Membuka Tirai Kebenaran

Sumpah (Saya) Pemuda

3 min read

(Refleksi Menyambut Hari Sumpah Pemuda)

Wachid Pratomo,M.Pd
Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yogyakarta

Oktober mulai memasuki penghujung akhir, itu tandanya mendekati suatu moment besar bagi bangsa Indonesia. Ya… Sumpah Pemuda moment dimana kita ketahui bersama 90 tahun yang lampau anak muda mendeklarasikan janji sucinya untuk satu tanah, satu bahasa, dan satu bangsa Indonesia.

Peristiwa yang tentu membuat bulu kuduk berdiri bagi semua yang mendengarnya. 28 Oktober 1928 anak muda yang belum mengerti gadget, belum mengenal Whatsapp dan belum tenarnya Instagram sudah mampu menggalang sebuah kekuatan besar untuk menyatukan bangsanya menuju kemerdekaan yang hakiki.

Tentu kita anak muda yang mengaku milenial ini harus instropeksi diri, berkaca apa yang telah kita sumbangsihkan terhadap bangsa ini. Sejatinya pemuda adalah agen of change pembawa perubahan besar untuk kemajuan bangsanya. Pastilah kita masih ingat akan gagasan orasi besar Ir. Soekarno “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya … Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Orasi besar presiden pertama inilah yang mengusik benak saya untuk berpikir seberapa pentingnya pemuda bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Beranjak dari kegelisahan tersebut ada sebuah data menarik yaitu Indonesia merupakan negara peringkat keempat penduduk terbanyak sedunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia menembus 265 juta jiwa, lebih besar ketimbang negara berkembang lain.

Ilustrasi

Menurut data BPS, Indonesia mengalami stagnasi angka kelahiran total sejak 2002 hingga 2012 pada angka 2,6 anak per wanita. Laju pertumbuhan penduduk (LPP) per tahun juga lebih tinggi dari harapan, 1,49 persen per tahun, dari perkiraan 1,45 persen per tahun. Oleh karena itu, pemerintah terus berjuang menurunkan angka kelahiran penduduk total (total fertility rate) melalui program KB.

Bagaimana perbedaan kondisi kependudukan saat ini dan 2045? Tahun 2045, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan 318 juta jiwa dengan asumsi angka kelahiran dapat ditekan moderat. Angka kelahiran total penduduk diproyeksikan 1,93 anak per wanita, menandakan slogan ”2 anak cukup” sudah berhasil diterima oleh masyarakat. Indeks kesetaraan gender mencapai angka yang baik karena masyarakat tidak membedakan anak lelaki dan perempuan, yang penting mempersiapkan masa depannya dengan baik. Anak usia sekolah 7-19 tahun pada 2018 ini akan menjadi penduduk usia 35 sampai 47 tahun pada 2045, yaitu kelompok yang menguasai pasar kerja Indonesia.

Kelompok usia inilah yang berada pada puncak kinerja yang tertinggi saat itu sesuai tahapan usia manusia. Berarti terhadap kelompok “emas” ini dari sekarang harus dibekali pendidikan pengetahuan dan keterampilan yang andal, ditanamkan jiwa kewirausahaan agar kelak dapat mencetak lapangan kerja secara mandiri, serta penanaman ajaran budi pekerti. Di samping pendidikan akademis untuk penguasaan iptek, semangat wirausaha harus dilecut agar kelak menjadi tenaga kerja mandiri.
Data tersebut membuat saya tergidik ngeri apabila anak usia emas saat ini salah asuhan dalam mendidik sebab mereka akan menjadi pemimpin saat Indonesia memasuki masa keemasan 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045 mendatang.

Apa yang mestinya kita siapkan mulai dari sekarang sebagai bagian pencetak pemuda handal tersebut. Tentu kita harus mensinkronkan kembali Tripusat pendidikan : pendidikan di keluarga, dimasyarakat dan pendidikan disekolah. Ketiga ajaran Ki Hadjar Dewantara tersebut saat ini sudah mulai tergerus dan tersisih. Mari kita lihat realita lapangan , pendidikan pertama dan utama adalah keluarga namun sayangnya kebanyakan orang tua dinegri ini sibuk kerja pagi pulang dini hari. Anak akhirnya diasuh oleh lingkungan yang semakin hari tingkat kerentanan sosialnya tinggi maka beban besar dipikul oleh sekolahan sebagai tempat pandai besi/ menempa moral anak.

Fakta dilapangan tidak semanis harapan karena sekolah saat ini terlalu berat baban administrasi yang disandang guru akhirnya nilai moral dan kepekaan yang harusnya diajarkan ke siswa sangat berkurang. Anak menghadapi masa galau berjamaah, akhirnya mereka mencari pelampiasan diri ke dunia sosial media yang ternyata lebih kejam dan sadis dari ibukota.

Lalu apa yang bisa kita lakukan wahai pemuda? Berkreasilah semaksimal mungkin namun jangan lepaskan kita dari budaya adiluhung ketimuran. Bebaskanlah dirimu berekspresi tetapi tetap pijakanlah kakimu dalam budaya sopan santun. Eksistensi Sumpah Pemuda adalah pengakuan diri bahwa kita sesama anak bangsa yang satu tanah air, satu bangsa serta satu bahasa harus bersatu demi mewujudkan titipan besar anak cucu kita menjadikan Indonesia emas 2045 dengan bonus demografi pemuda yang luar biasa melimpahnya.

Sebagai pelengkap maka mari kita tanamkan dari sanubari dan refleksikan dalam budi pekerti bahwa Sumpah Pemuda tahun ini akan membuat suatu gebrakan luar biasa dengan tugas pertama mengawal demokrasi kita ditahun politik yang mulai menunjukkan eksistensi keganasannya.

Akhirnya selamat merefleksikan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 dengan sebuah pekikkan semangat bersama “Sumpah (saya) Pemuda”.

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.