Membuka Tirai Kebenaran

Terancam Gagal di Bangun Jalan Lingkar Pringanom, Ini Gara-garanya Satu Keluarga Ngeyel

2 min read
Ilustrasi refrensi pihak ketiga

LintasIndoNews.com, Sragen – Rencana Pemerintah Desa (Pemdes) Pringanom Masaran, Sragen, membangun jalan lingkar sebagai akses warga Dusun Pakis dipastikan batal. Proyek yang didanai bantuan keuangan khusus (BKK) DPRD Sragen harus diselesaikan karena mendapat pinjaman dari satu keluarga.

Keluarga Saman Citro Ponco Pawiro berusaha mengalihkan rencana pembangunan jalur melar itu dengan melapor ke Polsek Masaran. Keluarga ini berdalih Pemdes Pringanom bersama warga berhasil menyerobot tanah seluas 3 meter x 100 meter milik keluarga Saman Citro untuk proyek pembangunan jalan lingkar.

“Dua hari setelah saya lapor polisi malah ada pengerahan warga untuk kerja bakti di lokasi. Seminggu kemudian juga ada upaya perbaikan lahan oleh pemerintah desa. Lalu mengundang apa jika bukan untuk menyerobot tanah kami? Kami belum bisa ganti rugi, mereka malah mau main serobot saja, ”jelas Suharsoyo, anak Saman Citro, saat ditemui melalui jajak pendapat di Balai Desa Pringanom, beberapa waktu lalu.

Ketua Forum Masyarakat Sragen (Formas) Andang Basuki yang mendampingi keluarga Citro Ponco mengingatkan cara Pemdes Pringanom yang mengukur tanah milik orang lain merupakan bentuk memecahkan perdata.

“Kami memberi peringatan. Jika disetujui kami bisa meminta perdata dan dihukum. Tapi, alhamdulillah akhirnya pembangunan jalan lingkar itu dibatalkan. Jadi, sekarang masalah ini sudah klir, ”papar Andang.

Sementara itu, Kepala Desa Pringanom Sugiyoto menjelaskan rencana pembangunan jalan lingkar itu sebetulnya sudah disetujui sebagian besar warga Dusun Pakis. Warga senang dengan rencana pembangunan jalan ini karena selama ini mereka hanya memiliki satu akses jalan.

“Kalau jalan itu ditutup untuk kepentingan warga yang punya hajatan, kendaraan praktis tidak bisa lewat. Jika mau bepergian mereka harus memarkir kendaraan mereka di lokasi yang jauh. Untuk pulang ke rumah tentu harus jalan kaki dulu, ”jelas Sugiyoto.

Terkait ganti rugi, Pemdes Pringanom mempersilakan warga untuk berembuk mencarikan solusi. Menurutnya, Pemdes Pringanom tidak menjual tanah kas desa untuk membayar uang ganti rugi tersebut.

Kendati demikian, keluarga Citro Ponco selalu tidak bisa hadir saat diundang menghadiri rapat. “Kalau tidak ada komunikasi, bagaimana bisa mempertanyakan ganti rugi? Sudah empat kali diundang rapat tetapi dari keluarga Pak Citro tidak ada yang datang. Tahu-tahu ada laporan ke Polsek. Tapi karena enggak ada titik temu, ya sudah rencana pembangunan jalan lingkar itu kami batalkan. Kami alihkan ke pekerjaan lain, ”terang Sugiyoto.

Sumber: Solopos.com

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.