![]()
Desa Kadipaten Adakan Study Banding di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul
LINTASINDONEWS.com, BANTUL – Dalam menjalankan program di bidang Pemberdayaan Masyarakat, Desa Kadipaten Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali, mengirim beberapa tokoh masyarakat beserta perangkat desa untuk study banding ke Desa Panggungharjo Ke camatan Sewon Kadipaten Bantul Provinsi DIY, Selasa (17/12).
Dalam keberangkatan dari balai desa Kadipaten Pukul. 06.20 WIB, di fasilitasi dengan armada dua bus, sekitar 100 Orang terdiri dari Kepala desa Maryono, SE beserta perangkat desa, seluruh Ketua RT, seluruh Kader PKK, Semua Pengurus Posyandu, BPD dan LP2MD. Setelah menyusuri perjalanan panjsng, Tim rombongan Tiba di lokasi desa Panggungharjo Pukul.10.00 WIB.
Tujuan dari Study Banding ini guna mengetahui lebih dalam tentang pengelolanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Panggung Lestari berinovasi mengolah limbah minyak goreng (jelantah). Saat rombongan study banding Tiba, di sambut baik oleh panitia dari desa Panggungharjo sendiri.
Desa Panggungharjo mungkin menjadi satu-satunya desa yang memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) yang mengelola sampah. Sampah tersebut dikelola mulai dari dipilah, didaur ulang, dan dijual. Sampah-sampah organik diubah menjadi pupuk dan sampah non organik diubah jadi bahan kerajinan.
Dalam hal ini, para pegiat Bumdes memasarkan produk inovasi desa tersebut pada PT. Tirta Investama (Aqua Danone) sebagai produk campuran bahan bakar. Melalui kerjasama ini, BUMDes mampu mengubah limbah minyak goreng menjadi pendapatan bagi desa, sekaligus mengurangi pencemaran limbah di sungai.
Desa Panggungharjo kini memiliki BUMDes Panggung Lestari bekerja sama dengan bengkel untuk membuat mesin filterisasi limbah minyak goreng. Sedangkan pengolahan limbah minyak goreng dilakukan di tempat terpadu penampungan sampah dan produksi kompos.
Pengadaan mesin filterisasi buat mengolah limbah minyak sendiri pembiayaannya berasal dari Dana Desa Panggungharjo. Sementara itu, pembiayaan pembangunan tempat sampah terpadu berasal dari bantuan pemerintah provinsi melalui program Tempat Pembuangan Sampah 3R (reduce, reuse, recycle).
Secara tekni, pengumpulan minyak goreng berasal dari masyarakat dan lingkungan sekitar, yakni pabrik tahu, dan rumah makan, BUMDes membentuk Bank Tigor (tilasan gorengan).
Bank ini kemudian mengurus pengumpulan minyak goreng bekas di 118 RT. Bank Tigor didirikan dan dibentuk dari kumpulan perwakilan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tingkat RT. Total ada 11 Bank Tigor yang terbentuk di desa tersebut.
Minyak goreng bekas pakai dari warga atau dari tempat lain dibeli oleh Bank Tigor seharga Rp. 2.000/liter dan dijual ke BUMDes Rp. 4.000/liter. Hingga usai acara, tim rombongan study banding desa Kadipaten selesai hingga Pukul 12.00 WIB. (Eni)
Refrensi dari berbagai sumber

