Ketika Gula Habis, Semut Pun Tak Lagi Mendekat

Ketika Gula Habis, Semut Pun Tak Lagi Mendekat

Loading

OPINI

Catatan perjalanan hidup — Edot Adsant

18 Januari 2026 menjadi salah satu tanggal yang tidak akan mudah terhapus dari ingatan saya. Sebuah peristiwa yang mengubah banyak hal dalam perjalanan hidup. Saya mengalami kerugian akibat penipuan dalam bisnis konvensional bersama rekan, dengan nilai lebih dari setengah miliar rupiah.

Sebelum peristiwa itu terjadi, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Pekerjaan lancar, hubungan pertemanan terasa baik-baik saja, dan segala sesuatu seolah berjalan seirama. Tidak ada tanda bahwa suatu hari saya harus menghadapi badai sebesar itu. Semuanya tampak normal, seakan kehidupan sedang baik-baik saja.

Namun, kehidupan terkadang memiliki cara tersendiri untuk menguji manusia. Dalam sekejap, keadaan berubah. Apa yang sebelumnya terasa ringan menjadi beban yang begitu berat. Tanggung jawab datang silih berganti, utang menumpuk, sementara orang-orang yang dahulu berjalan beriringan perlahan menghilang. Mereka yang sebelumnya terasa dekat, kini seolah tidak lagi mengenal arah untuk pulang. Tidak ada solusi, tidak ada uluran tangan, bahkan sekadar kehadiran untuk menguatkan pun terasa begitu mahal.

Di titik itulah saya mulai memahami sebuah perumpamaan kehidupan:

“JIKA GULA TELAH HABIS, MAKA TIDAK ADA SEMUT YANG BERSEDIA MENDEKAT.”

Sebuah kalimat sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu dalam ketika dialami sendiri. Terkadang, kehadiran seseorang bukan semata-mata karena ketulusan, melainkan karena ada sesuatu yang bisa didapatkan. Ketika keadaan masih menguntungkan, banyak yang datang. Namun, ketika kita kehilangan sesuatu yang dahulu menjadi daya tarik, satu per satu mulai menjauh.

Saya tidak sedang menyalahkan siapa pun. Sebab setiap manusia memiliki kepentingan, pilihan, dan jalan hidupnya masing-masing. Hanya saja, peristiwa ini mengajarkan saya untuk tidak lagi menggantungkan seluruh harapan kepada manusia. Karena berharap kepada manusia terlalu tinggi terkadang hanya akan memperpanjang kekecewaan.

Dari perjalanan yang pahit ini, perlahan saya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar materi yang hilang. Saya menemukan makna tentang kehidupan, tentang keikhlasan, tentang kesendirian, dan tentang bagaimana seseorang seharusnya mengenal dirinya sendiri.

Saya mulai memahami bahwa kehilangan bukan selalu berarti kehancuran. Terkadang, kehilangan adalah cara kehidupan mengajarkan kita untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih. Kesendirian bukan selalu tanda bahwa kita ditinggalkan, tetapi bisa menjadi ruang untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya. Dan penderitaan bukan semata-mata hukuman, melainkan terkadang menjadi jalan untuk menemukan kesadaran yang selama ini tertutup oleh kesibukan dunia.

Saya belajar mendekatkan diri kepada TUHAN. Bukan hanya ketika membutuhkan pertolongan, tetapi juga untuk memahami bahwa ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh kehendak manusia. Saya mulai mengubah pola pikir, membangun kesadaran diri, memperbaiki cara memandang kehidupan, serta belajar menerima kenyataan tanpa harus menyerah pada keadaan.

Sampai hari ini, mungkin persoalan itu belum sepenuhnya selesai. Beban masih ada, tanggung jawab masih harus ditunaikan, dan perjalanan untuk bangkit masih panjang. Namun, setidaknya saya masih diberi kemampuan untuk bertahan. Masih diberi kekuatan untuk melangkah, meskipun terkadang harus berjalan dengan hati yang lelah.

Kini saya mengerti, bahwa tidak semua orang yang pernah berjalan bersama kita ditakdirkan untuk menemani sampai akhir perjalanan. Ada yang hadir hanya ketika keadaan baik, ada yang pergi ketika keadaan sulit, dan ada pula yang datang justru ketika kita sudah tidak memiliki apa-apa.

Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang seberapa banyak orang yang berdiri di samping kita ketika sedang berjaya, melainkan seberapa kuat kita tetap berdiri ketika tidak ada lagi siapa pun yang bisa kita andalkan.Sebab pada saat semua pintu terasa tertutup, saya belajar bahwa masih ada satu pintu yang tidak pernah benar-benar tertutup: pintu untuk kembali kepada TUHAN.

Saya tidak tahu seberapa panjang perjalanan ini akan berlangsung. Saya juga tidak tahu kapan semua beban ini akan menemukan akhirnya. Tetapi satu hal yang mulai saya yakini: saya boleh kehilangan harta, kepercayaan, kesempatan, bahkan orang-orang yang pernah saya anggap sebagai bagian dari perjalanan hidup. Namun, jangan sampai saya kehilangan kesadaran, keyakinan, dan arah untuk menjadi manusia yang lebih baik.Karena terkadang, Tuhan tidak mengubah keadaan kita secepat yang kita harapkan. Tetapi melalui keadaan itulah, Tuhan sedang mengubah diri kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih mengenal arti kehidupan.

Saya tidak sedang bercerita tentang seseorang yang telah berhasil melewati badai. Saya hanya sedang menuliskan kisah seseorang yang masih berada di tengah perjalanan, tetapi memilih untuk tidak berhenti. (Edot Adsant)