Membuka Tirai Kebenaran

Prof. Dr. H. Mudhofir Abdullah M.Pd : 2021 IAIN Surakarta Berubah Jadi UIN Surakarta

2 min read

Prof. Dr. H. Mudhofir Abdullah M. Pd di ruang kerjanya, Rabu (28/8).

LintasIndoNews.com | Solo, Rektor IAIN Surakarta sebelumnya adalah dosen IAIN Surakarta sejak 1998, kemudian mengalami perubahan status dari IAIN Wali Songo di Surakarta tahun 1992-2007 berubah menjadi setara Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta.

Kemudian tahun 2011 berubah menjadi IAIN Surakarta, mengenai Prestasinya akademik ,Prof. Dr. H. Mudhofir Abdullah M.Pd adalah tiga terbaik di Universitas Islam Negeri di Jakarta syarif Hidayatullah, kemudian pernah menjadi viral di lembaga  pengelola dana pendidikan di bawah Kemenkeu sebagai lulusan tercepat kemudian menjadi Rektor 2015 -2019 .

“Pada tahun 2015 sebelumnya adalah wakil  rektor bidang akademik, di tahun yang sama 2015 masih sistem pemilihan senat jadi dari 21 anggota senat, saya mendapat 13 suara kemudian yang lain ada yang dapat 6,” papar Mundhofir.

Sejak Mudhofir dikukuhkan oleh menteri agama, sebagai rektor periode 2015-2019. Perjalanan kariernya dia lalui dengan penuh suka dan duka, hanya bermodalkan tanggung jawab, untuk mengembangkan kemudian menghasilkan lulusan – lulusan yang siap kerja.

Menurut Mudhofir, bagaimana lembaga ini hadir di masyarakat, hingga masyarakat bisa menerima dengan senang hati, dengan memanfaatkan fasilitas, saat ini ada 11 akreditasi A, jumlah mahasiswa 16 ribu, NWP yang meningkat perkembangannya signifikan.

“IAIN Gelisah kalau gak ada tanggungjawab, kekuatan saya adalah menjadi teladan moral, yang tidak  khusnudhon kepada bawahan, ” Urai Pria kelahiran 2 Agustus 2019 ini.

Untuk merubah IAIN Surakarta menjadi UIN Surakarta sudah memenuhi syarat, tenaga Pengajar seperti Dosen dan SDM sudah memenuhi syarat, jumlah Mahasiswa pun tidak sedikit, mencapai hingga 16 ribu. Direktorat jendral Pendidikan IAIN Surakarta masuk status 2021 menjadi UIN Surakarta.

Dalam perjalanan hidup, Mudhofir juga bercerita blak-blakan tentang jati dirinya, dari tidak memiliki Orang Tua utuh hingga memilih jalur Pendidikan ini.

“Kehilangan ibu membuat masa bahagia saya hilang, saya dididik sama ayah dan kakak kakak, hidup mandiri dan sederhana, rasa prihatin membuat saya tumbuh dan peka terhadap gejala sosial, “ujar suami Sri Hariyanti SE ini.

Ada 5 Fakultas Faksyatiah, Fusuludin dan Fakwah, Fakultas Ilmu Tarbiyah, Falkutas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Adab. (Suci)

Editor: Rian

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.