Membuka Tirai Kebenaran

Semen Gresik Bersama Petani Menyulap Lahan Tandus Jadi Sentra Buah

2 min read

 

REMBANG, PT Semen Gresik mengubah lahan tandus seluas 4 hektar menjadi perkebunan hortikultura. Pelibatan petani lokal dalam progam ini sekaligus untuk proses transfer pengetahuan sehingga dalam beberapa tahun mendatang, kawasan Rembang selatan bisa menjadi sentra bibit dan buah yang bermanfaat untuk lingkungan hidup, masyarakat dan daerah.

Progam perkebunan hortikultura yang menggandeng Yayasan Obor Tani itu berada di lahan tambang non IUP PT Semen Gresik. Lahan tersebut kategori tadah hujan.

Saat musim kemarau lahan itu tandus dan tidak produktif. Kini, di lahan itu selain dibangun embung hortikultura dengan kapasitas 15.000 m3 juga ditanami berbagai pohon produktif.

Seperti durian, kelengkeng, srikaya jumbo, jambu kristal, pisang cavendis, pepaya calina dan pohon buah khas Rembang yakni kawis.

Kepala Unit Komunikasi dan Bina Lingkungan PT Semen Gresik Dharma Sunyata mengatakan selain untuk penghijauan, upaya ini sekaligus guna menjawab kekhawatiran berbagai kalangan jika kehadiran pabrik semen berpotensi merusak lingkungan.

Lewat progam perkebunan hortikultura ini justru Semen Gresik menegaskan komitmennya ingin hidup berdampingan dan tumbuh berkembang bersama masyarakat serta bermanfaat bagi lingkungan hidup dan daerah.

“Kehadiran industri harus membawa manfaat untuk berbagai sektor kehidupan. Itu komitmen Semen Gresik,” kata Dharma Sunyata, Rabu (15/7/2020).

Saat ini, ratusan pohon jambu kristal dan srikaya jumbo di lahan perkebunan hortikultura itu sudah memasuki panen perdana. Sedang panen pohon produktif lainnya bervariasi, namun rata-rata tahun depan sudah mulai bisa dipetik buahnya.

Fungsi embung hortikultura yang letaknya berada di lokasi paling tinggi menjadi sumber air utama untuk mengaliri kawasan perkebunan hortikultura itu. Air embung itu dijamin cukup untuk memasok air baik saat musim kemarau maupun penghujan.

“Hasil panenan perdana kita bagikan kepada ratusan petani setempat. Ini sebagai upaya untuk memberikan dorongan semangat dan pemahaman kepada mereka jika lahan tadah hujan juga bisa produktif untuk pengembangan hortikultura dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi,” jelasnya.

Progam perkebunan hortikultura ini multi manfaat. Selain lingkungan kian hijau, petani lokal mandiri, Kabupaten Rembang juga bisa swadaya bibit dan buah.

Kawasan Rembang bagian selatan bahkan bisa menjadi sentra beberapa jenis buah yang berdasar kajian Yayasan Obor Tani paling cocok ditanam di kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Blora ini.

“Rembang bisa jadi rujukan daerah lain,” terangnya.

Yayasan Obor Tani yang digandeng Semen Gresik bukan lembaga sembarangan. Jejak dan kiprah lembaga dengan motto memakmurkan desa dan petani dengan model sentra pemberdayaan tani ini bisa dilihat di berbagai daerah lintas provinsi.

Salah satu yang terkenal adalah di Desa Nglanggeran Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul, DIY. Lahan tandus di kawasan itu berhasil diubah menjadi tanah produktif buah-buahan dan sekaligus jujugan wisatawan dari berbagai daerah.

Koordinator Lapangan Yayasan Obor Tani Rohmadin mengatakan proses transfer pengetahuan dan pembelajaran untuk petani lokal menjadi salah satu prioritas dalam progam perkebunan hortikultura Semen Gresik. Petani diajari proses pembibitan, penanaman, pemupukan, penyemprotan, perawatan hingga panen.

“Ini bisa jadi sarana edukasi baik kalangan petani, sekolah hingga perguruan tinggi. Kawasan agrowisata juga bisa terbentuk di Rembang seiring banyaknya petani yang menggeluti pohon buah-buahan. Jika sebelumnya petani hanya bergantung satu komoditas maka kita rubah mindset mereka dengan upaya ini,” tandasnya. (Insan)

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social