Membuka Tirai Kebenaran

Destinasi Wisata Tirta Kedungombo, Bikin Sejuk di Mata Meski Baru Lhaunching.

3 min read

Destinasi Wisata Tirta Kedungombo

LINTASINDONEWS.com, SRAGEN – Waduk Kedungombo adalah salah satu waduk besar yang ada di Indonesia. Waduk Kedungombo terletak di perbatasan tiga kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.

Saat santai bersama, dari kiri Karya Asper Perhutani, Danramil Geyer Agus MW, Ari Setyawan Mantri Perhutani Gundi, dan Minarno Direktur Wisata Tirta Kedungombo. Jumat (21/2).

Kali ini ada wisata baru yang telah Lhaunching tanggal 14 Februari 2020 minggu kemarin. Ide dan gagasan ini muncul dari pihak Perhutani dan Minarno seorang investor di bidang bisnis asli pribumi, lahan wisata ini seluas 10 hektar yang terhampar luas di lahan perhutani.

Secara geografis wisata ini terletak di Desa Kalangbancar Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Wisata ini sangat mudah di jangkau baik dari boyolali, grobogan dan sragen.

Di sertai angin sepoi – sepoi dan di bawah pohon jati yang rindang, tim media lintasindo berbincang – bincang dengan Minarno selaku manager, di salah satu galabo dengan di buat secara sederhana, dari bambu serta di balut dengan ikatan anyaman enceng gondok produksi lokal sekitar.

Tempat taman bunga yang siap di bangun

Dalam ungkapannya, Minarno berharap wisata ini bisa memberi edukasi tentang wisata kuliner dengan jumlah 27 warung hasil tambak ikan asli kedungombo, dengan peralatan sederhana, berupa gentong, siwur, cobek tanah dan sebagainya.

“Kami ingin memberi edukasi  back to nature  (kembali ke alam), agar anak usia dini mengenal kembali ke zaman dulu, dimana peralatan dapur tradisional tetap di kenal dan tetap lestari, “jelasnya. Jumat (21/2). 

Masih apa kata Minarno, dirinya memiliki mandset destinasi wisata banyak belajar dan mengadopsi dari wilayah lain.

“Saya sempat juga belajar bagaimana caranya membuat peluang usaha di bidang wisata, seperti yang pernah saya lakukan saat studi banding di daerah ngargoyoso kabupaten karanganyar, ” Ujarnya.

” Kami berharap kedepan bisa menjadi seperti yang disana, wisata yang bisa menyenangkan masyarakat, baik dari lokal maupun luar daerah, “imbuhnya.

Selain itu, dalam megimplementasikan tujuan kedepan winarno juga memiliki visi,  yakni:
1. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Setempat.
2. Pembangunan Karakter Intelektuakitas Masyarakat Desa Setempat.
3. Mewarisksn Jiwa Patriotisme  Pada Anak Cucu.
4. Memakmurkan Masyarakat Dengan
Memanfaatkan Potensi Desa.

Selanjutnya, untuk motivasi dalam bekerja, Minarno membuat hastag #Etos Kerja Nyata, #Bangkitkan ekonomi dan  #Bangkit dan
bangunlah desamu.

Di kesempatan yang sama, Karya Selaku Asper/KBKPH Juworo KPH Gundi memberi pernyataan senada, pihak perhutani sangat respek tentang wisata ini.

Dia katakan program ini meneruskan program wisata milik perhutani dengan masyarakat sekitar yang sempat tertunda. Selain itu, Karya juga berharap wisata ini tidak monoton, kedepan ada tempat meeting untuk pertemuan dengan konsep warung apung.

” Kami inginnya speed (cepat) akan lebih baik, agar wisata ini bisa cepat terwujud, “jelasnya.

Sementara itu, Ari Setyawan  selaku Mantri KRPH Kedungombo BKPH Juworo KPH Gundi, didampingi dari pihak koramil geyer, menyampaikan awal mula ide dan gagasan dalam pemanfaatan lahan hutan yang tidak produktif menjadi destinasi wisata.

Dalam paparannya, Ari yang mulai bertugas di wilayah ini sejak tahun 2017, menceritakan awal mula bertemu dengan Investor dari masyarakat setempat. Ketika itu Ari berkomunikasi dengan salah satu Kadus setempat, dan akhirnya di respon dengan di pertemukan dengan investor.

“Kami di pertemukan dengan Pak Minarno yang ternyata masih ada hubungan family, akhirnya kami sepakat mengurus ijin hingga tiga bulan kemudian, tepatnya awal 2019 ijin itu keluar, ” Ungkap pria asal rembang ini.

Di tempat yang sama, Danramil Geyer Agus Munarwanto memberi apresiasi yang tinggi. Kedepan ia berharap agar masyarakat mampu mempertahankan hingga menjadi aset wisata jangka panjang.

Dia menilai, wisata desa akan berkembang tergantung masyarakat sekitar. Yakni dengan menjaga keramahan, baik ramah lingkungan dan ramah harga.

“Jangan sampai para wisatawan di buat kapok, hanya karena tidak ada keramahan, baik ramah lingkungan maupun ramah harga, jika harga terjangkau pasti wisatawan tidak akan bosan untuk datang lagi di wilayah ini, “ujar Agus.

Dia katakan lagi, saat di tanya apresiasi tentang wisata ini, Agus sangat mendukung dan berharap bisa menjadi ikon wisata di wilayah grobogan bagian selatan. (Tim

Saat bincang – bincang dengan tim media lintasindo
SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.