Membuka Tirai Kebenaran

Kekerasan Seks: Dapat Ancaman 12 Tahun Penjara Bagi Pelaku Oral Seks

2 min read

Gambar model ilustrasi pihak ketiga

LintasIndoNews.com | Jakarta, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menargetkan segera mengesahkan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) sebelum masa kerja DPR periode 2014-2019 berakhir di bulan September 2019.

Anggota DPR periode 2019-2024 akan dilantik pada 1 Oktober 2019.

RUU KUHP ini juga memuat bagian mengenai bagian Kekerasan Seksual. Mengenai Bagian Kekerasan Seksual masuk dalam BAB XXII Tindak Pidana Terhadap Tubuh.

Baca Juga:

• KSP Sarankan Dewan Pers Cabut Pemblokiran Internet di Papua

• Kasus Novel Baswedan Tak Tuntas, Bisa Jadi Penakar Perlindungan Hukum & HAM Indonesia Masih Sangat Lemah

Pendukung Cakades Pendem Suradi SH, Rois Hidayat: Kami Dukung Anti Poltik Uang

Menurut draft akhir RUU KUHP yang diterima Tribunnews.com, dijelaskan arti dari pemerkosaan.

“Setiap Orang yang dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya dipidana karena melakukan perkosaan,” demikian bunyi Pasal 480.

Sedangkan dalam KUHP yang masih kita pakai sampai sekarang, dalam Pasal 285 KUHP berbunyi:

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling
lama dua belas tahun”

Artinya, pelakunya adalah laki-laki dan masuknya alat kelamin laki-laki ke alat kelamain perempuan.

Namun dalam RUU KUHP, terjadi pergeseran atau perluasan makna atau arti, tidak hanya alat kelamin laki-laki masuk ke alat kelamin perempuan.

Namun juga mencakup perbuatan Oral Sek, anal, maupun perbuatan yang memasukkan anggota tubuh atau alat ke dalam alat kelamin perempuan/anal/mulut (oral).

Tindakan perkosaan ini juga mengalami perluasan arti, suami bisa juga dinyatakan melakukan perkosaan ke istrinya dalam rumah tangga.

Berikut petikan Pasal 480 ayat (2) mengenai defenisi perkosaan:

(2) Termasuk Tindak Pidana perkosaan dan dipidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perbuatan:

a. persetubuhan dengan seseorang dengan persetujuannya, karena orang tersebut percaya bahwa orang itu merupakan suami/istrinya yang sah;

b. persetubuhan dengan Anak; atau

c. persetubuhan dengan seseorang, padahal diketahui bahwa orang lain tersebut dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.

Juga pada Pasal 480 ayat (3):

(3) Dianggap juga melakukan Tindak Pidana perkosaan, jika dalam keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan perbuatan cabul berupa:

a. memasukkan alat kelamin ke dalam anus atau mulut orang lain;

b. memasukkan alat kelamin orang lain ke dalam anus atau mulutnya sendiri; atau

c. memasukkan bagian tubuhnya yang bukan alat kelamin atau suatu benda ke dalam alat kelamin atau anus orang lain.

Mereka pelaku perkosaan tersebut, berdasarkan Pasal 480 ayat (1) bisa dipidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.

“Setiap Orang yang dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.”

Sumber: TribunNews.com

SHARE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.