![]()
LINTASINDONEWS
PALEMBANG — Pemerintah mulai menjajaki pendekatan baru untuk mengatasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi es kering atau dry ice diuji coba di Palembang, Sumatera Selatan, sebagai upaya membantu mengurangi penumpukan kabut asap yang mengganggu jarak pandang dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman meninjau kesiapan penerapan perdana teknologi tersebut di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga:
- Dry Ice Diuji Atasi Kabut Asap Karhutla di Palembang, Solusi Baru atau Masih Menunggu Pembuktian?
- Penjara Bukan Apartemen Koruptor: RUU Perampasan Aset Jangan Berakhir Menjadi Janji Politik
- Dari Sepiring Pecel untuk Rakyat: Satlantas Trenggalek Buktikan Kepedulian Bisa Menggerakkan Ekonomi Lokal
- Kapolri Baru, Mutasi Besar-besaran, dan Pemberantasan Kampung Narkoba: Momentum Perubahan atau Ujian Konsistensi?
- Dugaan Praktik Bank Titil di Solo Disorot, Warga Mengaku Tertekan Penagihan: Legalitas dan Mekanismenya Dipertanyakan
Langkah ini menjadi perhatian karena penanganan karhutla tidak hanya menyangkut upaya memadamkan api, tetapi juga bagaimana mengurangi dampak asap yang dirasakan masyarakat di kawasan terdampak.
Namun, di tengah harapan terhadap pemanfaatan teknologi tersebut, efektivitas dry ice tetap perlu dibuktikan melalui hasil pengujian yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berbeda dengan Modifikasi Cuaca
Menko Polkam menjelaskan, teknologi dry ice diujicobakan untuk membantu mengurangi penumpukan kabut asap di lapisan bawah atmosfer.
Pendekatan ini berbeda dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yang bertujuan merangsang turunnya hujan untuk membantu proses pemadaman kebakaran.
Jika OMC diarahkan untuk mendukung penanganan sumber kebakaran, penerapan dry ice difokuskan pada upaya mengurangi dampak kabut asap, terutama di kawasan perkotaan dan wilayah sekitarnya.
Pemerintah menempatkan teknologi ini sebagai salah satu alternatif dalam memperkuat penanganan dampak karhutla. Meski demikian, pengurangan kabut asap di atmosfer tidak serta-merta berarti sumber kebakaran telah berhasil dikendalikan.
Karena itu, penerapan teknologi tersebut perlu berjalan beriringan dengan pemadaman di lokasi kebakaran, pencegahan titik api baru, serta pemantauan kualitas udara.

Sumatera Selatan Jadi Lokasi Uji Coba Perdana
Penerapan teknologi dry ice tersebut merupakan tindak lanjut instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto untuk mempercepat penanganan dampak karhutla.
Sumatera Selatan dipilih sebagai lokasi pertama uji coba teknologi ini di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, pemerintah merencanakan penyebaran sebanyak 1,5 ton dry ice menggunakan pesawat.
Operasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan jarak pandang yang semula berada di kisaran 1.000 meter menjadi 5.000 meter atau lebih.
Target tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi keberhasilan uji coba. Pengukuran sebelum dan sesudah penerapan, kondisi atmosfer, serta perubahan konsentrasi partikel pencemar dapat membantu memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai hasil operasi.
Peningkatan jarak pandang memang penting bagi keselamatan aktivitas masyarakat dan transportasi. Namun, jarak pandang yang membaik tidak selalu menunjukkan bahwa kualitas udara telah pulih atau risiko kesehatan akibat asap sudah berakhir.
Oleh sebab itu, hasil pengujian idealnya disertai data pemantauan kualitas udara dan penjelasan mengenai kondisi cuaca selama pelaksanaan operasi.
Harapan Pemerintah dan Pentingnya Evaluasi Ilmiah
Apabila terbukti efektif, metode serupa akan dipertimbangkan untuk diterapkan di wilayah lain yang terdampak karhutla, termasuk Kalimantan Tengah.
Rencana tersebut menunjukkan adanya upaya mencari pendekatan tambahan dalam menghadapi persoalan kabut asap yang kerap menjadi tantangan saat kebakaran hutan dan lahan terjadi.
Di sisi lain, penerapan teknologi baru juga membutuhkan evaluasi yang terbuka. Masyarakat perlu memperoleh informasi mengenai mekanisme kerja dry ice dalam kondisi atmosfer setempat, indikator keberhasilan, potensi keterbatasan, serta hasil pengukuran yang mendasari keputusan untuk memperluas penerapannya.
Penilaian dari pakar atmosfer, meteorologi, dan kualitas udara juga penting untuk membantu menjelaskan apakah perubahan jarak pandang benar-benar berkaitan dengan penerapan teknologi tersebut atau turut dipengaruhi faktor cuaca lainnya.
Hal ini bukan untuk mengurangi arti inovasi pemerintah, melainkan memastikan bahwa kebijakan yang menyangkut keselamatan publik didukung oleh bukti yang memadai.
Hingga hasil uji coba dan evaluasi ilmiah dipublikasikan, efektivitas dry ice dalam mengurai kabut asap di Palembang masih perlu dinilai berdasarkan data lapangan.
Koordinasi Lintas Instansi Diperkuat
Dalam kegiatan tersebut, Menko Polkam didampingi Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan, Sekretaris Kemenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, serta jajaran terkait.
Pemerintah terus mengoptimalkan berbagai langkah penanganan karhutla melalui pemadaman, pemanfaatan teknologi, dan koordinasi lintas instansi guna melindungi kesehatan serta keselamatan masyarakat.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena persoalan karhutla memiliki dimensi yang luas, mulai dari penanganan api, dampak lingkungan, gangguan aktivitas masyarakat, hingga risiko kesehatan akibat paparan asap.
Keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya tidak cukup diukur dari penggunaan teknologi baru atau meningkatnya jarak pandang dalam periode tertentu. Hasil yang lebih menyeluruh perlu dilihat dari pengendalian sumber kebakaran, membaiknya kualitas udara, serta berkurangnya dampak yang dirasakan masyarakat.
Teknologi dry ice kini membuka peluang baru dalam penanganan kabut asap. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa harapan tersebut didukung hasil nyata, pengujian yang transparan, dan perlindungan masyarakat yang tetap menjadi prioritas utama.
Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang disampaikan Kemenko Polkam. Hasil pengujian, data kualitas udara, dan penilaian pakar independen perlu ditambahkan setelah tersedia untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap kepada publik.
Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan
PRESS ROOM CAFFE
-
Dry Ice Diuji Atasi Kabut Asap Karhutla di Palembang, Solusi Baru atau Masih Menunggu Pembuktian? -
Penjara Bukan Apartemen Koruptor: RUU Perampasan Aset Jangan Berakhir Menjadi Janji Politik -
Dari Sepiring Pecel untuk Rakyat: Satlantas Trenggalek Buktikan Kepedulian Bisa Menggerakkan Ekonomi Lokal -
Kapolri Baru, Mutasi Besar-besaran, dan Pemberantasan Kampung Narkoba: Momentum Perubahan atau Ujian Konsistensi? -
Dugaan Praktik Bank Titil di Solo Disorot, Warga Mengaku Tertekan Penagihan: Legalitas dan Mekanismenya Dipertanyakan
BERITA VIRAL
-
Dry Ice Diuji Atasi Kabut Asap Karhutla di Palembang, Solusi Baru atau Masih Menunggu Pembuktian?

LINTASINDONEWS PALEMBANG — Pemerintah mulai menjajaki pendekatan baru untuk mengatasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi es kering atau dry ice diuji coba di Palembang, Sumatera Selatan, sebagai upaya membantu mengurangi penumpukan kabut asap yang mengganggu jarak pandang dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.)…
-
Penjara Bukan Apartemen Koruptor: RUU Perampasan Aset Jangan Berakhir Menjadi Janji Politik

LINTASINDONEWS oleh: Sugeng Rianto – Pemerhati Kebijakan Publik Kasus fasilitas mewah di Lapas Cibinong kembali mengusik rasa keadilan masyarakat. Di satu sisi, rakyat dituntut taat hukum dan negara berulang kali menyatakan perang terhadap korupsi. Di sisi lain, muncul laporan mengenai fasilitas menyerupai apartemen dan vila di lingkungan pemasyarakatan. Baca Juga: Persoalannya bukan sekadar keberadaan televisi,…
-
Dari Sepiring Pecel untuk Rakyat: Satlantas Trenggalek Buktikan Kepedulian Bisa Menggerakkan Ekonomi Lokal

LINTASINDONEWS OPINI Di tengah tuntutan masyarakat agar institusi kepolisian semakin dekat dengan rakyat, kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar dengan anggaran fantastis. Terkadang, langkah sederhana seperti membeli makanan dari pedagang kecil, kemudian membagikannya kepada masyarakat, justru menghadirkan pesan kemanusiaan yang kuat. Inilah makna yang dapat dipetik dari program Dahar Gratis yang dijalankan jajaran…