FORMASA Fest #1 Himpun 67 Ormas di Solo, Budiman Sudjatmiko Bahas Kemiskinan dan Akses Kesejahteraan

FORMASA Fest #1 Himpun 67 Ormas di Solo, Budiman Sudjatmiko Bahas Kemiskinan dan Akses Kesejahteraan

Loading

LINTASINDONEWS

SURAKARTA, LintasIndonews.com — Forum Silaturahmi dan Sinergitas Lintas Organisasi Kemasyarakatan melalui FORMASA Fest #1 mempertemukan sekitar 67 organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Surakarta, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah dan elemen masyarakat, sekaligus mengangkat persoalan kemiskinan, keterbatasan akses ekonomi, serta kebutuhan hunian dan pendidikan bagi masyarakat.

Lapor KPK

Baca Juga:

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Pegadaian Gading Surakarta, Jalan Brigjen Sudiarto, Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko. Perwakilan Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) turut hadir dalam forum tersebut.

Pertemuan lintas organisasi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai peran masyarakat sipil dalam membantu mengidentifikasi persoalan sosial dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.

Wakil Wali Kota Dorong Penguatan Komunikasi Ormas

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengapresiasi penyelenggaraan FORMASA Fest #1 yang mempertemukan puluhan organisasi dalam satu forum.

Keberadaan berbagai ormas dinilai memiliki potensi untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Melalui komunikasi yang terbuka, persoalan di lingkungan warga diharapkan dapat diketahui lebih cepat dan disampaikan kepada pihak terkait melalui mekanisme yang tepat.

Namun, efektivitas forum lintas organisasi tidak cukup diukur dari jumlah peserta maupun kehadiran pejabat. Koordinasi perlu berlanjut dalam bentuk program, saluran pengaduan, serta kerja sama yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dengan demikian, pertemuan semacam ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kota Surakarta.

Budiman Sudjatmiko Soroti Karakter Kemiskinan

Dalam paparannya, Budiman Sudjatmiko menyoroti karakter persoalan sosial di Surakarta yang berkaitan dengan dinamika masyarakat sipil, kebudayaan, dan politik.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang intensif antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Organisasi yang berinteraksi langsung dengan warga dapat menjadi sumber informasi mengenai kebutuhan masyarakat sekaligus penghubung dalam penyampaian aspirasi.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah perbedaan karakter kemiskinan di wilayah perkotaan dan pedesaan.

Kemiskinan, dalam pendekatan yang dipaparkan, tidak semata-mata berkaitan dengan kekurangan pendapatan. Keterbatasan kepemilikan aset dan akses terhadap berbagai sumber daya juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan sosial tetap mempunyai peran dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar. Akan tetapi, upaya pengentasan kemiskinan juga perlu disertai langkah yang memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, informasi, dan sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Aset dan Akses Menjadi Persoalan Berbeda

Budiman turut menjelaskan bahwa masyarakat pedesaan dan perkotaan dapat menghadapi hambatan ekonomi yang berbeda.

Masyarakat desa mungkin mempunyai tanah atau sumber daya produktif, tetapi belum memperoleh akses memadai terhadap pasar, pendidikan, informasi, maupun pengembangan usaha. Akibatnya, aset yang dimiliki belum tentu memberikan manfaat ekonomi secara optimal.

Sementara itu, sebagian masyarakat perkotaan menghadapi keterbatasan kepemilikan rumah, tanah, modal usaha, dan aset produktif lainnya, meskipun berada di wilayah yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi.

Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan setiap kelompok masyarakat. Pembukaan akses pasar dan penguatan usaha dapat menjadi perhatian di pedesaan, sedangkan kesempatan kerja, hunian layak, dan akses terhadap sumber daya ekonomi menjadi persoalan penting bagi masyarakat perkotaan.

Pendekatan tersebut menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai upaya yang lebih luas daripada sekadar penyaluran bantuan. Tujuannya adalah memperkuat kemampuan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan.

Pemanfaatan Lahan BUMN untuk Hunian Rakyat

Persoalan keterbatasan aset di perkotaan juga berkaitan dengan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam paparannya, Budiman menyinggung kemungkinan pemanfaatan tanah milik badan usaha milik negara (BUMN) yang belum digunakan secara optimal, termasuk lahan di sekitar bantaran rel kereta api, untuk mendukung penyediaan rumah susun bagi masyarakat.

Gagasan tersebut sejalan dengan kebutuhan memperluas akses masyarakat terhadap tempat tinggal yang layak. Namun, pelaksanaannya memerlukan kajian menyeluruh, antara lain mengenai status kepemilikan dan peruntukan lahan, tata ruang, keselamatan, kelayakan pembangunan, serta ketentuan hukum yang berlaku.

Karena itu, gagasan pemanfaatan aset negara untuk kepentingan sosial perlu diikuti perencanaan yang terukur agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat tanpa mengabaikan aspek legalitas dan keselamatan.

Pendidikan Dinilai Penting untuk Memutus Kemiskinan

Selain persoalan aset dan hunian, Budiman juga menyinggung pentingnya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.

Pendidikan tinggi negeri dengan dukungan pembiayaan serta program Sekolah Rakyat menjadi bagian dari pembahasan mengenai upaya membuka kesempatan bagi kelompok rentan.

Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan peluang ekonomi generasi muda. Dengan kesempatan belajar yang lebih baik, anak-anak dari keluarga kurang mampu diharapkan mempunyai peluang lebih besar untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka.

Meski demikian, keberhasilan program pendidikan tidak cukup dinilai dari jumlah program yang diluncurkan. Ketepatan sasaran, kualitas pembelajaran, keberlanjutan pendanaan, dan kesempatan lulusan memasuki dunia kerja juga perlu menjadi perhatian.

Evaluasi berdasarkan hasil nyata diperlukan agar program pengentasan kemiskinan tidak berhenti pada pemenuhan administrasi, tetapi benar-benar memberikan perubahan bagi penerima manfaat.

Sinergi Ormas Perlu Diikuti Tindak Lanjut

FORMASA Fest #1 memberikan ruang bagi pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan organisasi kemasyarakatan untuk membangun komunikasi mengenai berbagai persoalan publik.

Bagi organisasi seperti AWPI, forum tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, memberikan masukan, serta mengawal pelaksanaan kebijakan secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, organisasi kemasyarakatan juga perlu menjaga independensi dan menyampaikan informasi berdasarkan fakta. Kritik dan masukan yang disertai data dapat membantu pemerintah memahami persoalan secara lebih utuh.

Tantangan berikutnya adalah memastikan komunikasi yang terbangun tidak berhenti setelah acara selesai. Diperlukan mekanisme tindak lanjut yang jelas, pembagian peran antarlembaga, serta evaluasi terhadap program yang disepakati.

Pada akhirnya, keberhasilan FORMASA Fest #1 bukan hanya ditentukan oleh berkumpulnya 67 ormas atau hadirnya pejabat pemerintah. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana forum tersebut mampu mendorong kerja sama nyata, memperkuat akses masyarakat terhadap layanan dasar, dan membantu menyelesaikan persoalan warga Surakarta.

Tag: FORMASA Fest #1, Budiman Sudjatmiko, Astrid Widayani, Ormas Surakarta, Pengentasan Kemiskinan, AWPI, Pemerintah Kota Surakarta

PRESS ROOM COFFE

BERITA VIRAL

  • FORMASA Fest #1 Himpun 67 Ormas di Solo, Budiman Sudjatmiko Bahas Kemiskinan dan Akses Kesejahteraan

    FORMASA Fest #1 Himpun 67 Ormas di Solo, Budiman Sudjatmiko Bahas Kemiskinan dan Akses Kesejahteraan

    LINTASINDONEWS SURAKARTA, LintasIndonews.com — Forum Silaturahmi dan Sinergitas Lintas Organisasi Kemasyarakatan melalui FORMASA Fest #1 mempertemukan sekitar 67 organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Surakarta, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah dan elemen masyarakat, sekaligus mengangkat persoalan kemiskinan, keterbatasan akses ekonomi, serta kebutuhan hunian dan pendidikan bagi masyarakat. Baca Juga: Kegiatan yang berlangsung…

  • Tim Wasev Mabesad Turun ke Trucuk, Pastikan Proyek TMMD Kodim Klaten Tepat Sasaran

    Tim Wasev Mabesad Turun ke Trucuk, Pastikan Proyek TMMD Kodim Klaten Tepat Sasaran

    LINTASINDONEWS KLATEN – Pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-130 Kodim 0723/Klaten mendapat pengawasan dan evaluasi langsung dari Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jumat (23/10/2026). Peninjauan dilakukan di Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Mabesad dipimpin…

  • Pasutri Rela Berkorban Demi Pembangunan Masjid dan Ponpes Sapu Jagad, Dukungan Donatur Terus Mengalir

    Pasutri Rela Berkorban Demi Pembangunan Masjid dan Ponpes Sapu Jagad, Dukungan Donatur Terus Mengalir

    LINTASINDONEWS KLATEN – Perjuangan menjaga tali silaturahmi yang dilakukan Pers Guard AKJII bersama Kakung dan Uti Janter Suharti terus berlanjut. Upaya tersebut menjadi salah satu jalan untuk menghimpun kepedulian berbagai pihak demi mendukung kelanjutan pembangunan Masjid dan Pondok Pesantren Sapu Jagad di Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Melalui komunikasi dan silaturahmi yang terus dijaga, dukungan…