Mengolah Koro Pedang Pengganti Kedelai dan Kacang Hijau Sebagai Alternatif Olahan Berbasis Kearifan Lokal Oleh

Oleh
Maria Theresia Darini
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

 

Koro pedang (Canavalia ensiformis Jack) merupakan salah satu dari suku polongan yang mempunyai prospek ekonomi untuk dikembangkan. Melalui program Pengabdian Masyarakat (Abdimas) Kemendikbud Dikti, Fakultas Pertanian, Tehnik dan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) kegiatan pengolahan koro pedang dengan sasaran kelompok tani Rukun Maju dan Dadi Arum Sari desa Kedungsari, Pengasih, Kulonprogo. Adapun pengabdi yang melakukan kegiatan tersebut adalah Ari Astuti, Maria Theresia Darini, Driska Arnanto, dan Wahyu Setya Ratri (FP UST), Ag. Eko Susetyo (FT UST), serta Sri Wahyu Handayani (FKIP UST).

Selain dosen, kegiatan abdimas ini melibatkan 10 (sepuluh) mahasiswa yang terdiri dari program studi Agribisnis, Agroteknologi dan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (boga). Kegiatan pengabdian ini dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah sosialisasi mengenai kelebihan, pemanfaatan dan prospek ekonomi tanaman koro pedang.

Tahab kedua adalah pelatihan pengolahan koro pedang menjadi tempe, kecap dan bahan isi (chip) kue ku, bakpia, onde-onde. Tujuan kegiatan dapat mengolah biji koro pedang menjadi berbagai olahan makanan yang dapat meningkatkan nilai tambah koro pedang, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompok tani tersebut Kegiatan pertama diadakan pada tanggal 22 Desember 2021 dengan mengundang narasumber bapak Dr. Setiono dari Fapet UGM yang menjelaskan bagaimana pemanfaatan akar bambu dan alang-alang untuk pupuk hayati koro pedang, dilanjutkan oleh Nanang Kusuma Mawardi, SP. MP dari FP UST yang menjelaskan tentang prospek pemasaran olahan koro pedang dengan menggunakan media online, penentuan harga, serta pengemasan, diahkiri oleh Ika Kusumawardani dari prodi PKK FKIP UST yang menjelaskan kandungan gizi koro, pengolahan koro, hingga proses pembuatan aneka olahan berbahan dasar koro pedang, antara lain onde-onde, kue ku, bakpia, dan tempe. Kegiatan kedua diadakan tanggal 23 Desember 2021 dengan 40 orang petani dari Kelompok Tani Rukun Maju dan Dadi Arum Sari, 10 orang mahasiswa, dan 5 pengabdi, serta beberapa teknisi, di tempat bapak Suwarto di Ngramang, Kedungdadi, Panjatan, Kulonprogo. Pada tahap ini yang dilakukan adalah:

A. Membuat kue, bakpia, dan donat
Sebagai pengajar adalah ibu Ika dari Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dibantu oleh seorang mahasiswa (Roni). Pada tahap ini diajarkan bagaimana membuat aneka olahan berbahan dasar ampas koro antara lain kue ku, onde-onde, dan bakpia

B. Membuat tempe
Pada tahap ini diajarkan bagaimana membuat tempe. Pembuatan tempe berbahan baku koro hampir sama dengan tempe pada biasanya. Peserta nampak antusias dalam mengikutinya terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dari peserta. Dalam kesempatan ini peserta juga ikut serta dalam melakukan pengolahan.

Untuk mendukung kegiatan pengolahan biji koro pedang diserahkan berbagai peralatan meliputi alat pengupas dan pengrajang koro, panci, siler, alat pemanggang bakpia, alat penggiling koro menjadi susu, dan wajan. Dari hasil pelatihan tersebut warga merasakan manfaat pelatihan dan tertantang untuk mencoba dan berkreasi, hanya saja warga masih memerlukan pendampingan terutama untuk pemasaran hasil.

Berdasarkan perhitungan HPP dari masing-masing produk antara lain, bakpia Rp 2000/ biji atau Rp 20.000/pack, kue ku Rp 3000/biji, onde-onde Rp 3000/biji, dan tempe Rp 2500/plastik. Nilai kelayakan dari masing-masing produk adalah 1.7 untuk bakpia, 1.8 kue ku, 1.03 untuk onde-onde, dan 2.08 untuk tempe. Dengan adanya abdimas ini diharapkan pada tahun 2023 kelak, kelompok tani ini menjadi kelompok tani yang mampu memproduksi koro pedang dan olahannya, serta menjadi makanan yang unik dari Kulonprogo.

SHARE

Tinggalkan Balasan ke Anonim Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.