Saya Mendukung MBG, Tetapi Supplier yang Serakah dan Tamak Sedang Mendiskreditkan Ekonomi Lokal

Saya Mendukung MBG, Tetapi Supplier yang Serakah dan Tamak Sedang Mendiskreditkan Ekonomi Lokal
oppo_35

Loading

Program MBG Milik Rakyat, Namun di Kangkangi Segelintir Orang

Penulis: Rian Derasta Pemerhati Kebijakan Pemerintah, aktif sebagai Jurnalis dan Media Sosial

Saya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saya percaya gagasan dasarnya baik: anak-anak mendapatkan gizi yang layak, petani dan peternak lokal mendapatkan pasar yang pasti, dan uang negara berputar di daerah. Dalam konsepnya, ini adalah program yang bukan hanya memberi makan anak sekolah, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa.

Namun, yang saya lihat di lapangan justru membuat saya bertanya: apakah semangat program ini masih hidup, atau sudah dibajak oleh segelintir pihak yang hanya melihat MBG sebagai ladang bisnis? Di berbagai daerah, saya mendengar keluhan yang sama. Peternak telur lokal yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari dapur SPPG tidak menjadi pemasok. Ketika ditanya alasannya, jawabannya sederhana: harga yang ditawarkan terlalu rendah, bahkan di bawah harga pasar.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin program yang seharusnya menghidupkan ekonomi lokal justru membuat produsen lokal tersingkir?Yang lebih ironis, banyak pemasok yang akhirnya masuk melalui jalur tertentu yang berlindung di balik nama koperasi. Secara formal mungkin memenuhi aturan, tetapi dalam praktiknya akses menjadi tertutup. Yang bisa masuk hanya kelompok yang sudah memiliki koneksi, sementara petani dan peternak yang benar-benar berada di sekitar lokasi justru berada di luar lingkaran.

Jika kondisi ini benar terjadi secara luas, maka MBG sedang mengalami penyimpangan tujuan.Presiden menjanjikan efek berganda (multiplier effect): anak mendapat makanan bergizi, petani mendapat pasar, peternak mendapat kepastian pembeli, ekonomi desa bergerak. Tetapi apabila rantai pasok hanya dikuasai oleh kelompok tertentu, maka manfaat ekonomi itu berhenti di tengah jalan. Yang bergerak bukan ekonomi rakyat, melainkan ekonomi para perantara.

Di sinilah letak kekeliruannya.Ada sebuah logical fallacy yang sering digunakan untuk membenarkan kondisi seperti ini: appeal to success. Karena jutaan porsi makanan berhasil dibagikan, maka dianggap seluruh program pasti berjalan baik. Padahal keberhasilan distribusi tidak otomatis berarti keberhasilan pemberdayaan ekonomi lokal.

Anak-anak memang menerima makanan. Tetapi apakah petani lokal ikut menikmati manfaatnya? Itu pertanyaan yang berbeda.Ada juga kesalahan berpikir lain, yaitu false dilemma. Seolah-olah masyarakat harus memilih antara mendukung MBG atau mengkritik pelaksanaannya. Padahal keduanya bisa berjalan bersamaan. Justru karena mendukung MBG, kita harus berani mengkritik praktik-praktik yang menjauhkan program dari tujuan awalnya.

Saya tidak menyalahkan gagasan MBG. Saya justru khawatir gagasan yang baik sedang dirusak oleh pelaksana yang berpikir pendek.Kasihan presiden jika janji yang disampaikan kepada rakyat hanya berhenti di podium dan baliho, sementara di lapangan dibajak oleh mereka yang melihat program ini sebagai kesempatan memperkaya lingkarannya sendiri.Rakyat tidak menolak MBG.

Petani tidak menolak MBG.Peternak tidak menolak MBG.Yang ditolak adalah keserakahan yang menumpang di atas nama MBG.

Sebab ketika petani lokal tidak merasakan manfaat, ketika peternak lokal tidak mendapatkan akses, ketika harga ditekan hingga tidak masuk akal, maka yang sedang didiskreditkan bukan hanya ekonomi lokal.

Yang sedang dipertaruhkan adalah kepercayaan rakyat terhadap program yang sebenarnya memiliki niat baik. Dan ketika kepercayaan itu hilang, penyebabnya bukan karena programnya gagal.Penyebabnya adalah karena terlalu banyak orang yang sibuk mengambil keuntungan sebelum manfaatnya sampai kepada rakyat. (***)