Hijriah ratusan Warga dan siswa PSHT melakukan giat menyatu alam dan doa bersama di kawasan Pringgodani Puncak Gunung Lawu. Tepatnya di Desa Blumbang, kec Tawangmangu ,kab Karangayar, Jawa Tengah, Sabtu (30/9).

Persiapa menuju puncak di Pimpin Kang mas Sugeng dari Kopasus (Kaos putih)

Giat tersebut guna mengingatkan sejarah para pejuang melalui dunia pencak silat. Salah satunya, jasa Ki Hadjar Hardjo Oetomo dari Madiun yang turut berperan merintis kemerdekaan dengan menyatukan elemen bangsa lewat organisasi dan dunia silat.

Dengan menyatu Alam merupakan ibadah mengenal Alam dan isinya.
Tahun baru Islam atau biasa di sebut 1 Muharam adalah tanggal yang penting bagi umat Islam utuk memperingati Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dalam perjalan dari Mekah ke Madinah .Dari sejarah itulah masyarakat Jawa menilai 1 Suro merupakan hari yang sakral dan di isi kegiatan dengan tradisi budaya jawa. Pada dasarnya, hal tersebut di lakukan bukti kejayaan budaya yang beraneka ragam yang ada di Indonesia .

Selaku panitia kegiatan Hadi Laksono Jati memberi arahan, ada beberapa hal yang menurutnya makna dari 1 Suro perlunya di isi dengan kegiatan yang positif, misalnya dengan mengenal alam dan doa bersama merupakan suatu ibadah, seperti giat yang di lakukan saat ini.

“Saya selalu memberikan wedaran yang paling terpenting, yaitu manembah kepada Alloh SWT,” Ujarnya.

Selain itu, ada 3 hal juga yang perlu untuk di realisasikan di dalam kehidupan diantaranya hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan Alam Besarnya, dan hubungan manusia dengan Sang PenciptaNya.

Baca juga: 

• Aplikasi Tanamduit, Permudah Investasi Reksadana

• Kasus Korupsi BPJS Kesehatan RSUD Lembang Mulai Disidangkan

• SPBU Pedaringan Layani Pengisian BBM Untuk ASN dan Wajib

“Tiga hal tersebut merupakan prinsip, mengenai adanya Padepokan STD – SP (Sedulur Tunggal Dalan – Seje Pangonan ) yang di rintis oleh almarhum Kang Mas Ir .Sukamto Pendekar PSHT sesepuh Surakarta,” Terang sesepuh yang saat ini menjabat Dewan Pertimbangan Sragen ini.

Masih menurut Hadi Laksono, Padepokan STD – SP yang ada di Gunung Lawu Pringgodani yang didirikan sejak 23 tahun lalu.
Ada beberapa bangunan yang di bangun dengan susah payah pada saat itu, dengan kerja keras dan kemauan yang tinggi, saat ini sudah berdiri bangunan di antaranya tempat saresehan dan rumah Tahajud.

“Bagi saya organisasi dari Persaudaraan Setia Hati, kita kedepankan ajaranya dengan demikian kita paham apa makna dari organisasi tersebut karena PSHT menciptakan manusia yang berbudi luhur yang bisa di artikan sangat luas dan universal, ” Urainya.

Dslam.kesempatan yang sama, Ustad Choirul RS selaku Dewan Pertimbangan Sukoharjo menyampaikan, anggota STD – SP anggotanya dari Organisasi PSHT yang ada di berbagai cabang Jawa maupun luar Jawa .

“Padepokan kami buat dalam hal positif, hikmah dari tempat tersebut adalah selain alam terbuka di pegunugan bisa menambah kekusyukan dalam ibadah kita, dan bisa mensyukuri nikmat Alloh yang di berikan kepada kita, dengan alam yang begitu indah serta udara yang alami, kita bersyukur atas ke Agungan-Nya dengan ciptaan alam yang begitu luar bisa ini ,” ungkapnya.

Baca juga: 

• Terkendala Tiang Listrik Pembangunan SPBU Pedaringan, Walikota Solo: Rencana Kami Pindahkan

• Malam Keakraban dan Solidaritas Nusantara Untuk Papua

• Kekerasan Seks: Dapat Ancaman 12 Tahun Penjara Bagi Pelaku Oral Seks

Sesuai pantauan Media ini giat tersebut ada beberapa kegiatan Warga dan Siswa untuk melakukan giat mengulas materi baku, mulai jurus satu sampai akhir. Dan selanjutya mandi besar di Telaga Wali dan doa bersama yang di lakukan pada tengah malam, terlihat warga dan siswa melakukanya dengan hikmad. (Yoel).

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.