Sab. Des 14th, 2019

Membuka Tirai Kebenaran

Tradisi Sekaten Yang Melegenda dan Makna Filosofinya Bagi Masyarakat Jawa, Saling Berbagi Rasa

3 min read

Beberapa benda yang ada dalam tradisi sekaten, diyakini mengandung makna tuntunan untuk saling berbagi dengan sesama.

LINTASINDONEWS.com, SOLO  – Tradisi sekaten menyimpan ajaran leluhur yang bisa mendatangkan berkah bagi yang menjalankannya. Karena itulah, ribuan orang rela berdesak-desakkan di bawah terik matahari demi untuk mengikuti puncak rangkaian tradisi sekaten.  Hal itu terlihat saat sepasang gunungan sekaten diarak dari dalam Keraton menuju Masjid Gedhe, pada Sabtu (9/11) siang.

Wargapun mencoba merangsek mendekat ke arah gunungan. Sehingga petugas keamanan harus bekerja ekstra keras untuk menertibkan warga. Keyakinan adanya berkah yang akan diraih bila bisa mendapatkan isi gunungan, membuat warga rela harus jatuh bangun mendekat ke arah benda tersebut.

Sepasang gunungan lanang dan wadon memang menjadi daya tarik utama dalam acara itu. Gunungan lanang yang bentuknya seperti kerucut raksasa, berusi beraneka macam sayuran serta hasil bumi. Lalu gunungan wadon yang bentuknya bulat melebar, berisi aneka macam makqnan seperti rengginang, wajik dan lainnya.

Sepasang gunungan itu dipandang sebagai symbol dari awal mula kehidupan. Sebab perpaduan dari keduanya itulah yang kemudian melahirkan kehidupan di dunia ini. Karena itulah kemudian masyarakat meyakini bahwa ada berkah yangt terkandung di dalam sepasang gunungan tersebut.

Melintasi beberapa kawasan keramat keraton, termasuk sitinggil, gunungan itu selanjutnya dibawa masuk ke halaman Masjid Gedhe untuk didoai oleh para ulama. Begitu bacaan doa usai dipanjatkan para ulama, warga yang sebelumnya sudah bersiap-siap, segera merangsek maju memperebutkan isi gunungan.

Dalam waktu sekejap, seluruh isi gunungan itu langsung ludes diperebutkan warga. Bahkan kerangka gunungan yang terbuat dari batang-batang bambu tak lepas dari jarahan warga. Mereka meyakini bahwa seluruh materi penyusun gunungan memiliki tuah yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Dan selama ini benda-benda tersebut biasanya lebih banyak dimanfaatkan sebagai jimat.

Isi dari gunungan berupa hasil bumi dan makanan diyakini bisa menjadi magnet rejeki. Sehingga kemudian disimpan dalam almari atau kotak penyimpanan uang, khususnya para pedagang. Sedangkan kerangka gunungan diyakini memiliki kekuatan pelindung. Sehingga kemudian banyak dimanfaatkan sebagai pagar di sawah atau rumah.

Keyakinan inilah yang kemudian membuat warga begitu bersemangat untuk berebut isi gunungan. Apalagi banyak di antara mereka yang datang dari luar kota. Sehingga tentu akan rugi bila mereka tidak bisa mendapatkan sebagian isi benda keramat itu. Sebab tolok ukur keberhasilan meraih berkah diyakini terkait dengan keberhasilan mendapatkan isi gunungan itu.

“Masih antusiasnya masyarakat mengikuti rangkaian acara sekaten, menunjukkan bahwa masyarakat kita masih guyub rukun. Mereka sadar bahwa ini adalah tradisi leluhur yang harus dijaga. Apalagi di balik itu, mereka yakin bisa mendapatkan berkah. Terutama saat mengikuti prosesi kirab gunungan. Sebab gunungan yang berisi bermacam hasil bumi itu, adalah simbol dari pengharapan kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan kesejahteraan,” jelas BRM. Kusumo Putro, SH, MH, Ketua Umum Forum Budaya Mataram, saat dihubungi lewat sambungan telepon.

Lepas dari keyakinan adanya berkah, dalam tradisi sekaten diyakini ada tuntunan untuk berbagi. Dan isi gunungan itu pada awalnya dibagikan raja kepada rakyatnya. Hanya saja seiring berjalannya waktu, di saat penduduk semakin banyak, akhirnya tidak mungkin lagi untuk m bagikannya satu-satu. Sehingga warga dibebaskan untuk saling berebut.

Tuntunan untuk berbagi itu sendiri sebenarnya sudah disimbolkan dari adanya benda yang pasti selalu ada dalam acara sekatenan. Yaitu telur asin. Yang dalam bahasa Jawa disebut endog kamal.

Kata kamal dalam endog kamal ini selanjutnya dimaknai sebagai padanan dari kata amal. Sehingga endog amal ini dipandang sebagai simbolisasi tuntunan untuk beramal.

Karenanya, selain membagi-bagikan isi gunungan, di puncak perayaan sekaten dulunya raja juga selalu menebar udik-udikan. Yakni menebar uang logam ke tengah-tengah kerumunan warga, untuk kemudian saling diperebutkan.

Hanya saja seiring berjalannya waktu, tradisi udik-udikan ini sudah tidak dilakukan lagi. Dan justru akhirnya isi gunungan yang selanjutnya dijadikan bahan rebutan. Sehingga warga yang menyaksikan acara inipun, rela tumpang tindih untuk mendapatkan  isi gunungan, meski barang secuil.

“Meski ada perubahan bentuk prosesi, namun esensi dari penyelenggaraan tradisi ini tetap sama. Yaitu menebar berkah. Kalau dulu para wali menebar berkah dengan mengenalkan agama Islam, kini berkah yang ditebar disimbolkan oleh gunungan berisi berbagai macam hasil bumi. Sehingga siapa saja bisa memperebutkannya diyakini akan mendapat berkah,” terang KGPH Puger, salah satu adik raja Keraton Surakarta Hadiningrat beberapa waktu lalu. //rad

Sumber: wartajoglo.com

Share this:

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

LintasIndoNews Social

Social menu is not set. You need to create menu and assign it to Social Menu on Menu Settings.

Copyright © LintasIndoNews.com | by Media Group AWPI.