![]()
DESA SAREN
SRAGEN, 28 April 2026 — Di sudut tenang , kehidupan berjalan dengan ritme yang sederhana namun hangat. Desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah ini menyimpan kisah tentang kepemimpinan yang tidak berjarak—kepemimpinan yang tumbuh dari kebersamaan.

“Tampak Balai Desa Yang Baru Saja Dibangun”
Sosok itu adalah , Kepala Desa Saren yang dikenal apa adanya. Ia bukan tipe pemimpin yang berdiri di atas menara, melainkan berjalan sejajar dengan warganya. Baginya, tidak ada sekat antara kalangan bawah maupun atas—semua adalah bagian dari keluarga besar desa.
Dalam kesehariannya, Mustajab lebih sering terlihat berbaur. Ia duduk santai di angkringan, menyeruput wedang hangat, sambil mendengarkan cerita-cerita kecil warga. Dari obrolan ringan itulah, aspirasi besar kerap lahir.
“Kadang kami hanya ngobrol biasa, tapi Pak Kades selalu serius mendengarkan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya. “Mustajab adalah pemimpin yang selalu mendengarkan aspirasi masyarakat desa. Beliau itu rendah hati, low profile.”
Gaya kepemimpinan Mustajab memang sederhana, namun justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak membangun jarak, melainkan jembatan. Ia tidak memerintah dari jauh, tetapi hadir di tengah-tengah.
Bagi Mustajab, membangun desa bukanlah pekerjaan satu orang. Ia percaya bahwa kemajuan adalah hasil dari gotong royong seluruh elemen masyarakat. Bersama perangkat desa, ia merangkul warga untuk bergerak bersama, menyusun mimpi, dan mewujudkannya sedikit demi sedikit.
“Terima kasih untuk seluruh masyarakat Desa Saren. Tanpa partisipasi dan kebersamaan, saya tidak bisa bekerja sendiri,” tutur Mustajab dengan nada tulus.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan tekad yang kuat: menjadikan Desa Saren sebagai rumah yang nyaman bagi semua. Tempat di mana suara sekecil apa pun tetap didengar, dan setiap langkah kecil tetap berarti.
Di bawah langit Saren yang teduh, Mustajab tidak sekadar memimpin—ia menyatu. Menjadi bagian dari denyut desa, menenun harapan bersama warganya, satu cerita kecil dalam satu waktu.

- Papan Informasi Revitalisasi SDN 2 Pulokulon Disebut Tak Terpasang, Pekerja Disorot soal APD
- Mahasiswi Serang Tewas Usai Karaoke di PIK 2, Pemerhati THM Soroti Wilayah Hukum dan Desak Evaluasi Izin
- Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan
- Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak
- Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan
-
Papan Informasi Revitalisasi SDN 2 Pulokulon Disebut Tak Terpasang, Pekerja Disorot soal APD -
Mahasiswi Serang Tewas Usai Karaoke di PIK 2, Pemerhati THM Soroti Wilayah Hukum dan Desak Evaluasi Izin -
Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan -
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa PPG UST Perkuat Literasi-Numerasi Anak -
Rp500 Ribu Bukan Kewajiban? Surat Edaran MIN 1 Karanganyar Membuka Babak Baru Polemik Sumbangan
-
Papan Informasi Revitalisasi SDN 2 Pulokulon Disebut Tak Terpasang, Pekerja Disorot soal APD

JEJAK KASUS GROBOGAN – Pelaksanaan pekerjaan revitalisasi di SDN 2 Pulokulon, Kabupaten Grobogan, menjadi perhatian setelah muncul keluhan terkait keterbukaan informasi proyek dan penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh para pekerja di lokasi. Keluhan tersebut disampaikan seorang warga bernama Ali Grobogan kepada media pada Selasa (16/9/2026). Ia meminta kondisi di lokasi tersebut mendapat perhatian publik…
-
Dukungan Mengalir, Pengecoran Ponpes Sapu Jagad Gemolong Terus Berjalan

SUARA ORMAS SRAGEN — Pembangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Sapu Jagad di wilayah Gemolong, Sragen, terus bergulir. Proses pengecoran tiang bangunan yang dilakukan pada Rabu, 10 September 2026, berjalan dengan dukungan dari berbagai pihak. Semangat gotong royong terlihat dalam proses pembangunan tersebut. Sejumlah insan pers, pembina nasional Sapu Jagad, serta sejumlah pihak yang tergabung dalam wadah…


