Membuka Tirai Kebenaran

Sejenak, Menatap Masa Depan Dengan Perubahan.

2 min read

Oleh: Wayan Supadno Aktivis Pertanian

 

OPINI, barat perjalanan panjang, pandemik covid 19 merupakan ruas batas gerak maju evaluasi. Kesempatan kaji ulang menyeluruh terhadap beragam fungsi ruang lingkupnya masing – masing. Salah satunya adalah ketahanan pangan. Jumlah produksi dan distribusinya terganggu.

Kali ini semua negara termasuk Indonesia lagi ditimbang sejauh mana kemampuan dalam menyediakan pangan bagi warganya. Saat ini prioritas pangan buat warganya sendiri, cegah ekspor. Tiada satupun negara tanpa impor. Pasti satu dengan lainnya saling mengisi, memang begitulah adanya saling punya kelebihan.

Bagi pemalas memang selalu mencari pembenaran untuk menghibur diri. Bukan mencari sebabnya lalu berinovasi mencari solusinya. Padahal banyak pembelajaran di berbagai negara luar sana.

Misal saja ;

1. Wajar saja jika Indonesia makin besar impor gandum hingga 12 juta ton/tahun karena kebutuhan pangan berbasis terigu seperti roti makin banyak saja. Salah satu wujud peningkatan gizi atas selera masyarakat.

2. Wajar saja Indonesia saat ini jadi negara importor gula terbesar di dunia, skalipun tahun 1930 jadi negara produsen terbesar kedua. Karena penduduknya berlipat – lipatnya dibanding tahun 1930.

3. Wajar saja impor sapi naik terus hingga saat ini 1,3 juta ekor/tahun, walaupun tahun 1984 negara kita ekspor sapi. Akibat dari meledaknya jumlah penduduk kita. Tidak linier dengan pertumbuhan populasi sapi kita.

4. Wajar saja kita tahun 1984 jadi eksportir beras tapi saat ini justru impor beras. Karena saat ini penduduknya 68% usia produktif konsumsi berasnya jauh lebih banyak dibandingkan tahun 1984.

Sesungguhnya hal di atas bisa tidak terjadi jika kita bijak cerdas menganalisa data. Data dianalisa guna memprediksi dan mengantisipasi sedini mungkin, tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Lalu membuat stratateginya dan konsisten melakukannya. Bukan solusi simptomatis saja.

Contoh konkret negara inspiratif, kenapa India penduduknya jauh lebih banyak dari Indonesia tapi hingga bisa ekspor beras. Kenapa juga Thiland bisa jadi negara eksportir gula terbesar di dunia. Kenapa juga RRC bisa jadi negara kumpulan pabrik berbasis agro bahan bakunya dari beragam negara segala penjuru dunia.

Fakta – fakta itulah mestinya jadi bahan pembelajaran untuk perubahan di masa sekarang. Agar hasilnya di masa depan jauh berbeda dibandingkan saat ini. Kaji ulang total dengan segala kerendahan hati. Bukan saatnya lagi egois pandainya mencari pembenaran saja.

Hal paling menonjol adalah kenapa harga pokok produksi kita terlalu tinggi dibandingkan di luar negeri. Sehingga produk kita tak mampu berkompetisi termasuk di negeri sendiri. Sehingga laba petani (NTP) rendah sekali. Harus diurai masalahnya. Harus dapat solusinya. Agar bangsa kita ke depan berubah jauh lebih baik lagi.

Salam  🇮🇩 Merdeka

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social