![]()
BOYOLALI – Di tengah kehidupan masyarakat modern, sebuah tempat di Dusun Gagatan, Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, masih menyimpan cerita sejarah dan tradisi yang menarik untuk ditelusuri. Tempat tersebut dikenal dengan nama Punthuk Gagatan.
BACA JUGA:
- Punthuk Gagatan di Boyolali, Jejak Kisah Tiga Tokoh Jawa yang Masih Didatangi untuk Berdoa dan Ritual
- Dana Desa Rp90 Juta untuk Talud Krobokan Disorot: Berdiri di Lahan Perhutani, Pemdes Diminta Buka Penjelasan
- SETELAH GEMOLONG DAN KALIJAMBE, KINI TANON DISOROT! Motor Kades Karangasem Terlihat Berpelat Putih, Jawaban “Nanti Kalau Longgar” Mengundang Pertanyaan
- 93 Titik P3TGAI di Wonogiri Aliri 2.661,5 Hektare Lahan, Dukung Ketahanan Pangan
- FORMASA Fest #1 Himpun 67 Ormas di Solo, Budiman Sudjatmiko Bahas Kemiskinan dan Akses Kesejahteraan
Bukan sekadar gundukan tanah atau lokasi yang memiliki nilai sejarah lokal, Punthuk Gagatan hingga kini masih dikunjungi masyarakat untuk berdoa dan melaksanakan ritual sesuai agama maupun kepercayaan masing-masing.
Hal itu disampaikan juru kunci Punthuk Gagatan saat ditemui. Menurut keterangannya, aktivitas kunjungan masyarakat masih berlangsung hingga sekarang. Mereka datang dengan tujuan dan keyakinan masing-masing, menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu tempat yang memiliki arti tersendiri bagi sebagian masyarakat.
Dikaitkan dengan Kisah Tiga Tokoh Sejarah Jawa
Punthuk Gagatan juga memiliki cerita sejarah yang berkembang secara turun-temurun. Dalam tulisan mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro tahun 2022/2023, tempat ini dikaitkan dengan kisah pertemuan tiga tokoh penting dalam sejarah Jawa, yakni Adipati Gagatan Prawirodigdoyo, Pakubuwono VI, dan Pangeran Diponegoro.
Pertemuan ketiga tokoh tersebut dipercaya berkaitan dengan sebuah ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Ati Roto. Ikrar itu dalam cerita setempat dimaknai sebagai tekad untuk melawan penjajahan Belanda.
Informasi mengenai kisah tersebut diperoleh melalui penuturan juru kunci Punthuk Gagatan, Mbah Zaenal Muchizin, sebagaimana dicatat dalam publikasi mahasiswa KKN UNDIP.
Meski demikian, kisah pertemuan ketiga tokoh tersebut masih memerlukan penelitian dan pembuktian melalui arsip sejarah maupun sumber tertulis sezaman agar kronologi dan kebenaran historisnya dapat dipastikan.
Pernah Masuk Pendataan Objek Diduga Cagar Budaya
Keberadaan Punthuk Gagatan juga tercatat dalam dokumen penelitian Pemerintah Kabupaten Boyolali berjudul Identifikasi dan Pengelolaan Cagar Budaya di Kabupaten Boyolali.
Dalam dokumen tersebut, tepatnya pada halaman IV-121, Punthuk Gagatan tercantum sebagai salah satu objek yang diduga memiliki nilai cagar budaya di Kecamatan Wonosegoro.
Lokasinya disebut berada di Dusun Gagatan, Desa Ketoyan. Objek tersebut dideskripsikan sebagai punthuk atau gundukan yang dianggap sakral dan memiliki keterkaitan dengan Keraton Surakarta.
Pencatatan tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa Punthuk Gagatan memiliki nilai sejarah dan budaya lokal yang patut mendapat perhatian.
Namun, pencatatan sebagai objek yang diduga cagar budaya tidak serta-merta berarti tempat tersebut telah ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya.
Menjadi Bagian dari Warisan Budaya Lokal
Selain kisah mengenai tiga tokoh Jawa, terdapat pula cerita masyarakat tentang tiga batu yang dipercaya berasal dari kawasan Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu.
Cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang berkembang di sekitar Punthuk Gagatan. Kebenaran asal-usul batu maupun keterkaitannya dengan peristiwa sejarah masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Keberadaan Punthuk Gagatan memperlihatkan bagaimana sebuah tempat dapat menyimpan beragam lapisan sejarah, tradisi, keyakinan, dan ingatan kolektif masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, keberlanjutan kunjungan masyarakat untuk berdoa dan melaksanakan ritual sesuai keyakinan masing-masing menunjukkan bahwa tempat tersebut masih memiliki makna sosial dan budaya bagi sebagian warga.
Karena itu, penelusuran sejarah Punthuk Gagatan perlu dilakukan secara lebih serius dengan melibatkan pemerintah desa, pemerintah daerah, pemerhati sejarah, tokoh masyarakat, serta para sesepuh yang masih menyimpan cerita masa lalu.
Dokumentasi dan penelitian yang lebih mendalam diharapkan dapat membantu mengungkap sejarah Punthuk Gagatan sekaligus menjaga warisan budaya lokal Desa Ketoyan agar tidak hilang ditelan zaman.
Tim Redaksi
PRESS ROOM CAFFE
-
Punthuk Gagatan di Boyolali, Jejak Kisah Tiga Tokoh Jawa yang Masih Didatangi untuk Berdoa dan Ritual -
Dana Desa Rp90 Juta untuk Talud Krobokan Disorot: Berdiri di Lahan Perhutani, Pemdes Diminta Buka Penjelasan -
SETELAH GEMOLONG DAN KALIJAMBE, KINI TANON DISOROT! Motor Kades Karangasem Terlihat Berpelat Putih, Jawaban “Nanti Kalau Longgar” Mengundang Pertanyaan -
93 Titik P3TGAI di Wonogiri Aliri 2.661,5 Hektare Lahan, Dukung Ketahanan Pangan -
FORMASA Fest #1 Himpun 67 Ormas di Solo, Budiman Sudjatmiko Bahas Kemiskinan dan Akses Kesejahteraan
BERITA VIRAL
-
Punthuk Gagatan di Boyolali, Jejak Kisah Tiga Tokoh Jawa yang Masih Didatangi untuk Berdoa dan Ritual

BOYOLALI – Di tengah kehidupan masyarakat modern, sebuah tempat di Dusun Gagatan, Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, masih menyimpan cerita sejarah dan tradisi yang menarik untuk ditelusuri. Tempat tersebut dikenal dengan nama Punthuk Gagatan. BACA JUGA: Bukan sekadar gundukan tanah atau lokasi yang memiliki nilai sejarah lokal, Punthuk Gagatan hingga kini masih dikunjungi masyarakat…
-
Dana Desa Rp90 Juta untuk Talud Krobokan Disorot: Berdiri di Lahan Perhutani, Pemdes Diminta Buka Penjelasan

LINTASINDONEWS BOYOLALI – Pembangunan talud jalan di Desa Krobokan, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, yang dibiayai Dana Desa (DD) tahun anggaran 2026 senilai Rp90 juta, mulai menjadi sorotan. Bukan hanya terkait kualitas fisik bangunan, tetapi juga menyangkut kejelasan status lahan yang digunakan, lantaran lokasi pembangunan disebut berada di atas tanah milik Perhutani. Persoalan tersebut semakin menarik…
-
SETELAH GEMOLONG DAN KALIJAMBE, KINI TANON DISOROT! Motor Kades Karangasem Terlihat Berpelat Putih, Jawaban “Nanti Kalau Longgar” Mengundang Pertanyaan

LINTASINDONEWS LINTASINDONEWS | SRAGEN – Persoalan penggunaan pelat nomor putih pada sepeda motor yang diduga merupakan kendaraan dinas kepala desa kembali menjadi perhatian. Setelah sebelumnya mencuat di wilayah Kecamatan Gemolong dan Kalijambe, kini temuan serupa muncul di Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. BACA JUGA: Kali ini, sorotan mengarah ke Desa Karangasem. Pada Sabtu (31/10/2026),…