Sel. Okt 15th, 2019

Membuka Tirai Kebenaran

Sikap Kita Terhadap Perilaku Korup

2 min read

Jacob Ereste Pegiat Media Sosial

OPINI, Kegaduhan di media sosial yang berbasis internet sungguh patut diperhitungkan, karena pada saat yang sama media maenstrem tidak lagi bisa diharap menjadi andalan masyarakat luas untuk mendapat informasi yang berimbang bagi semua pihak, tak hanya memuat kepentingan mereka yang memiliki uang dan kejuasaan saja, tapi terlalu pulgar hanya mengekploitasi rakyat kecil yang tidak bisa meneriakkan suara hatinya yang perih dan penuh duka dan luka.

Dalam kondisi dan situasi politik yang tidak sehat ini, sikap publik yang sudah dilakukan dengan memboikot untuk tidak membeli, tidak membaca atau tidak menonton dan tidak mau mendengar informasi maupun pemberitaan yang dilansir media tersebut merupakan cara terbaik dari konsumen melakukan perlawanan budaya yang cerdas.

Sikap serupa ini merupakan cara terbaik dari perlawanan budaya rakyat yang dibatasi aksesnya untuk kekuasaan, baik yang berada digenggaman penerintah maupun yang makin dominan berada digenggaman pemiliki uang atau pengusaha.

Idealnya untuk melakukan semacam perlawanan budaya terhadap sikap korup yang telah dilakukan banyak orang lewat berbagai cara untuk mendulang keuntungan tak hanya dakam bentuk uang, harus dilawan bersama secara masif dengan berbagai cara dan sarana termasuk media sosial yang bisa dimanfaatkan dengan cara maksimal. Sebab tindak pidana korupsi telah menjadi wabah dalam budaya kita yang amat sangat bahaya bagi bangsa dan negara.

Itulah sebabnya ada kesan dari berbagai ragam kebijakan publik yang cukup kentara ikut menentukan dari pemilik uang yang makin dominan merajalela. Akibatnya nafsu korupsi juga semakin meningkat jumlah. Meski sudah tidak sedikit jumlah koruptor yang dipenjarakan. Toh tidak ada yang takut dan keder berurusan dengan KPK. Toh hukuman yang akan dijalani tidak begitu lama. Apalagi pandai berbagi kepada semua aparat terkait, hukuman pun bisa lebih enak dan dikurangi sesuai dengan perundingan semua pihak yang terlibat. Lha, vonis hukuman saja bisa diatur sesuai tarif dan kesepakatan.

Hepeng mangatur nagaron kata Opung Ambarita, sudah pernah diuji secara histori dan budaya hingga saat kapan kelahiran dan dampaknya bagi banyak pihak belum pernah berhasil dirumuskan bagaimaana sepatutnya perilaku korupsi disikapi.

Share this:

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.

Copyright © LintasIndoNews.com | by Media Group AWPI.